KH Sibaweh Sulaiman (1946-2021): Dakwah Melalui Syair Berbahasa Madura
KhazanahOleh Najibul Khair
Mahasiswa Doktoral Studi Islam
Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
Sibaweh Sulaiman atau dikenal sebagai Kyai Sibaweh adalah putra ke 4 dari Kyai Sulaiman bin Abdur Rasyid, seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Asembagus, Situbondo. Kyai Sibaweh memiliki silsilah garis panjang pemuka agama sekaligus pejuang yang tangguh. Kedua orangtuanya, Kyai Sulaiman dan Nyai Alwani berasal dari Sumberanyar, Pamekasan, Madura. Mereka hijrah ke Situbondo dalam misi perjuangan melawan penjajah bersama Kyai Syamsul Arifin, dan kemudian menetap di tanah Jawa.
Kemasyhuran Kyai Sulaiman sebagai salah satu santri terbaik Kyai Syamsul Arifin, terdengar di masyarakat hingga datanglah puluhan santri dari berbagai daerah untuk berguru kepadanya. Hal ini membuat Kyai Sibaweh dan keempat kakaknya (Baidlawi, Shonhaji, dan Sayuthi) serta kedua adiknya (Rahimah dan Sa\'udah) tumbuh bersama santri ayahnya. Meski kehidupan yang serba sulit memaksanya untuk putus sekolah di kelas V Sekolah Rakyat (SR), tapi jiwa pembelajarnya tidak padam. Suatu hari, ia ikut ayahnya mengunjungi kakaknya, Sayuthi di PP Tempurejo, Jember. Sesampainya di pondok, ia bersikukuh untuk tidak pulang dan ikut mondok bersama kakaknya. Dari sinilah rihlah keilmuannya dimulai. Selama 6 tahun (1962 – 1968) ia mempelajari berbagai bidang ilmu termasuk di antaranya ialah Fiqh, Tasawuf, Ilmu Manthiq dan tata Bahasa Arab. Pada tahun 1968 ia memutuskan untuk mondok di PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pada tahun 1973, atas perintah dari KH. Hasan Abdul Wafi, ia menempuh pendidikan perguruan tinggi di Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah (PTID) Nurul Jadid. Meski hanya dengan berbekal ijazah paket C, namun ia mampu menyandang gelar sarjana muda dengan nilai tertinggi kala itu.
Tahun 1977 Kyai Sibaweh menikah dengan Nawaroh, putri Kyai Suruji, Pamekasan, Madura, lalu menetap di kediaman orangtua Kyai Sibaweh di Desa Timur Sawah, Asembagus, Situbondo. Karena dipandang telah menguasai ilmu agama yang mumpuni, beberapa tokoh desa Wringin Anom menghadap Kyai Sulaiman dan meminta Kyai Sibaweh untuk tinggal dan berkhidmat di Wringin Anom. Pada saat itu, kondisi masyarakat desa tersebut masih marak akan pencurian, perkelahian, judi dan minuman keras. Aktifitas keilmuan dan keagamaan juga sangat minim. Bahkan ritual-ritual klenik yang menyimpang dan merusak aqidah masih banyak dilakukan sehingga tampaknya tugas dakwah Kyai Sibaweh tidak mudah bahkan mustahil.
Kyai Sibaweh kemudian memulai pengabdiannya dengan mendirikan Pesantren Nurul Yaqin. Di tengah aktivitas barunya sebagai guru ngaji, ia selalu berkonsultasi dengan ayah dan guru-gurunya di pesantren. Ia yakin bahwa selain pembinaan santri, dakwah di tengah masyarakat awam membutuhkan banyak dialog. Untuk itu, ia kemudian juga aktif berkiprah sebagai pengurus Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah dialog untuk mengetahui kebutuhan masyarakat desa. Ia berkecimpung dalam berbagai kegiatan bahtsul masail dan sempat tampil sebagai Ketua Robithoh Maahid Islamiyah (RMI) mengomel Asembagus dan pengurus Syuriyah cabang Situbondo.
Perlahan-lahan, kaum buruh tani hingga masyarakat nelayan mulai bersemangat mempelajari ilmu agama. Mushalla-mushalla kecil dan masjid didirikan. Setiap menjelang Maghrib, anak-anak mendatangi mushalla untuk belajar mengaji. Pengajian menjadi lebih digemari daripada tayub malam berisi mabuk-mabukan dan judi. Kelembutan dan kesantunan Kyai Sibaweh dalam berdakwah meluluhkan masyarakat desa yang semula acuh terhadap perintah agama.
Berkat ghirahnya dalam mengayomi masyarakat, pada tahun 1989 Kyai Sibaweh terpilih menjadi anggota DPRD Situbondo selama empat periode berturut-turut (1989-2009). Proses berpolitik yang melewati masa transisi dari dekade pemerintahan otoriter ke demokrasi terbuka menjadi fase pembelajaran yang mematangkannya dalam berdiplomasi. Amanah tersebut pula yang menjembatani jalan dakwah Kyai Sibaweh ke daerah-daerah lain hingga ke desa-desa terpencil di pelosok pesisir. Ia menjadi pelopor pembangunan dan pengembangan madrasah dan masjid-masjid terutama di desanya, mulai dari kampung petani hingga kampung nelayan di pesisir pantai.
Dalam pengabdiannya, Kyai Sibaweh yakin bahwa meski masyarakat sangat awam, namun mereka dapat menerima ajaran agama jika disampaikan dengan bahasa yang sederhana. Untuk itu, ia menulis beberapa nadzam/langgam berbahasa madura, di antara yang populer ialah nadzam nasab Nabi. Nadzam ini adalah syair tentang silsilah Nabi Muhammad SAW yang terdiri dari 12 larik. Awalnya, nadzam ini ditulis dalam Bahasa Indonesia, namun masyarakat kurang antusias hingga Kyai Sibaweh menulisnya kembali dalam Bahasa Madura. Selain itu ada juga beberapa nadzam dari kitab-kitab klasik seperti nadzam Hukum Jenazah Bayi yang disadur dari kitab Kasyifatus Saja karya Syekh Nawawi Al-Bantani dan beberapa nadzam shalawat, sirah nabi dan puji-pujian. Seluruhnya diterjemahkan dalam Bahasa Madura, sehingga akrab di telinga masyarakat umum.
Nadzam-nadzam tersebut disosialisasikan dalam kegiatan pengajian masyarakat dan pesantren-pesantren kecil binaan Pesantren Nurul Yaqin. Metode dakwah ini lebih mudah diterima dibanding metode mau\'idoh hasanah dengan pemahaman represif dan menggurui. Irama, syair dan puji-pujian dalam nadzam memudahkan untuk dihafal, terutama karena kebiasaan masyarakat untuk melantunkannya sebelum sholat berjamaah, pengajian, bahkan arisan. Hingga saat ini, nadzam-nadzam tersebut dikenal oleh masyarakat terutama di desa Wringin Anom, baik kaum muda maupun tua. Tak hanya itu, ia juga menulis beberapa pedoman utama untuk santri, seperti bacaan sholat dan maknanya dalam Bahasa Madura, Fiqh dasar, Tauhid dasar, Tajwid dasar, dan beberapa buku berisi tanya jawab masalah keagamaan.
Bagi masyarakat terutama di Desa Wringin Anom, Kyai Sibaweh adalah sosok panutan. Nyaris seluruh hidupnya didedikasikan untuk ngopeni masyarakat. Tak hanya dalam hal keagamaan dan pendidikan seperti yang disebutkan di atas, tapi juga dalam hal kesejahteraan. Ia mempelopori keguyuban masyarakat untuk merenovasi rumah warga miskin, pengadaan maupun perbaikan berbagai fasilitas umum dan menyantuni yatim piatu, janda dan dhuafa melalui program anak asuh Pesantren Nurul Yaqin.
Kesederhanaan, ketulusan dan kesungguhannya dalam berdakwah menjadikan Kyai Sibaweh sosok berkharisma yang dicintai seluruh lapisan masyarakat. Tak heran, jika saat ia wafat masyarakat dari berbagai kalangan berbondong-bondong mengantar kepergiannya. Kematian yang indah rupanya sudah dipersiapkan oleh Kyai Sibaweh. Ia sudah menyiapkan dan mengukur sendiri kafan, lokasi kubur, hingga tempat memandikan jenazahnya. Bahkan ia melatih seorang santrinya untuk membaca talqin saat dirinya akan dikuburkan. Wasiat terhadap hak kifayahnya (dimandikan, dikafani, dishalati) juga telah disiapkan dengan serius olehnya. Hanya beberapa menit menjelang awal, ia masih menggalang dana untuk salah satu warga miskin yang terkena musibah. Ini adalah pengabdian terakhir Kyai Sibaweh untuk masyarakat desa yang ia cintai melebihi dirinya sendiri.
"Persiapkanlah kematian, sesuangguhnya adalah perjalanan panjang. Jika kau hendak bepergian ke luar negeri, tentu bekal yang disiapkan lebih lengkap dan banyak daripada ke luar kota. Bagaimana jika alam barzakh yang akan kau tuju? Bekal seperti apa yang akan kau siapkan?"
Kyai Sibaweh adalah guru, orang tua, dan sahabat yang mengayomi masyarakat awam. Ilmunya tak terdengar di mimbar-mimbar gedung pesantren besar nan megah, tapi mengalir hangat di hati sunyi kaum dhuafa, yatim piatu, janda tua, bahkan orang gila yang kerap dipandang hina. Hikmah nasehatnya menyatu dalam syair-syair yang dikumandangkan anak-anak kampung, bersahut-sahutan dari surau ke surau, terbawa angin dari sawah sampai lautan. Seluruh kisah hidupnya adalah representasi dakwah hingga akhir hayat.

