Membangun Moderasi Beragama di Era Milenial
KhazanahSaya nyatakan bahwa egoisme individu atau kelompok tentang kebenaran tafsir agama menjadi penyebab utama terjadinya paham kekerasan agama. Jika Kebenaran itu hanya milik individu dan kelompoknya, kemudian keyakinan bahwa terdapat monotafsir sehingga hanya tafsir ulamanya yang benar dan tafsir dari ulama lain tidak benar atau dianggap salah dan harus dihilangkan, maka individu atau kelompok tersebut akan menjadi individua tau kelompok intoleran. Bahkan lebih jauh mereka menganggap hanya kelompoknya yang benar dan masuk surga.
Pernyataan tersebut saya sampaikan dalam forum pertemuan para tokoh agama dan tokoh organisasi keagamaan, di dalam workshop yang diselenggarakan oleh Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Zakat Wakaf pada Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur, 25-26 November 2021 di Hotel Swiss-Bell in Surabaya dengan tema “Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman pada Era Milenial”. Hadir pada acara ini Kabid Urias Zawa, Drs. Mufi Imron Rosyadi, MM dan dipandu oleh Bu Elly dari Kanwil Kemenag Prof. Jawa Timur.
Kaum intoleran ini meyakni bahwa yang harus berlaku di seluruh dunia adalah hukum Allah. Yang harus berlaku di dunia “hanya” hukum Allah SWT. \"La hukma illa lillah”, Semua regulasi yang dibuat manusia adalah thaghut. Indonesia ini negara thaghut, sebab tidak menggunakan hukum Allah secara kaffah, Pemikirannya bahwa dasar negara harus Islam. Hukumnya hukum Islam dan menafikan atas hukum-hukum yang lain.
Hari ini dan ke depan, kita akan menghadapi generasi baru Indonesia, yaitu generasi milenial. Generasi milenial adalah generasi IT. Generasi yang memahami benar tentang dunia IT. Kanal You Tube, IG, Twitter, WA, Skype, H5, Meme, TikTok, infografis, dan lainnya sangat dikuasai. Generasi yang menggeluti internet dengan anak cucunya, misalnya media social. Berdasarkan survey bahwa yang dicari pertama kali bangun tidur adalah HP. Bisa saja untuk ngecek chat di media social. Google dengan berbagai aplikasinya sangat diakrabinya. Jika ada masalah yang tidak diketahui maka google search menjadi jawabannya. Mereka bisa akses apa saja dari dalam kamarnya. Mereka belajar banyak hal dari kamar tidurnya. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memenuhi hasrat eksplorernya.
Di dalam menghadapi generasi milenial, maka para da’I harus bekerja sama. Dakwah moderasi beragama harus dilakukan secara kolaboratif. Era dewasa ini memerlukan kolaborasi. Tidak ada yang bisa dilakukan sendirian. Semua membutuhkan support dan kebersamaan dengan orang lain. Ada yang ahli fiqih, ahli hadits, ahli tafsir, ahli tasawuf dan sebagainya. Maka ketika berdakwah harus berkolaborasi dengan ahli IT agar dakwahnya bisa masuk Kawasan generasi milenial. Generasi ini tidak suka dengan nasehat yang panjang-panjang. Pendek tetapi berisi. Padat penuh makna. Ceramah yang bertele-tele itu menghabiskan waktu. Wasting time.
Acara-acara yang panjang-panjang itu melelahkan bagi generasi milenial. Mereka ingin ceramah yang to the point. Apa intinya, apa perlunya. Waktu bagi mereka sangat berharga untuk eksplorasi pengetahuan. Semua pengetahuan bisa didapatkan melalui channel di dalam media social. Mereka tidak suka dengan acara-acara kumpul-kumpul kecuali dengan sesama minatnya. Mereka menyuki club-club yang senafas dengan minat dan kecenderungannya. Diperlukan perubahan orientasi dakwah terutama tentang moderasi dakwah. Di antaranya dengan memanfaatkan media social. Tidak hanya memindahkan ceramah agama ke kanal you tube, tetapi harus didesain model dakwah yang tersaji untuk generasi milenial.
Hal yang dilakukan oleh Timnya UAS adalah memotong-motong ceramahnya menjadi konten pendek di Youtube, juga ceramahnya Adi Hidayat, Felix Siauw, Firanda, AA Gym dan sebagainya. Dicari kata kuncinya dan kemudian diunggah di media sosial. Ada tim yang kuat untuk membackup terhadap dakwah yang dilakukan oleh kelompok ini, sehingga ceramahnya membanjiri media sosial. Mereka memiliki kesadaran untuk membangun tim IT yang kuat agar konten dakwahnya membanjiri dunia media social. Mereka didukung oleh talenta-talenta muda yang berbakat dan dengan dukungan yang kuat dari berbagai pihak, termasuk mungkin pendanaan.
Oleh karena itu diperlukan upaya untuk memperkuat kolaborasi antara berbagai da’I dengan memanfaatkan media social. Dai-dai yang tergabung di dalam Gerakan moderasi agama harus menyatukan Langkah untuk bekerja bersama dengan kolaboratif. Misalnya Gus Muwafiq, Gus Baha’, Gus Miftah, KH. Anwar Zahid, KH. Marzuki Mustamar, dan sebagainya agar didukung oleh tim kreatif untuk media social. Tantangan Salafi Wahabi di media social sangat luar biasa. Mereka sedang berkeinginan untuk menguasai media social sebagai wadah untuk penguasaan otoritasnya. Belum lagi tantangan salafi takfiri dan salafi jihadi. Mereka juga didukung oleh kekuatan dana dan SDM yang luar biasa.
Jika para dai yang menyuarakan moderasi beragama tidak menyatukan Langkah dengan memanfaatkan para milenial dengan sungguh-sungguh, kita khawatir bahwa ke depan media social akan dikuasai oleh kelompok lain, dan otoritas keberagamaan Islam wasathiyah akan tedegradasi.
Oleh karena di tengah tantangan media sosial yang sangat kuat dewasa ini, maka tim cyber moderasi beragama harus semakin kuat, sehingga ke depan akan bisa mewarnai terhadap perbincangan di media social secara lebih mendasar. Indonesia ini negara plural dan multicultural. Oleh karena itu harus tetap diyakini bahwa moderasi beragamalah jawabannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

