(Sumber : https://www.instagram.com/nursyamcentre/)

Keutamaan Shalawat Pada Nabi Muhammad SAW

Khazanah

Sebelum meneruskan membaca  tulisan ini, alangkah baiknya jika kita membaca shalawat kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad”

  

Allah SWT menurunkan Nabi dan rasul sesuai dengan waktu diturunkannya. Di dalam teks dinyatakan bahwa Nabi diutus oleh Allah SWT dalam waktu dan wilayah tertentu, sedangkan Rasul diturunkan Allah SWT dalam rentang waktu dan wilayah yang lebih lama dan luas. 

  

Rasul memanggul tugas untuk membawa umat manusia ke dalam ajaran yang baru atau memperharuai keyakinan atau agama yang sudah ada,  tetapi sudah diselewengkan oleh umatnya, karena lamanya ajaran tersebut diterima. Semakin lama jarak antara rasul dengan umat di belakangnya, maka peluang untuk terjadinya penyimpangan ajaran agama tersebut sangatlah besar. Agama lalu menjadi kabar angin dari langit, demikiam ungkapan Sosiolog, Peter L. Berger. 

  

Artinya, semakin jauh jarak antara pembawa wahyu (rasul) dengan umat berikutnya, maka peluang untuk terjadinya heterodoksi ajaran agama tersebut tentu sangat besar. Jadi memang diturunkannya nabi pada tahap berikutnya setelah Allah mengutus rasulnya itu dalam kerangka untuk memperbaiki atau meluruskan ajaran para rasul sebelumnya.

  

Nabi Muhammad SAW diturunkan Allah SWT tentu untuk meluruskan kembali ajaran Nabiyullah Ibrahim AS, atau Agama Hanif atau ajaran agama yang lurus, sebab sudah dilakukan penyelewengan dari kaum penerusnya. Khususnya  di Mekkah yang menjadi tempat penyebaran awal ajaran Agama Hanif atau dinul qayyimah, ternyata berubah menjadi agama yang mengajarkan tentang penyembahan kepada berhala atau agama paganisme. Tuhan  disimbolkan dengan patung-patung. Di sekitar Ka’baitullah didirikan patung-patung, padahal Nabi Ibrahim AS pernah menghancurkan patung-patung pada masa kerasulannya. Suku yang berkuasa dan terbesar, maka memperoleh hak untuk bisa mendirikan patung besar. Suku Quraisy mendirikan patung besar: Allata, Aluzza, dan Manata. Dan suku-suku lainnya juga memiliki representasi patung di Ka’bah untuk merepresentasikan keyakinannya. 

  

Allah SWT menurunkan sebanyak 25 rasul dan 140.000 nabi. Mereka diturunkan pada seluruh umat manusia di dunia ini. Makanya, tidak ada satu kelompok manusia yang tidak memiliki nabi-nabinya. Semua mendapatkan bimbingan dari para nabi yang jumlahnya mencapai  ratusan ribu  tersebut. Semua nabi dan rasul memiliki visi dan misi yang sama yaitu untuk mengesakan Allah, Tuhan yang Maha Esa. Nama Allah sangat banyak sehingga bisa terjadi setiap nama Allah diabadikan oleh masing-masing Nabi sesuai dengan karakter masyarakatnya. 

  

Di antara Nabi dan Rasul tersebut, yang dinyatakan sebagai nabi dan rasul terakhir adalah Muhammad SAW. Hal ini sebagaimana diungkapkan di dalam teks yang sering kita baca, La Nabiya Ba'dahu, (tidak ada nabi sesudahnya). Jadi Nabi Muhammad SAW merupakan rasul yang melengkapi seluruh ajaran nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya. Ajaran Islam tersebut bercorak meluruskan keyakinan dan peribadahan yang tidak sesuai dengan misi kenabian  dan kerasulan  sebelumnya. Nabi Muhammad SAW meluruskan keseluruhan Agama Ibrahim atau Agama Semitis, yaitu yang diturunkan kepada Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS. Tidak hanya meluruskan tetapi juga memperbaharui dan membuat sesuatu yang baru di dalam agama yang diajarkannya.  Islam adalah agama yang sempurna, yang melingkupi,  mencukupi dan memberikan ajaran yang lengkap sebagai pedoman di dalam kehidupan. 

  

Sebagai nabi terakhir, Allah SWT memberikan kelebihan-kelebihan yang tidak diberikan kepada nabi dan rasul lainnya. Di antara yang paling spektakuler adalah menerima wahyu langsung dari Allah SWT tanpa perantaraan Malaikat Jibril yang selama proses kenabian menjadi perantara wahyu tersebut. Untuk menerima perintah shalat, maka Allah memberikan wahyunya langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Salat lima waktu merupakan ajaran dasar di dalam Islam yang sangat penting, sehingga untuk menerimanya tanpa memerlukan perantara.


Baca Juga : Bahagia dengan Berbagi: Apa Kata Ilmu tentang Menghabiskan Uang untuk Orang Lain?

  

Kelebihan lainnya adalah Allah SWT begitu mengasihinya, sehingga  disebut sebagai kekasih Allah SWT. Bahkan begitu agungnya Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, maka Allah SWT mengucapkan shalawat dan salam keselamatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dinyatakan di dalam Al Qur’an, Surat Al Ahzab, ayat 57: “innallaha wa malaikatahu yushalluna ‘alan Nabi, Ya Ayyuhal ladzina ‘amanu shallu ‘alaihi wa sallaimu taslima”, yang artinya: “sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya mengucapkan shalawat kepada Nabi (Muhammad SAW). wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya ”. 

  

Ayat inilah yang menjadi dasar bagi umat Islam untuk mentradisikan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, tradisi membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW bukan hanya tradisi segolongan umat Islam, tetapi menjadi tradisi seluruh umat Islam di dunia. Saya membayangkan pada malam peringatan kelahiran beliau, 12 Rabiul Awal, maka seluruh dunia bergetar dan alam menjadi terang benderang dengan kehadiran shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Aura shalawat tersebut terus akan sambung menyambung ke atas sehingga memenuhi seluruh mikro dan makro kosmos lalu tembus ke langit dan juga ke arasy. Subhanallah. 

  

Allah juga menjanjikan melalui Nabi Muhammad SAW, bahwa orang yang membaca shalawat sekali maka Allah akan membacakan shalawat  kepada pembacanya sebanyak 10 kali. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash. Ayah Abdullah adalah  pernah menjabat sebagai Gubernur di Mesir, dan pada zamannya tersebut Khalifah Umar bin Khaththab mengirimkan surat  ke Sungai Nil yang berisi surat tantangan, sebab selama itu setiap tahun di sungai ini dipersembahkan puteri Mesir yang tercantik. Proses pemilihan puteri cantik ini bisa saja melalui kontestasi. Perempuran ini dipersembahkan kepada Dewa Sungai Nil. Dan anehnya keluarganya bangga jika ada keluarganya yang jadi perempuan persembahan. Tradisi ini dihapus oleh Umar Bin Khaththab. 

  

Hadits tersebut berbunyi: “’an Abdullah ibnu  Amr ibn Ash annahu sami’a Rasulallah Sallalahu a’alihi wa sallam yaqul: man shalla alaiyya wahidan, fashallallahu ‘alaihi biha ‘asyaran. Rawahu Muslim”. Yang artinya: “dari Abdullah ibn Amr ibn Ash sesungguhnya mendengar dari rasulullah a’alihi wa sallam berkata: barang siapa yang  bershalawat kepadaku sekali, maka Allah SWT akan bershalawat untuknya   10 kali. Riwayat Imam Muslim”. Hadits ini merupakan hadits shahih. (Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin, hlm. 610). Hadits ini memberikan penegasan bahwa begitulah Allah SWT sangat mengasihi kepada Nabi Muhammad SAW, dan tentu saja pahala bacaan shalawat tersebut juga berlipat-lipat sesuai dengan jumlah lantunan shalawat yang dibaca oleh hambanya, umat Nabi Muhammad SAW.

  

Saya nyatakan di hadapan jamaah Masjid Al Ihsan, Lotus Regency, 27/10/2020, “bayangkan bahwa malam ini terdapat sekurang-kurangnya 2,3 milyar umat Islam di dunia. Jika mereka membaca sekali saja lantunan shalawat, maka akan terdapat 2,3 Milyar kali 10 kali atau sebanyak 23 Milyar bacaan shalawat kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Mari kita yakini, bahwa shalawat tersebut dipastikan sampai kepada Allah SWT dan Allah SWT akan membalasnya dengan pahala kebaikan untuk yang membacanya. Jika kita yakin Allah SWT akan membalas dengan kebaikan,  maka dipastikan Allah SWT akan membalasnya dengan kebaikan”. 

  

Oleh karena itu, marilah kita lantunkan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, yang saya yakin bahwa Beliau akan memberikan syafaatnya kepada kita semua. Di antara kelebihan yang diberikan Allah SWT adalah diberinya Beliau ini otoritas untuk memberikan syafaat kepada hambanya pada yaumul qiyamah. Tidak ada satu manusiapun di dunia yang sedemikian agungnya, sehingga diberikan kewenangan oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat kepada manusia lainnya.  

  

Dan marilah kita yakini bahwa dengan bacaan shalawat tersebut akan menjadi instrument atau washilah kita untuk memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW. Semoga kita selamat di dalam kehidupan di dunia dan akhirat, sebagaimana doa-doa kita. “Allahumma inna nas’aluka salamatan fi din”, Ya Allah sesungguhnya kami memohon keselamatan di dalam agama, di dunia dan akhirat”. 

Wallahu a’lam bi al shawab.