(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Makna Puasa Bagi Manusia

Khazanah

Jika kita memahami bahwa puasa itu telah dilakukan oleh manusia sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW, atau ajaran puasa juga berlaku bagi manusia sebelum diwajibkan puasa bagi umat Islam, maka memberikan indikasi bahwa puasa merupakan ibadah universal. Ibadah yang berlaku bagi seluruh manusia di dunia. Dengan demikian puasa tentu memiliki makna bagi seluruh umat manusia. Inilah yang saya sampaikan pada tapping untuk acara Ramadlan yang dilakukan atas kerja sama antara Dakwah TV pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel dengan Kompas TV dalam tajuk Mutiara Iman, yang biasanya diputar pada pagi hari ba’da salat Shubuh. Acara tapping dilakukan di Dakwah TV, 13/03/2024.

  

Ada tiga segmen yang disampaikan di dalam acara tersebut, yaitu: pertama, sebagai umat Islam kita harus bersyukur kepada Allah atas nikmat kesehatan yang diberikan kepada kita semua, umat Islam. Dengan kesehatan tersebut maka kita dapat melakukan ritual puasa, yang insyaallah dapat kita lakukan dalam sebulan penuh, 29 atau 30 hari. Kita bisa dipertemukan dengan bulan puasa tahun 2024 adalah berkat rahmat Allah SWT. Selama dua bulan kita berdoa kepada Allah agar bisa dipertemukan dengan bulan puasa, wa balighna Ramadlan, dan pertemukan kami dengan bulan Ramadlan. 

  

Di dalam Surat Al Baqarah, 183, dinyatakan: “kama kutiba ‘alal ladzina min qablikum,”  yang artinya: “sebagaimana diwajibkan puasa kepada orang-orang sebelum kamu”. Artinya dapat dipahami bahwa puasa itu bukan hanya menjadi milik umat Islam, akan tetapi menjadi milik semua pemeluk agama. Masa pra kedatangan Nabi Muhammad untuk menyebarkan agama Islam, maka umat-umat terdahulu, misalnya Yahudi, Nasrani, Hindu dan Buddha dan agama-agama lain, baik agama Samawi maupun agama non-Samawi, sudah menjalankan puasa. Memang cara berpuasanya berbeda-beda antara satu kaum dengan kaum lainnya, misalnya kaum Nabi Dawud dengan kaum Nabi Musa atau Nabi Isa yang berbeda cara dan waktunya berpuasa, akan tetapi substansinya adalah menahan hawa nafsu, khususnya makan, minum dan relasi seksual di siang hari dan diperkenankan di malam hari. Jadi, kata kunci puasa adalah menahan hawa nafsu. Semua hawa nafsu harus ditahan, termasuk juga nafsu berkuasa, nafsu untuk mengumpulkan harta berlebihan dengan cara-cara yang tidak benar, hawa nafsu untuk berbuat kedzaliman dan sebagainya. Inti puasa adalah untuk memanej hawa nafsu agar seirama dengan kebaikan dan kemaslahatan.

  

Kedua, puasa memiliki makna terdalam yaitu secara substansial atau spiritual merupakan tujuan akhir agar manusia memiliki nafsu yang utama atau nafsu yang bersearah dengan kebaikan. Sebagaimana diketahui bahwa di dalam diri manusia ada tiga unsur yang saling mengokohkan atau saling meneguhkan. Yaitu jasad, nafsu dan roh. Jasad atau badan merupakan unsur fisikal yang bersesuaian dengan hukum alam, yaitu membutuhkan makan, minum, mengembangkan keturunan, berkuasa, berharta dan sebagainya. Kebutuhan fisik tersebut sungguh tidak ada batasnya. Ada keinginan fisik yang terus menggelegak. 

  

Puasa merupakan instrument substansial untuk menahan agar kebutuhan fisik tersebut terpenuhi dalam batas kewajaran. Sedangkan nafsu adalah yang mengantarai antara fisik atau jasad dan roh. Nafsu itu akan melakukan pemihakan, apakah memihak kepada jasad atau fisik ataukah memihak kepada roh. Jika memihak kepada fisik maka nafsu kita kal hayawan dan jika memihak kepada Roh akan seperti kal malaikat. Dan jika memihak kepada kemanusiaan maka akan disebut kal insan. Namun sayangnya bahwa jika kepada kal insan, maka akan naik turun karena kuatnya tarikan jasad yang luar biasa. Puasa akan mengarahkan  jiwa agar berselaras dengan roh yang m  erupakan pancaran Tuhan. Jadi, tujuan disyariatkannya puasa adalah agar jiwa terus berpihak kepada dimensi ketuhanan, yaitu roh manusia yang merupakan pancaran Tuhan. Ingat bahwa roh itu ditiupkan Tuhan ke dalam tubuh manusia.

  

Ketiga, puasa merupakan istrumen untuk mengembangkan kesalehan individual dan kesalehan social. Melalui puasa, maka akan menjadi semakin bertaqwa kepada Allah atau memperkuat hablum minallah dan puasa juga menjadi instrument manusia untuk saling menyayangi dan mencintai sesama hamba Allah atau memperkuat hablum minan nas. Sesungguhnya dengan menjalankan puasa, maka manusia akan bertambah kuat keimanannya dan semakin kuat rasa solidaritas sosialnya. 

  

Kita akan menghadapi Bonus Demografi, di mana negara Indonesia ini semakin muda artinya banyak generasi mudanya, semakin banyak generasi pekerjanya. Oleh  karena itu, maka diperlukan instrument agar generasi muda sekarang yang sedang mencari jati dirinya akan dapat menjaga diri dan lingkungannya agar berada di dalam kebaikan dan kemaslahatan. Jika generasi muda sekarang bisa menjadi generasi yang baik, maka Indonesia akan sangat beruntung dengan kondisi tersebut.

  

Puasa sebenarnya dapat menjadi medan latihan dalam kerangka mempersiapkan diri menyongsong masa depan Indonesia yang lebih baik. Puasa menjadi instrument menajemen hati dan pikiran agar selalu selaras dengan kepentingan diri, masyarakat dan bangsa. Dengan puasa akan dapat menyeimbangkan antara kesalehan individual dan kesalahen social, dapat menyeimbangkan antara aku dan kita dan dapat menyeimbangkan antara kepentingan fisik, jiwa dan roh. Puasa adalah instrument terbaik untuk menjadikan kita semua sebagai manusia yang bermanfaat fi dini wad dunya wal akhirah.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.