Karomah KH. Abu Amar Pasuruan
KhazanahOleh : Syaikhul Hadi
Mahasiswa Program Doktor UINKHAS Jember
Pasuruan salah satu kota di wilayah tapal kuda Provinsi Jawa Timur. Kota ini terletak kurang lebih 60 km dari kota Surabaya. Pasuruan dikenal sebagai kota santri yang banyak menyimpan mutiara kehidupan masyarakat, yaitu kyai yang selalu menjadi panutan sekaligus menjadi pengayom masyarakat. Pasuruan memiliki banyak sosok kyai yang sebagian namanya harum dan sangat dikenal oleh masyarakat Pasuruan, bahkan dikenal di nusantara ini. Diantara kyai besar tersebut adalah Mbah Sulaeman Basyaiban pendiri pondok Pesantren Sidogiri, makamnya di Mojoagung - Jombang, Mbah Slagah yakni Kyai Hasan Sanusi, Mbah Arif Segoropuro, Mbah Soleh Semendi Winongan, Kyai Nawawi Nur Hasan dan Kyai Cholil Sidogiri, Kyai Abdul Hamid Jl. Jawa Pasuruan, Mbah Abu Dlarrin, Kyai Abdul Ghofur (kyai Sepuh), Kyai Ahmad Jufri, Kyai Abu Amar di Pasrepan dan lain-lain.
Diantara orang-orang mulia itu tersebutlah Kyai Abu Amar yang sangat menarik jejak kehidupannya. Kisah hidupnya yang unik, menarik dan dekat dengan masyarakat telah melegenda di tengah-tengah masyarakat. Banyak warga setempat, mengetahui, meyakini dan menjadi saksi sejarah perjalanan hidup dan keanehan-keanehan sosok Kyai Abu Amar, demikian juga warga Pasuruan dan orang-orang yang pernah dekat dengan beliau.
Sejarah Perjalanan KH Abu Amar
Nama lengkapnya Abu Amar Khotib lahir pada 27 Agustus 1911 di Desa Tambakrejo Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur. Sebuah desa yang sangat terpencil kala itu, jauh dari hingar-bingarnya kehidupan modern. Beliau satu masa dengan KH. Abdul Hamid Pasuruan yang lahir tahun 1914, usia KH Abu Amar 3 tahun lebih tua dibanding KH Abdul Hamid. Oleh karena itu beliau sering bertemu dan bersahabat. Beliau wafat pada Hari Selasa sore pukul 16.30 WIB tanggal 8 Jumadil Akhir 1411 H, bertepatan dengan 25 Desember 1990 diusia 80 tahun dan makamnya di komplek Pondok Pesantren Al Raudhah-Pasrepan. Lahir di tengah-tengah keluarga yang taat beragama dari komunitas petani di desa Tambakrejo - Pasrepan yang cukup dingin lagi segar udaranya. Tambakrejo kini masih tak banyak berubah, desa terpencil yang tidak banyak berubah ini masih tampak sisa-sisa kehidupan masyarakat yang petani nan sederhana. Karena kehidupan desa yang miskin kala itu, menyebabkan sebagian warganya mengambil jalan sesat dalam mencari rezeki Tuhan. Dari desa ini lahir orang-orang yang berperangai keras, mencuri, berjudi, dan kejahatan yang serupa banyak mewarnai kehidupan kelam desa Tambakrejo. Jalan yang menghubungkan desa Tambakrejo dengan desa-desa tetangga dikenal tidak aman, banyak begal berkeliaran pada siang maupun malam hari, sehingga warga desa itu takut untuk pergi ataupun masuk desa. Di desa inilah Abu Amar kecil lahir dari pasangan suami istri yang bernama Nyai Suroti keturunan kerajaan Sumenep Madura dan dari seorang laki-laki bernama KH. Chotib bin Minhaj. Dari pasangan tersebut lahir Abu Amar, nasab selengkapnya adalah KH. Abu Amar bin kyai Chotib bin Minhaj bin Ratih bin kyai Puluh bin Ghozali bin Bagus Sobad bin Sakaruddin bin mbah Sholeh Semendi. Dari perkawinan beliau dengan Nyai Karimah mendapat seorang putra bernama H. Achmad Suadi (Gus Suadi). Gus Suadi ini penggilan Gus Dur dan menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ar Raudloh Tambakrejo Pasrepan.
Kyai Abu Amar menghabiskan belajarnya dari satu pesantren ke pesantren lain. Di usianya yang masih belia, beliau telah belajar di pondok pesantren Podokaton yang diasuh Mbah KH. Nur Salim, dan berturut-turut nyantri di pondok Kebon Candi yang diasuh Mbah Syukur selama dua tahun, selanjutnya menimba ilmu di pondok pesantren Sidogiri yang diasuh Kyai Nawawi bin Nurhasan, lalu melanjutkan ke pondok pesantren Siwalan Panji Buduran - Sidoarjo, menimba ilmu kepada Mbah Chozin. Di usianya yang makin matang, akhirnya beliau mondok di Lasem Jawa Tengah, “ngangsu kaweruh” kepada Mbah Maksum. Oleh karenanya tak heran jika beliau adalah sosok panutan yang alim dan sangat dekat dihati masyarakat, sehingga hari-harinya selalu menjadi tumpuhan dan didatangi masyarakat untuk meminta doa, wejangan dan belajar ilmu agama. Beliau juga pernah menjadi seorang kepala desa, bahkan mendapat penghargaan Kalpataru dari presiden tahun 1985.
Akhlak, Perjuangan dan Warisan KH. Abu Amar
Baca Juga : Jangan Hilang Tertelan Waktu: Kasus Korupsi di Indonesia
KH. Abu Amar Chotib sosok yang sangat sabar kepada setiap orang dan tamu yang banyak datang ke rumahnya. Semua tamu dapat jamuan makan baik siang maupun malam, beliau sendiri yang melayaninya bahkan menyiapkan uang saku. Bahkan beliau sering mengirim makanan dan buah-buahan kepada warga desa dengan mobil pick up yang disopiri sendiri, semata untuk membantu warganya, beliau khawatir dengan kemiskinan menyebabkan warganya gelap mata dan melakukan kejahatan, bahkan yang paling ditakuti beliau adalah pindah agama.
“Aku bagi-bagi panganan dudu polahe kakehen dunyo, namung kanggo nyelametake manungso soko kelakuan angkoro lan murtad”, kata kyai kepada anak-anaknya. Artinya saya membagi makanan bukan karena berlebihan harta, tetapi hanya untuk menyelamatkan orang-orang dari perbuatan maksiyat dan keluar dari keyakinan Islam. Saking lomannya (terlalu dermawan) dapat sebutan para habaib dengan gelar “Amir Al Amir bisshodaqoh”.
Penghormatan kepada guru terutama kepada para habaib juga bagian sikap yang dilakukan oleh KH. Abu Amar. Setiap habaib yang datang ke rumah beliau langsung disambut dengan hamparan karpet merah yang terbentang dari kaki habaib menuju rumah beliau. Demikian pula penghormatan kepada setiap gurunya, Mbah Abu Amar rela berjalan “ngesot” karena bhakti takdhimnya kepada Habib Ali Kwitang Jakarta, hampir tiap Minggu beliau datang berkunjung ke Kwitang. Pada suatu hari Mbah Abu Amar ke rumah gurunya yaitu KH. Damanhuri di Batu Ampar Madura, beliau berjalan ngesot mendekati ndalem (rumah) gurunya. Sewaktu ngesot beliau terlihat gurunya, serta - merta sang guru mempersilakan untuk berdiri saja, karena diperintah berdiri, maka akhirnya mbah Abu Amar memberanikan diri untuk berdiri. Kemudian tak berselang lama KH Damanhuri masuk ke dalam rumahnya setelah mempersilahkan muridnya berdiri. Lama sekali sang guru tidak keluar lagi dari dalam rumahnya, hingga akhirnya beliau baru teringat bahwa muridnya yakni Abu Amar berdiri di luar rumah. Beliau melihat santrinya itu, sang guru terkejut dan menyuruh santrinya itu untuk segera masuk ke dalam rumah. Akhlak Abu Amar kepada kedua orang tuanya juga dapat menjadi contoh. Diceritakan bahwa ibunda Abu Amar terkenal bawel, sehingga tak jarang Abu Amar menjadi bulan-bulanan omelan sang ibu Nyai Suroti. Tetapi omelan sang ibu tetap beliau dengarkan sebagai ajaran dan ujaran yang berharga kelak dikemudian hari.
Kisah-kisah Menarik dan Riyadloh KH. Abu Amar
Mbah Abu Amar dikenal banyak memiliki kisah-kisah menarik bersama masyarakat. Beliau banyak membangun masjid di Pasuruan, tidak kurang dari 99 masjid yang telah beliau bangun bersama masyarakat salah satunya adalah masjid Agung Al Anwar Kota Pasuruan dengan menjual 2 motor Yamaha RXS kesayangannya, uang hasil menjual sawah. Banyak amalan dan wirid yang selalu beliau baca. Suatu ketika beliau sedang wiridan di musholla nya, beliau lebih suka memakai tasbih besar yang menggantung di atas langit musholla hingga menjuntai ke lantai musholla. Saking khusyu’nya dengan tasbih yang besar itu, jari tangannya menjadi lecet. Jika anak tasbih pada umumnya hanya 33 butir atau 99 butir tasbih, lain lagi tasbih milik Mbah Abu Amar, sebanyak 1000 butir tasbih selalu berputar di setiap membaca wirid hingga berjam-jam. Sedikitnya 3313 (tiga ribu tigaratus tiga belas) kali beliau membaca surat Al Ikhlas di setiap kali beliau duduk. Beliau juga istiqomah membaca sholawat Haidlir (Shollollohu ‘ala muhammad) dalam setiap tarikan napasnya tanpa berhenti selama hidupnya sebagai bhakti dan kecintaan beliau kepada Muhammad SAW.
Kisah balapan mobil antara Kyai Abu Amar vs Mbah Abd. Hamid Umar. Suatu ketika Mbah Abu Amar mendadak dipanggil menghadap Presiden Soekarno di Istana Negara Jakarta. Berangkatlah beliau bersama sopirnya Mudatsir, yang biasa dipanggil Dahsir. Di tengah perjalannya masih di Pasuruan Kota, beliau beristirahat dan bertemu dengan Mbah Abd Hamid Umar. Singkat cerita Mbah Hamid ternyata juga mendapat undangan yang sama dipanggil presiden, beliau berdua bercanda “bagaimana kalau kita balapan ke Jakarta, siapa yang lebih dulu sampai”, begitulah kira-kira. Akhir cerita keduanya memacu mobil tuanya dengan jalan yang tak sama dan sampai di pintu istana ternyata bersamaan dengan waktu tempuh 2 jam dan kembali sepakat balapan ke Pasuruan dengan waktu yang sama yakni 2 jam pula. Aneh, tapi itulah yang terjadi, ada karomah pada 2 sosok kyai kharismatik ini.
Cerita topo, khodam Kyai Abu Amar. Pada tahun 1976, adalah Mustofa yang biasa dipanggil Topo salah seorang khodam (pembantu) setia Mbah Abu Amar mendapat tugas kyai pergi ke Rogojampi Banyuwangi untuk menemui H. Hafid kepala Bulog Rogojampi. Dia diberi bekal uang Rp 1.125.-. Uang itu hanya cukup untuk satu perjalanan Pasuruan - Rogojampi. Pesan kyai tidak boleh menginap dan langsung pulang ke Tambakrejo. Tugas sudah dilaksanakan dan berpamitan dia diberi ongkos H. Hafid sebesar Rp 2.000.- Tiba di terminal Pasuruan saat hari telah larut malam Dia tampak putus-asa karena tidak ada kendaraan ke desanya, dia teringat pesan sang kyai, tidak boleh bermalam. Topo duduk termangu di terminal. Tiba-tiba ada sebuah mobil masuk terminal dan seseorang mendekati Topo yang tengah termangu. “Assalamu’alaikum, mau tanya pak ?, dimana letak desa Tambakrejo, kami rombongan mau bertamu ke rumah kyai Abu Amar”. Singkat cerita Pak Topo akhirnya bisa pulang numpang bersama tamu-tamu itu ke Tambakrejo, karena sabar menuruti saran kyai.
Kisah KH. Abu Amar suka mendatangi kaum non muslim. Kebiasaan Mbah Abu Amar adalah suka bepergian, salah satu daerah yang sering dikunjungi adalah kecamatan Tosari khususnya desa Wonokitri yang sepi dari Islam, ke Bromo, bahkan ke Pulau Bali hanya untuk anjangsana. Kedatangannnya ini sebagai upaya mencari ladang untuk mengenalkan tauhid kepada masyarakat disana yang sampai saat ini mayoritas masih beragama Hindu. Dan Islam pun mendapat simpati di hati masyarakat berjalan berdampingan dengan rukun dan guyup dalam kebeagamaan. Ini kemudian menjadi cikal bakal dan saat ini sesuai dengan konsep moderasi beragama, karena kecamatan Tosari pada tahun 2022 ini telah dikukuhkan sebagai Kecamatan Bhineka Tunggal Ika oleh Menteri Agama RI H. Yaqut Cholil Qoumas.
Kisah KH. Abu Amar dipenjara Polisi. Pada kisaran tahun 1974-1975 Topo khodam Mbah Abu Amar disuruh mencetak kalimat yang bertulisan “Telah datang kebenaran dan telah sirna kebathilan” mengambil dari ayat Al Qur’an “Wa qul ja’a alhaqqu wa zahaqol batil, innal bathila kana zahuqo”. Slogan itu disebarkan hingga ke Jember, akibatnya dianggap teror oleh polisi dan dipenjara selama 7 hari. Setelah bebas kasusnya dibawa ke Polda Jatim, tetapi lolos dari jeratan hukum karena jawaban beliau kepada penyidik bahwa maksud slogan “telah datang kebenaran” adalah telah datang kemerdekaan bangsa Indonesia dan “telah sirna kebathilan” artinya telah lenyapnya panjajah dari bumi Indonesia. Suatu hari KH Abu Amar marah dan memorak-porandakan hajatan, ketika beliau diundang, pasalnya yang punya hajat mendatangkan ORKES dangdut yang diwarnai minuman keras. Beliau diadukan polisi dan ditahan. Namun selama ditahan menurut kesaksian banyak orang bahkan polisi yang bertugas, beliau selalu di rumah memberi makanan hewan piaraannya.
Kisah Bupati Pasuruan kehilangan permata. Suatu hari Bupati Pasuruan Djeliteng Soenjoto mengabarkan kepada KH. Abu Amar bahwa dia kehilangan permata senilai satu milyar dan uang 25 juta rupiah di rumah dinasnya. Kyai Abu Amar hanya menjawab dengan meyakinkan Bupati bahwa barangnya tidak hilang. Berulang kali beliau mengatakan dengan jawaban yang sama ‘tidak hilang’. Djeliteng Soenjoto sangat lega mendapat jawaban dari sang kyai. Sebenarnya permata dan uang itu memang telah dicuri oleh orang. Seseorang telah berhasil menyelinap ke dalam kamar pribadi Bupati dan mengambil barang-barang tersebut. Ketika kyai Abu Amar sudah bisa meyakinkan Bupati bahwa permata dan uangnya tidak hilang. Singkat cerita, Bupati mengabarkan kepada kyai, bahwa permatanya sudah kembali, tetapi uang 25 juta dikembalikan tidak utuh oleh pencurinya hanya tersisa 7 juta rupiah. Selanjutnya Kyai Abu Amar meminta kepada Bupati agar tidak memperpanjang urusan dengan mencari siapa pencurinya, sebaliknya Bupati diminta memaafkan si pencuri itu dari kesalahannya, anggap itu sebagai sodaqoh penolak musibah. Bupati Djeliteng menyetujui saran kyai.
Masih banyak karomah dan cerita menarik lainnya yang dapat dipetik dari kisah ini. Selamat jalan mbah Abu Amar, semoga generasi penerusmu akan istiqomah mengikuti jejak langkahmu.

