(Sumber : Qureta.com)

MEMAHAMI THEOLOGI PEMBEBASAN ASGHAR ALI ENGINEER

Khazanah

Oleh: Ir. H. A.Atqo Asyhari, M.Sc

Mustasyar PCNU Cilegon Banten

  

Tulisan ini kami cukil sedikit dari buku karangan  ASGHAR ALI ENGINEER yang berjudul “ISLAM DAN PEMBEBASAN“. Beliau seorang penulis juga seorang Insinyur, lahir 10 Maret 1939 di Salumbar India, meninggal 14 Mei 2013 Santacruz Mumbai India. Pendidikannya: Vikram University Ujjain.  Asghar adalah intelektual dan sekaligus aktivis yang berpandangan revolusioner dan demokratris. Disamping berpendidikan umum beliau juga berpendidikan agama dalam lingkungan keluarga  Ulama. Pada masa kecilnya di India terjadi beberapa peristiwa konflik yang berdarah darah antara pemeluk agama HINDU dan ISLAM.

  

Benua India yang sebelumnya mayoritas beragama Hindu , sejak abad 13-an Islam masuk dan mendirikan dinasti (dinasti Mughol) dengan  kerajaannya yang cukup besar, adanya kerajaan  yang bercorak Islam, mulai banyak penduduk  India yang beralih ke Agama Islam.  Terjadinya saling curiga dalam masyarakatnya akhirnya terjadi konflik. Dari sinilah  yang akhirnya India pecah menjadi dua negara yaitu India sendiri yang mayoritas Hindu dan Pakistan yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam.  Disaat proses pemisahan menjadi dua negera tidaklah mulus, banyak peristiwa saling bunuh membunuh. Keluarga Asghar tidak mau berpindah ke Pakistan dan tetap di India. Pakistan merdeka pada 14 Agustus 1947 dan India Merdeka pada 15 Agustus 1947, akhirnya negara Pakistan pun pecah dari Pakistan Barat dan Pakistan Timur, pada tahun 70-an Pakistan timur memerdekakan diri menjadi Negara Banglades . Dari kondisi sosial poitik dan cara beragama di anak benua India inilah  Asghar Ali hidup dilingkungan sosial budayanya, dan membentuk paradigma pemikirannya yang dituangkan dalam banyak tulisan dalam banyak bukunya. Asghar berprinsip “dzikir saya adalah menulis“, ini bukan berarti beliau tidak berdzikir seperti biasa. Konon KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga sangat mengagumi pemikirannya.

  

Asghar Ali,  dalam pola pikirnya, Islam adalah agama yang “Membebaskan”, salah persepsi jika agama dianggap membelenggu, sumber konflik dan perpecahan. Agama adalah solusi bagi ummat manusia di Dunia, manusia sebagai Khalifah di Bumi ini dilengkapi oleh sang Pencipta hidayah beragama.  Beberapa kelemahan dalam teologi atau Ilmu kalam Islam yaitu: Keimanan Islam itu statis dan status quo, tidak berfikir lebih dalam hanya dihafalkan. Melanggengkan kekuasaan politik maupun agama. Temanya selalu “Meta fisika  terus”, tentang surga dan neraka yang bersifat spekulatif. Tidak menyentuh sisi yang substantif, seperti keadilan, kedamaian, kemakmuran. Bagi sebagian kaum Islam justru menjadi jalan halalnya Radikalisme. Teologi Pembebasan adalah keimanan yang aktif dan dinamis yang memahami pembebasan. Membebaskan dalam segala hal kehidupan (Pen, Hal hal yang positif), perempuan, anak, konsep hukum dalam Islam  dan konsekuensinya, masalah keluarga hingga ke masalah  ummat Islam di negara lain, terutama di anak benua India.   Teologi yang kita percayai dari Tuhan yang diwahyukan, sebagian bersifat situasional dan kontekstual dan bersifat normatif metafisis.  Situasional dan kontekstual adalah  disesuaikan  dengan jamannya, dan normatif adalah  bersifat universal serta yang bersifat ukrowiyah (metafisika).

  

Sebagaimana ayat pertama dalam Al Quran surat Iqro’ “Baca atas nama Tuhanmu, yang menciptakanmu (manusia) “itu mengartikan bahwa Tuhan menginginkan ummat Islam untuk belajar membaca dan mengenal budaya menulis (pen “dengan Pena”), dan mempelajari ilmu pengetahuan, yang pada saat itu belum banyak masyarakat Arab yang bisa baca tulis. Dalam tafsir Al Quran, Asghar menerangkan bahwa, tafsiran dan pendapat orang bisa berbeda-beda, ketika sampai pada kata kata, ungkapan dari ayat ayat tertentu dalam Al quran. Asghar menyarankan apabila menafsirkan suatu ayat ataupun hadits, hendaklah di lihat unsur keadilan, kebaikannya, sesuai akal sehat dan tidak diskriminatif .

  

Dalam mengurangi kemiskinan, ia menyatakan, agama hendaknya menciptakan kesehatan sosial, dan menghindari diri dari sekedar pelipur lara dan tempat keluh kesah.   Agama harus mentransformasikan menjadi alat yang canggih untuk perubahan sosial. Pada awal Nabi Muhammad mensyiarkan agama Islam, beliau mengentaskan para fakir miskin dan budak belian yang dimerdekakan.  Maka menganut ummat Islam pada awalnya adalah kaum yang terpinggirkan, bukan kaum elit atau bangsawan Makkah, walaupun beliau juga keluarga bangsawan namun tidak begitu kaya.  Begitu pula Nabi mengajarkan kita saling menghargai sesama manusia tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. Ummat Islam harus bisa hidup berdampingan walau berlainan keyakinan. Menarik sekali mempelajari pemikiran dari intelektual Islam ini. Gaya bertutur Asghar memudahkan kita untuk “menelan“ begitu banyak pemikiran dari berbagai tokoh, baik yang berseberangan maupun yang mendukung pemikirannya.

  

Demikianlah secuil tulisan pemikiran Asghar Ali, seorang Insinyur yang ulama dari anak benua India yang sedikit kami usahakan terangkum dalam tulisan kami yang terbatas.  Apabila ada kesalahan dan kekurangan kami mohon dimaafkan. Selamat semoga sehat dan sejahtera selalu dilimpahkan  Allah swt kepada kita semua. Aamiin.

  

Wallahul muafieq , Wallahu a’lam bishowab.