Menuliskan Ide Sebagai Kewajiban Dosen
KhazanahSebagai seorang dosen, saya kira tugas pentingnya selain mengajar adalah menulis. Bagi seorang dosen rasanya menjadi “aib” jika tidak menulis, dalam bentuk apapun. Jika di masa lalu tentu menulis buku sebagai acuan kehadiran dosen dalam blantika dunia akademis dan intelektual, maka di era sekarang harus ditambah menulis di jurnal yang terindeks, apakah di Sinta ataupun di Scopus, Copernicus, Thomson, dan sebagainya. Bahkan Kemenristek membuat gebrakan, bahwa para professor yang dalam tiga tahun tidak menulis di jurnal terindeks, tiga karya di jurnal terindeks Sinta, atau satu karya di jurnal terindeks Scopus, maka akan dicabut hak tunjangan professornya.
Saya tentu bersyukur, sebab setelah kembali mengajar di UIN Sunan Ampel setelah selama tujuh tahun menekuni dunia birokrasi di Jakarta, per 1 (September) 2018, maka saya telah menghasilkan tulisan di empat jurnal terindeks Sinta Kemenristek (sekarang Kemendikbud). Tulisan saya telah dimuat di Jurnal JKI, Academica, Episteme dan Dialogia (terindeks Sinta 2), dan jurnal Fikratuna (terindeks Sinta 3) dan tiga tulisan yang sedang di-review oleh tim di beberapa jurnal terakreditasi Sinta, lalu ada 2 (tulisan) sedang diajukan ke jurnal internasional. Selain itu juga menjadi key note speaker dalam Konferensi Internasional di Fakultas Dakwah dan Komunikasi dan PPs UIN Sunan Ampel Surabaya.
Saya juga merasa bergembira karena ada tiga buku yang saya hasilkan dalam dua tahun terakhir. satu terbit tahun 2019 dengan judul “Merindu Ramadhan”, kemudian dua buku terbit tahun 2020, yang satu buku akademis dan satu buku refleksi dari perjalanan dinas selama menjadi birokrat di Jakarta. Buku yang terbit tahun 2020 tersebut adalah “Jejak Politik Lokal Kaum Tarekat", yang saya tulis bersama Dr. Suko Susilo, dan lainnya buku yang berjudul “Perjalanan Etnografis Spiritual".
Buku “Merindu Ramadhan” dan “Perjalanan Etnografis Spiritual” lahir dari kebiasaan saya untuk menulis dalam setiap kesempatan yang memungkinkan. Saya tentu bersyukur karena diberi kekuatan untuk menulis, kapan dan di manapun. Saya dapat menulis dengan tanpa referensi dan mengandalkan intuisi menulis saja. Selalu ada tema-tema yang dapat saya tulis kapanpun dan di manapun. Terkadang saya menulis di pesawat terbang dalam perjalanan tugas, atau bisa menulis di bandara, di kantor, di rumah atau bahkan di acara seminar atau diskusi. Saya terbiasa untuk menuliskan gagasan saya secara langsung. Itulah sebabnya sudah terdapat sebanyak 1999 artikel ( per 9 Agustus 2020) yang saya tulis di blog pribadi saya, nursyam.uinsby.ac.id. Sedangkan buku “Jejak Politik Lokal Kaum Tarekat” semula adalah tesis dan kemudian diperkaya dengan perspektif yang waktu itu belum memperoleh sentuhan optimal. Di antara yang ditambahkan adalah perspektif teori interaksionisme simbolik dan sekaligus implikasi teoretiknya.
Saya ingin membahas dua buku yang terbit tahun 2020 secara singkat. Buku “Jejak Politik Lokal Kaum tarekat” merupakan buku yang diterbitkan dari tesis saya di Universitas Airlangga, tahun 1997 yang lalu. Buku ini merupakan hasil penelitian serius, dengan standar tinggi sebagai sebuah karya akademis. Keruntutan dan system berpikirnya menggambarkan bagaimana kajian ini dilakukan. Kekuatan buku ini adalah pada penulisan metode penelitian, yang sangat empiris dan menggambarkan apa yang dilakukan di lapangan. Benar-benar merupakan rekaman bagaimana melakukan penelitian. Lalu perspektif historis dan teoretik yang digunakan juga menggambarkan kedalaman kajian ini. Demikian pula data empirisnya saya kira sangat lengkap untuk menggambarkan apa dan bagaimana serta makna tindakan kaum tarekat di dalam dunia kehidupannya. Dan yang tidak kalah penting adalah implikasi teoretiknya yang berisi diskusi panjang dan mendalam tentang perspektif teori yang digunakan, seperti teori kewibawan tradisional, politik aliran dan interaksionisme simbolik. Di dalamnya bisa dibaca bagaimana temuan penelitiannya didiskusikan dengan teori-teori yang sudah ada dan menjadi perspektifnya. Ada temuan baru di dalamnya, yaitu: memilih partai politik merupakan kewajiban ijtima’iyyah yang berbasis pada pilihan politik aliran dan relasi antara guru tarekat dan murid tarekat. Kyai memiliki kewenangan tradisional yang berupa fungsi polimorphik.
Buku ini diberi judul “Jejak Politik Lokal Kaum Tarekat” sebab mengandung dan membahas mengenai sejarah politik lokal kaum tarekat. Tidak diberi judul sejarah, akan tetapi menggunakan diksi Jejak yang tentu saja bernuansa historis. Jadi menggambarkan dimensi historisitas dunia tarekat yang selama ini hanya dianggap sebagai jalan menuju Tuhan lewat dzikir atau wirid, tetapi ternyata juga bersentuhan dengan dunia politik, yang profan.
Satu buku lagi berjudul “Perjalanan Etnografis Spiritual” merupakan rekaman perjalanan ke luar negeri dalam kerangka menjalankan tugas sebagai aparat birokrasi di beberapa negara, yaitu Arab Saudi, Italia, Malaysia, Brunei, China dan Turki. Tulisan-tulisan ini dikodifikasi lalu diterbitkan dengan judul di atas. Buku ini melengkapi buku saya yang pertama, “Perjalanan Etnografis Lima Benua” yang terbit tahun 2014, yang lalu. Buku ini dilabel dengan judul “Perjalanan Etnografis Spiritual” sebab di dalam perjalanan ini tidak hanya bercorak perjalanan biasa saja dan tugas biasa saja, akan tetapi selalu dibarengi dengan upaya untuk melakukan kegiatan ibadah sebagai tindakan orang Islam dan umat beragama. Misalnya, ketika ke Arab Saudi, maka selalu disempatkan untuk menjalankan umrah, sebagai ritual sunnah yang penting bagi umat Islam, ketika di Turki maka disempatkan shalat Jum’at di Masjid Biru di Istambul, lalu ketika di China juga disempatkan untuk berziarah ke Makam Sayyidina Said bin Abi Waqas, sahabat Nabi Muhammad SAW, termasuk assabiqun al awwalun, yang mengembangkan Islam di China, dan juga menziarahi masjid atau kuil-kuil monumental di sana. Ketika di Vatican juga disempatkan untuk mengunjungi Gereja Katolik terhebat di dunia, yaitu Katedral Santo Petrus dan juga Masjid di Roma. Demikian pula di Malaysia dan Brunei Darus Salam.
Tulisan-tulisan ini dihadirkan sesungguhnya untuk memenuhi gelegak keinginan untuk menyebarkan ide atau gagasan, sehingga tidak berhenti pada ide atau gagasan saja, akan tetapi dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi orang lain agar menulis. Dengan menulis, maka gagasan kita itu akan memiliki nilai “keabadian” bahkan sampai suatu ketika kita kembali ke haribaan-Nya. Saya selalu berprinsip “verba volant scripta manen”. Diomongkan hilang ditulis abadi.
Saya yakin ke depan akan semakin banyak generasi muda kita yang menulis. Bagi saya, menulis itu memang berbasis talenta, tetapi juga pasti bisa dipelajari. Biasakan menulis, dan dengan begitu kosa kata akan muncul sendiri tanpa diminta. Kata demi kata akan mengalir layaknya air sungai yang jernih. Dan ide yang tertulis itu lalu bermanfaat bagi manusia lainnya, sebagaimana air jernih yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Wallahu a’lam bi al shawab.

