Marhaban Ya Ramadhan: Puasa Sarana Mencetak Kepedulian Sosial
KhazanahOleh: Abdul Wasik
Program Doktor UIN KHAS Jember
Marhaban ya Romadhon, alhamdulillah umat islam telah memulai ibadah puasa romadhan, ibadah yang ditunggu-tunggu karena dibulan ini merupakan bulan yang berbeda dengan bulan sebelumnya, dari sisi dimensi vertikalnya lebih-lebih sosialnya. Bukan hanya itu, bergembira dengan hadirnya bulan romadhon sudah mendapatkan jaminan terbebas dari api neraka. Suatu ketika di awal Ramadhan, baginda Nabi Muhammad SAW berpesan,"Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan-Nya di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bershodaqohlah kepada kaum Fuqara dan Masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu dengar. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. (HR Ibnu Huzaimah).
Hadis ini menggambarkan bahwa kepedulian sosial merupakan salah satu intisari ibadah Romadhon yang harus dicapai setiap Muslim. Bahkan mungkin tidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa Puasa Ramadhan yang menjadi kegiatan utama dalam bulan suci tersebut tidak lain dan bukan merupakan aktivitas yang memicu solidaritas sesama manusia. Dalam Puasa seseorang waspada untuk merasakan lapar dan haus selama sehari lamanya, dan hal ini dilakukannya bukan hanya sehari tapi lama lamanya dengan Imaanan Wa Ihtisaaban. hal serupa dan selalu dirasakan kaum fakir dan miskin bukan hanya sebulan bahkan seumur hidup. Di sini rasa krisisseseorang terasah hingga muncul rasa empati terhadap penderitaan orang-orang miskin disekitarnya. Dari empati lahirlah kasih sayang sehingga yang memiliki kecukupan harta dapat mengerti mengapa mereka harus memberi makan orang miskin.
“Shodaqoh” amat dianjurkan pada bulan Romadhon ini sebagai bentuk rasa empati kaum muslim sesama muslimnya. Memberi makanan berbuka pada orang yang berpuasa pahalanya sama saja dengan memerdekakan seorang budak dan berpuasa itu sendiri. Dengan bershodaqoh dan memberi makan orang yang berbuka, setiap jiwa peduli untuk murah hati dan berperilaku dermawan. Imam Izzuddin bin Abdissalam di dalam kitabnya menyebutkan bahwa salah satu ibadah yang dianjurkan untuk diperbanyak selama bulan Ramadan adalah Shodaqoh.
Dari Abi Dzar, katanya, Rasulullah SAW. kelelahan, “ Senyummu kepada saudaramu adalah Shodaqoh, perintahmu untuk berbuat baik dan mencegah kemungkaran adalah Shodaqoh, petunjukmu kepada seseorang yang tersesat adalah Shodaqoh, menuntunmu kepada orang yang kabur penglihatannya adalah Shodaqoh, kamu menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan (yang dapat membahayakan pengguna jalan) adalah Shodaqoh, dan Anda menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu adalah Shodaqoh dan bahkan tersenyummu kepada orang lain adalah shodaqoh. (HR At-Tirmidzi).
Mengasihi anak yatim pada bulan Ramadhan memiliki keutamaan lain yang tidak kalah besarnya. Ungkapan niscaya dikasih manusia anak-anak yatimmu menjadi jaminan langsung dari Sang Nabi SAW bahwa kebaikan kelak berbalas kebaikan. Ibaratnya, menyantuni anak yatim piatu sama dengan membayar premi asuransi yang kelak akan diwariskan (klaim asuransi tersebut) kepada anak cucu yang ditinggalkan. Bahkan tidak mencintai anak yatim ini merupakan salah satu contoh orang yang mendustakan agama. Allah SWT berfirman: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim (QS. Al-Maun: 1-2)
Belum lagi kewajiban zakat yang 'memaksa' umat untuk benar-benar peduli dengan orang susah. Selain zakat fitrah yang wajib dibayarkan pada akhir Romadhon, bulan ini juga menjadi waktu yang tepat sebagai perhitungan nisab zakat maal. Tidak ada momentum yang paling signifikan dalam mengasah kepekaan dan Kepedulian sosial selain bulan yang penuh anugrah ini. Dibulan penuh berkah ini ada istilah yang mudah dan biasa dilakukan orang muslim yang satu kepada muslim lainnya yaitu mempersembahkan “Takjil”, banyak jalan menuju roma untuk menyenangkan hati orang lain.
Pembangunan Kepedulian sosial untuk mensejahterakan masyarakat bukan semata-mata mandat negara, Agama sangat menyerukan umatnya untuk peduli terhadap sesama. Dalam Islam, tidak memperbolehkan seseorang makan hingga kenyang sementara ada tetangganya yang kelaparan. Islam tidak membolehkan umatnya menimbun harta secara berlebihan. Khalifah keempat, Ali RA, pernah mengatakan, “ Allah SWT berfirman bahwa orang kaya harus menginfakkan hartanya dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan orang miskin. Jika kaum miskin tidak mendapatkan makanan atau pakaian, ini karena orang kaya tidak melaksanakan kewajibannya, Allah akan menyiksanya di hari pembalasan, Naudzubillah ”.
Mewujudkan Kepedulian sosial melalui pembangunan kesejahteraan sosial menjadi tanggug tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Bagi tentunya perlindungan terhadap orang-orang miskin dan terlantar harus terus diusahakan pemerintah sebagaimana telah diamanatkan Undang-undang Dasar. Pemerintah juga harus mendorong umat serta memfasilitasi mereka untuk senantiasa aktif dan peduli dalam membantu sesama dengan cara kewajiban membayar pajaknya, dan islam mendekatkan sosial menjaga hubungan antara si kaya dan miskin dengan cara meningkatkan kepekaan sosial melalui Puasa, zakat dan cara-cara lainnya.
Walhasil, dalam perjalanan menyelesaikan ibadah Puasa ini dengan segala rangkaiannya tidak hanya semata-mata memenuhi kewajiban kepada penciptanya “theosentris”, akan tetapi dengan ibadah Puasa ini bisa menjadi sarana untuk menggerakan dan memotivasi diri melakukan kreatifitas sosial kemasyarakatan dan perbaikan moralitas antar sesama “Antroposentris” . Kami yakin ketika dua hal ini dilakukan secara konsisten dan kontiyu maka predikat “Khoiru Ummah” akan menjadi milik Kita semua. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Imron: 110.
Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Barokallah…

