Tips Menumbuhkan Literasi Sejak Dini
InformasiDi era digital saat ini bermain gadget lebih menarik perhatian anak daripada bermain di dunia literasi. Hingga memerlukan langkah-langkah tersendiri dan serius untuk membangun budaya literasi di Indonesia, yang mana dimulai dari lingkungan keluarga.
Berdasarkan data yang dilansir dari sumber World's Most Literate Nation Ranked 2016 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam minat baca. Bahkan berdasar pada Program For International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization For economic Co-Operation and Development (OECD) tahun 2019, Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara.
Membangun budaya literasi memang perlu dimulai sejak dini. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Dewi Savitri lulusan program magister Psikologi Islam Universitas Indonesia mengatakan, literasi begitu penting bagi anak. Sebab, melalui membaca anak dapat mengenal dunia di luar dirinya. Ia juga mengatakan bahwa buku merupakan jendela dunia.
"Bahkan dalam agama Islam diajarkan yang paling utama adalah iqro' yang artinya bacalah. Baca disini tidak hanya membaca buku ya. Tapi, juga membaca alam dan karakter orang," ucap wanita berkacamata yang juga pernah menjadi Dosen Psychology in Teaching di Oxford Course Indonesia di tahun 2007-2011.
Membangun budaya literasi harus dilakukan sedini mungkin secara bertahap. Demikian disampaikan Dewi, khusus anak memang pertama dimulai dengan tahapan mengenal buku terlebih dahulu. Kemudian, baru anak diajak untuk belajar membaca.
"Kan ada anak yang baru pegang buku yang covernya bagus dan tebal. Nah, nanti kalo misalnya udah mengenal bahan buku, baru nanti mengenal kata atau kalimat. Baru mulai berlatih membaca," ujarnya.
Niat dan Kerja Sama
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membangun budaya literasi anak, yaitu pertama, niat. Dewi pun menyampaikan bahwa hal utama yang terpenting adalah niat. Setelah itu, baru orang tua terlebih dahulu memberi contoh pada anak dengan senang membaca. Maka, kata Dewi, anak pun juga akan ikut senang membaca.
Baca Juga : Waspada Gangguan Kesehatan Mental Mahasiswa Saat Pandemi
"Ya kalo kita mau ngajak anak suka membaca. Jadi kitanya sebagai orang tua juga perlu suka membaca. Sementara, kedua orang tua perlu bekerja sama untuk menciptakan satu waktu yang mana khusus waktu membaca anak di rumah," imbuhnya.
Ciptakan Lingkungan Cinta Literasi
Lebih lanjut Dewi mengatakan bahwa tahapan kedua yang dapat dilakukan, yaitu menciptakan lingkungan cinta membaca. Di samping itu, anak juga perlu stimulus berupa ajakan membaca yang datang dari orang tua secara langsung.
"Jadi memang perlu mengajak anak, seperti 'Ayo membaca!' atau 'Ayo nanti sore kita duduk yuk baca buku sambil minum es teh manis!'. Jadi dengan ajakan yang lembut. Semantara, membaca buku tidak harus duduk. Bisa sambil memasak, ibu dapat menuliskan cara-cara memasak di buku. Kemudian ajak anak untuk memulai memasak dengan mengikuti cara-cara yang sudah ditulis," tuturnya.
Ajak Bermain di Tempat Literasi
Sedang, bila sarana dan prasarana membaca tak tersedia di rumah. Orang tua dapat mengajak anak ke Perpustakaan terdekat yang ada. Tak hanya itu, orang tua juga bisa mengajak ke tempat-tempat yang mendukung pada literasi anak. Seperti yang disampaikan Dewi, orang tua dapat mengajak anak-anak ke tempat yang ramai sekalipun, seperti mall. Hanya saja yang perlu dilakukan orang tua, yaitu mengarahkan anak untuk bermain ke toko buku.
"Jadi bisa pergi ke Perpustakaan atau toko buku. Bisa juga ke taman yang menyedian taman bacaan untuk menumbuhkan cinta membaca pada anak. Jadi tidak hanya keluar akan tetapi yang menjurus ke literasi. Bisa juga saat kita belanja ke toko sembako, bisa minta tolong anak untuk mencarikan bahan-bahannya. Tentu tanpa sadar kita telah mengajak anak untuk belajar membaca," pungkasnya.
Literasi memang sangat berpengaruh pada pembentukan karakter anak. Dewi pun mengatakan bahwa Setiap karakter anak yang senang membaca tentu berbeda dengan anak yang tak senang membaca. Misalnya, dari hal yang sederhana, yaitu saat anak mulai senang memegang buku. Hal tersebut sejatinya sudah dapat menambah wawasan anak. Akhirnya berujung memancing anak untuk berimajinasi.
"Misalnya ada gambar gajah besar dan gambar anak yang lebih kecil. Jadi bisa berimajinasi. Oh ya ternyata ada hewan yang lebih besar daripada kita. Selain itu, juga melihat gambar Bunga, anak jadi mengenal warna-warna. Jadi pengaruhnya besar," jelasnya.
Demikian karakter anak yang suka membaca cenderung lebih tenang. Hal ini disampaikan Dewi, anak yang suka membaca lebih tenang saat mengambil keputusan. Terlebih bahan bacaan yang dibaca merupakan bacaan yang mendidik.
"Bahkan melalui membaca, suatu hal yang dipertanyakan oleh anak kepada orang tua. Namun, orang tua belum dapat menyampaikannya. Maka, jawaban tersebut dapat terwakilkan melalui buku," pungkasnya. (Nin)

