(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Iwan Fals dalam Lagu Religius

Khazanah

Salah satu kebanggaan sebagai warga UIN Sunan Ampel, dulu IAIN Sunan Ampel, adalah kampus ini pernah menjadi tempat manggung Iwan Fals yang dihadiri oleh ribuan penggemarnya. Oi adalah para penggemar Iwan Fals yang selalu hadir di mana saja Iwan Fals manggung tidak terkecuali di IAIN Sunan Ampel Surabaya, tahun 2010 yang lalu. Pantaslah pada waktu itu, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur khawatir, sebab bagi jajaran Polda, hanya ada dua lapangan saja yang mampu menampung penggemar Iwan Fals, yaitu Lapangan Makodam dan Lapangan Tambaksari. Makanya, sebelum acara digelar, kami sempat dipanggil untuk memastikan bahwa pagelaran ini aman dan terkendali. Tidak tanggung-tanggung Kepolisian pun menerjunkan sebanyak 300 personil dalam mengawal acara ini. 

  

Saya telah menulis tiga tulisan  dalam kaitannya dengan pagelaran Iwan Fals di IAIN Sunan Ampel kala itu di Blog pribadi saya, nursyam.uinsby.ac.id. Tiga tulisan tersebut berjudul: “Konser Iwan Fals, Mengaji dan Bermusik”, “Iwan Fals: Pendidikan Lingkungan” dan “Iwan Fals: Musik Berbasis Moralitas”. Konser tersebut diselenggarakan pada 4 November 2010. Acara ini diselenggarakan berkat kerja sama antara Iwan Fals, Dr. Sastro dan IAIN Sunan Ampel. Tema dalam tour musik Iwan Fals adalah “Perjalanan Spiritual Iwan Fals”. 

  

Iwan Fals dikenal sebagai penyanyi yang menyuarakan kritik terjadap situasi sosial di sekelilingnya. Dijadikannya peristiwa-peristiwa sosial di sekelilingnya sebagai lirik lagunya. Satu lagunya yang hingga hari ini masih sering didengar oleh para penggemarnya adalah “Omar Bakri”, yang bercerita tentang nasib para guru. Guru adalah orang yang sangat berjasa dalam rangka pemberdayaan manusia Indonesia, namun nasibnya tidak karuan. Kritik sosial yang dilantunkannya tentu sangat menginspirasi tentang perbaikan nasib guru, sehingga akhirnya nasib guru menjadi terangkat berkat program sertifikasi guru yang dilakukan oleh pemerintah. 

  

Tidak hanya lagu “Guru Omar Bakri” yang berisi kritik sosial. Lagu yang berjudul “Bongkar” menggambarkan tentang peminggiran dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat kecil. Sebagai pemusik, Iwan Fals menghadirkan musiknya yang bernuansa kritik dengan memparodikan keadaan di sekelilingnya. Kemudian, “Lagu Buat Wakil Rakyat” juga merupakan kritik terhadap para wakil rakyat yang tidak peka terhadap kepentingan rakyat tetapi lebih peka terhadap kepentingan pejabat. Lagu ini mengkritik para anggoa legislative yang lebih banyak diam dalam menyikapi terhadap ketidakadilan, kesewenang-wenangan, peminggiran rakyat dan sebagainya. Termasuk lagunya yang berjudul “Tikus-Tikur Kantor” juga menggambarkan betapa para pejabat menggerogoti uang negara untuk kepentingan diri sendiri. Uang pembangunan yang seharusnya digunakan untuk menyejahterakan rakyat justru digunakan untuk kepentingan pribadi  melalui tindakan koruptif. 

  

Lagu-lagu yang diciptakannya pada saat pemerintahan Orde Baru ini memberikan gambaran tentang dunia music juga sesungguhnya bisa menjadi alat untuk menyuarakan kritik konstruktif atas peminggiran masyarakat kecil, dan juga merepresentasikan mereka yang tidak bisa bersuara nyaring. Music bisa menjadi bahasa universal untuk menyuarakan ketidakadilan, keterpinggiran dan bahkan ketertinggalan. Musik bisa menjadi sarana untuk menyuarakan atas tindakan pemerintah atau siapapun yang bertentangan dengan kemanusiaan.    

  

Di antara lagu yang ingin saya bahas secara ringkas adalah lagu yang berjudul “Ibu”. Lagu tersebut sebagai berikut: “Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu, Ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah dan penuh nanah, seperti udara, kasih yang engkau berikan, Tak mampu ku membalas, Ibu…Ibu, Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu, lalu doa-doa. Baluri sekujur tubuhku, dengan apa membalas, Ibu…Ibu”.

  

Lirik lagu ini menggambarkan betapa beratnya tugas seorang Ibu dalam membesarkan anak-anaknya. Jika dihitung maka jutaan langkah yang sudah ditempuh oleh seorang Ibu untuk membesarkan anak-anaknya. Pengorbanan seorang ibu itu digambarkan sampai kaki melepuh, berdarah  dan bernanah. Kasih sayang Ibu itu seperti udara yang selalu dihirup tanpa menuntut balas. Gambaran kasih sayang seorang Ibu yang tidak pernah meminta untuk dibalas. Kasih sayang itu tidak pernah berhenti sekalipun seorang anak sudah menjadi dewasa. Bahkan anak yang dewasa pun masih berkeinginan selalu dalam pelukan seorang Ibu. Ibu itu tidak pernah lelah berdoa agar anaknya dapat mencapai derajat yang membahagiakan.

  

Saya merasakan bahwa lirik lagu ini diinspirasikan dari sebuah hadits Nabi Muhammad saw, tentang siapa orang yang seharusnya dihormati di dunia ini dan seterusnya. Nabi Muhammad SAW memberikan penjelasan bahwa yang paling utama dihormati adalah seorang Ibu. Bandingkan dalam hadits itu  seorang Ibu dihormati dalam tiga kali ungkapan dan seorang ayah sekali ungkapan. Hadits Nabi Muhammad SAW ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dengan status hadits yang shahih. Artinya, hadits ini merupakan benar-benar pernyataan Rasulullah Muhammad SAW yang harus dijadikan sebagai pedoman di dalam kehidupan.

  

Oleh karena itu tidak salah jika saya menyatakan bahwa ada nafas religiusitas di dalam lirik lagu yang didendangkan oleh Iwan Fals di dalam menyenandungkan lagu Ibu. Dan meskipun musik Iwan Fals termasuk genre pop rock, tetapi nafas keagamaan itu secara sengaja ingin dihadirkan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.