(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Kiai Adlan Aly 'Santri Kinasih'

Khazanah

Oleh: Abdul Basir

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Pekan pertama Ramadan 1444 Hijriyah, Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran (LPPQ) Al-Karim Jawa Timur bekerjasama dengan Nahdlatul Ulama’ dan Remaja Masjid Agung Sidoarjo mengadakan Pengajian dengan tema:  Meneladani Kiai Sufi Pencinta Al-Qur’an dan Nabi Saw “KH. Adlan Aly” oleh penulis Dr. KH. M. Anang Firdaus, S.A, M.Pd bersama Dr. KH. M. Sholeh Qosim, M.Si.

  

Dihadiri 500 lebih Jamaah dan para tokoh Pengurus Cabang maupun Majelis Wakil Cabang Nahdlatu Ulama’ Sidoarjo, Pasuruan dan Mojokerto. Ibu-ibu muslimat, fatayat serta tampak pula hadir Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo Dr Ng. Tirto Adi MP, M.Pd. 

  

Beliu Dr.KH. M. Sholeh Qosim, M.Si selaku direktur LPPQ Al Karim Jawa Timur membuka dan memberikan ulasan tentang sosok ulama’ Kharismatik  KH Adlan Aly. Kiai Sholeh sapaan beliau, menyampaikan bahwa sanad Al Quran beliau sambung sampai ke KH Adlan Aly, melalui KH Yusuf Dawud. Pada kesempatan pagi ini telah hadir keluarga dalem, sekaligus pengasuh pondok Tebu Ireng, Dr. KH. M. Anang Firdaus, S. A. M. Pd. dan juga selaku penulis buku Kiai Sufi yang akan membedah dan memaparkan kenapa buku Kiai Sufi sampai ada, tercetak, tersebar , dan sampai diantara kita yang hadir. 

  

Penyampaian dimulai dari cerita penulis, bahwa ia bertemu dengan KH Adlan Aly selama satu tahun, kapan itu, ketika lahir dan menginjak usia satu tahun.  Ayah beliau adalah santri angkatan pertama KH Adlan Aly, yang mulai belajar, mengabdi, menikah, dan menjadi pengajar di pondok pesantren tebu ireng. Maka kehidupan beliau juga sangat dekat dengan para masyayih yang ada di Tebu Ireng.

  

Saat penulis nyantri di Tebu Ireng, dimasa kepemimpinan KH. Sholahudin Wahib. Kiai adik dari Presiden RI ke 4 KH. Abdurrohman Wahid (Gus Dur) ini memberikan tugas kepada santri senior untuk menulis buku tentang para masyayih yang ada di tebu ireng. Ini dilakukan sebagai bentuk terima kasih atas keikhlasan dan pengabdian para masyayih kepada Tebu Ireng, dan mas Anang mendapat tugas untuk menulis tentang KH. Adlan Aly.

  

Beliau mulai mencari referensi, banyak bertanya kepada Kiai sepuh, dan alhamdulillah refensi itu tertujuh pada Habib Lutfi Pekalongan. Akhirnya mas Anang berangkat dan sampai di pondok Habib Lutfi pada waktu asar. perkiraan mas Anang bahwa setelah asar adalah waktu dimana Habib Lutfi menerima tamu, ternyata bersamaan dengan banyak tamu yang hadir mereka menunggu sangat lama, setelah isya, jam sepuluh malam, belum juga ditemui sehingga banyak tamu yang ketiduran. Baru jam 3 dini hari Habib Lutfi turun dan menyapa para tamu, akhirnya setelah mendapat kesempatan, mas Anang menanyakan semuanya tapi bukan dapat jawaban, malah ia dapat marah, karena pertanyaannya tidak urut. Banyak yang mengatakan bahwa dimarahi Kiai a’lim  itu pertanda bahwa maksudnya akan kesampaian. Dan memang benar semua yang disampaikan oleh Habib Lutfi dijadikan acuan dari pembuatan buku Kiai Sufi ini.

  

Kurang lebih 45 menit Kiai muda ini menyampaikan tentang kisah KH Adlan Aly, banyak paparan yang beliau sampaikan, sampai pada lima sebab kenapa KH Adlan Aly menjadi santri kesanyangan (Santri Kinasih) dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, lima sebab itu adalah:  

  

1. KH. Adlan Aly adalah seorang Hafidz. Hadratussyaikh sangat senang dengan para Tahfidz, makolah menyampaikan bahwa Ahlul qur’an adalah Ahlullah. memang tidak ada dokumen yang menjadi petunjuk bahwa KH Hasyim Asy’ari memberikan sanad Al-Qur’an kepada para santrinya. Tetapi ada dokumen yang menyebutkan bahwa Hadratussyaikh adalah termasuk seorang Tahfidz yang tercatat di Masjid Mekah Al Mukarromah;

  

2. Menguasai beberapa disiplin keilmuan. KH. Adlan Aly adalah ahli fiqih, mursyid thoriqoh, dan pengajar kitab (Qur’an, Shohih Muslim, Fathul Qorib, dan lain sebagainya); 

  

3. Melanjutkan Warisan keilmuan Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari. Di setiap ramadan beliau aktif mengajar kitab Fathul Qorib, kitab tipis namun apa yang beliau ajarkan itu yang banyak dilakukan oleh Jamaahnya. Melaksanakan tarawih dengan mengkhatamkan al qur’an, dan itu masih dilakukan sampai sekarang;.

  

4. Masih  kerabat. karena KH. Adlan Aly adalah murid yang juga dijadikan keluarga karena dinikahkan dengan keponakan Hadratussyaikh KH. Hasyim asy’ari;  

  

5. Keluhuran budi pekertinya. Apa yang dilakukan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari itu yang dilakukan oleh KH. Adlan Aly. Pendapatn Kiai tidak hanya dari mengajar, tetapi beliau juga berwira swasta; bertani, berdagang. Beliau juga bersosialisasi, menjadi pengurus organisasi, berhadapan dengan masyarakat, lebih-lebih ke santri. Bahkan ada cerita dan ini tidak satu dua kali tapi sering, kalau ada santri yang hutang ke KH. Adlan, beliau tidak pernah menagih.