Ketika Langit Bernuansa Kalimat Tauhid (Bagian 1)
KhazanahDalam pekan-pekan terakhir ini suasana WAG yang nama saya tertera di dalamnya penuh dengan ucapan “inna lillahi wainna ilaihi raji’un” yang selama ini menjadi kalimat yang melambangkan “kesedihan, kesusahan, dan bela sungkawa”, sebagai penanda ada peristiwa besar yang terjadi yaitu telah kembalinya seseorang kepada hadirat Allah swt, yaitu kematian. Dalam satu hari, bisa dua atau lebih. Hal ini menandakan ada suatu peristiwa yang sangat luar biasa, yaitu kematian beruntun yang dialami oleh anak turun Adam AS.
Memang kematian merupakan takdir atau kepastian Allah azza wajalla. Semua makhluk yang hidup pasti akan mengalaminya. Binatang, tetumbuhan, manusia dan bahkan barang-barang juga memiliki takdirnya untuk mati atau rusak secara fisikal.. Semua ada batas waktunya. Seseorang bisa meninggal pada usia berapapun tergantung pada takdirnya. Orang bisa meninggal karena sakit atau sebab lain. Bisa karena sakit mendadak, bisa karena sakit menahun dan bisa juga karena wabah penyakit tertentu. Akhir-akhir ini banyak kematian yang disebabkan oleh Covid-19 yang sudah bermutasi gennya menjadi varian Delta.
Dalam beberapa pekan terakhir, WAG di Asyaraqal Jakarta, atau WAG di UIN Sunan Ampel, dan lain-lain banyak ucapan ikut berbela sungkawa karena kematian istri, suami, anak, keponakan, orang tua dan saudara. Bahkan terkadang bisa dalam satu keluarga dua orang. Saya tidak menyebutkan orang perorang. Dari WAG UINSA, Saya akan memulai dari kewafatan Prof. Zainul Arifin, Dr. Rudy Subiantoro, Mbak Maryam, Mutmainnah, Kiai Muhammad Shofwan, dan sejumlah lainnya. Dan pada 10/07/2021) adalah Hj. Malikha isteri Dr. Imron Rosyadi Mojokerto Lalu dari WAG Asyraqalan, yaitu. Dr. Kidup Supriyadi, dan Dr. Sastra Juanda. Kemudian berturut-turut juga wafatnya Pak Dr. Affandi Muchtar, Pak Muhammad Achjar dan Pak Dr. Rudy al Hana.
Terhadap Prof. Zainul Airifin dan Dr. Rudy Subiantoro saya sempat menulis in memoriamnya. Juga Pak Muhammad Achjar dan Pak Rudy Al Hana. Yang lain tentu saya mengenalnya dengan baik. Mbak Yam adalah orang yang sangat dikenal oleh kawan-kawan seangkatan saya, 1978, sebab di masa lalu, ada warung makan di IAIN Sunan Ampel, yang pada tahun 1980-an dikenal sebagai warung Pak Said tempatnya di Fakultas Ushuluddin. Mbak Yam adalah salah satu putrinya yang ikut bekerja dan kemudian meneruskan usaha warung makan di IAIN dan lanjut ke UINSA. Sdr. Mutmainnah tentu saya kenal dengan baik, sebab pada tahun 2005-2012 pernah sama-sama bekerja di UINSA, yang teraakhir sebagai pegawai di Bagian Umum UINSA. Saya masih ingat kalau bertemu, maka saya panggil dengan sebutan: “Mut”, lalu selalu dijawabnya dengan singkat: “Iya Pak”.
Kiai Shofwan juga sangat saya kenal. Beliau adalah sosok kiai yang ringan tangan. Saya masih ingat pada saat Pak Maftuh Basuni menjadi Menag, maka kalau ke Surabaya pasti bertemu dengan Kyai Shofwan dan Kiai Shofwanlah yang memijitnya. Hal itu dilakukan jika bertemu dengan Pak Menag. Saya pernah datang ke Lembaga Pendidikannya di Tandes untuk menyertai Pak Maftuh Basuni, maka makanan yang disajikan adalah masakan mangut yang menjadi kesukaan Pak Maftuh. Sebagai orang yang lahir di pesisir utara Jawa Tengah bagian Timur, maka Pak Maftuh hobi benar makan masakan Mangut. Ihwal kedekatan hubungannya dengan Pak Maftuh karena sesama alumni Timur tengah. Saya pun pernah dipijitnya waktu saya mengeluh sakit perut. Tidak hanya dipijat tetapi sekaligus ijazah doanya. Saya rasanya punya hutang, sebab saya berkeinginan datang ke pesantrennya tetapi tidak kesampaian. Yang terakhir saya bertemu di Hotel Singgasana Surabaya dalam acara pelatihan Manasik haji bagi para petugas KBIH kerja sama antara Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan Asosiasi KBIH Jawa Timur. Saya teringat bahwa Beliau selalu menemani saya jika saya berceramah di hadapan peserta. Beliau pernah cerita kepada saya sudah sebanyak 41 kali ke Mekah untuk umrah atau haji. Maklum sebab Beliau memiliki KBIH Jabal Rahmah yang telah malang melintang dalam pembimbingan jamaah haji dan umrah.
Saya juga dikejutkan oleh meninggalnya Dr. Kidup Supriyadi. Mantan pejabat eselon tiga di Kemenag dan pernah bekerja bersama saya, sewaktu saya menjadi Dirjen Pendidikan Islam. Saya juga mengenal dengan sangat baik. Beliau adalah pekerja keras dan berkemampuan menyelesaikan masalah-masalah kantor dengan sangat memadai. Pak Kidup berhasil menyelesaikan hutang tunjangan guru yang menjadi tanggungjawabnya. Sepekan bisa tiga kali Beliau masuk ke ruang saya untuk memberikan laporan perkembangan penyelesaian tunjangan guru. Tidak mudah untuk menyelesaikan hutang tunjangan tersebut. Sebab harus tersedia data yang valid dan uang yang cukup. Data itu seluruh Indonesia dengan jumlah lembaga pendidikan madrasah kurang lebih 40 ribu. Untuk koordinasi seluruh Indonesia maka Pak Kidup yang harus bertanggungjawab. Penyelesaian tunjangan guru terhutang menjadi kendala Kemenag selama itu untuk meraih penilaiah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK.
Dalam pekan yang sama, juga muncul kabar bahwa Dr. Sastra Juanda juga meninggal. Pak Sastra juga pekerja keras. Saya tahu pada saat saya menjadi Dirjen Pendis, maka Pak Sastralah yang bertanggung jawab atas pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di bawah koordinasi Ditjen Pendis. Pada saat itu, pengawasan atas proyek-proyek pemerintah luar biasa, sebab KPK memang sangat gencar dan powerfull untuk melakukan penindakan atas penyelewengan anggaran pemerintah. Saya teringat bagaimana Pak Sastra bisa menyelesaikan pengadaan barang dan jasa dengan sangat baik dan berhasil secara gemilang. Beliau seorang yang ulet. Pernah misalnya berhari-hari tidak pulang ke rumah dan tidur di kantor untuk menyelesaikan program-program pengadaan barang dan jasa. Saya sangat bersyukur memiliki staf yang sangat memahami regulasi dan teknis pengadaan barang dan jasa sehingga pengadaan barang dan jasa menjadi aman dan terkendali. Sama seperti Pak Dr. Kidup, Dr. sastra juga menjadi dosen sebagai tempat pengabdian pasca menjadi pejabat di Kemenag. Pak Kidup menjadi dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pak Dr. Sastra menjadi dosen di Universtas Tirtayasa Banten.
Semua sahabat-sahabat menyatakan bahwa yang wafat tersebut di atas adalah orang yang baik, sehingga berkeyakinan bahwa Allah SWT akan memasukkannya di dalam surga-Nya. Doa kita, secara pribadi maupun jamaah terus dilantunkan sebagai rasa persahabatan yang tidak hanya di dunia, tetapi juga mengantarkannya untuk menghadap ke hadirat Illahi rabbi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

