Perkuat Partnership untuk Pengembangan: STIT Raden Wijaya Mojokerto

Khazanah

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

  

Salah satu di antara kebahagiaan bagi seorang guru yang senior diundang oleh muridnya yang kemudian menjadi pimpinan institusi pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Hari Sabtu, 10/05/2025, saya diundang oleh Dr. Drs. Imron Rosyadi, SH, MH, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Raden Wijaya Mojokerto dalam acara Wisuda Sarjana Pendidikan Islam yang ke 32. Acara ini dihadiri oleh Ketua STIT Raden Wijaya, serta seluruh Wakil Ketua, Wakil Walikota Mojokerto, Pimpinan NU Cabang Kota Mojokerto, kepala Lembaga di STIT Raden Wijaya, Dosen, orang tua/Wali wisudawan dan para wisudawan. Acara diselenggarakan di hall Hotel Sunrise dan Mall Mojokerto. 

  

Saya sampaikan tiga hal sebagai bekal bagi pimpinan, dosen dan wisudawan pada kesempatan ini, yaitu: pertama, ucapan selamat kepada wisudawan dan wisudawati. Hari ini menandai keberhasilan para wisudawan untuk menjadi sarjana, menjadi bagian kecil dari masyarakat Indonesia yang terpelajar. Para wisudawan menjadi bagian dari sebanyak 10,2 persen Masyarakat Indonesia yang lulus Pendidikan tinggi atau 12.081.571 orang dari 276 juta populasi Masyarakat Indonesia. Para wisudawan harus bangga menjadi bagian dari Masyarakat Indonesia yang terpelajar. Secara sosiologis bahwa para wisudawan sudah memasuki strata atas dalam bidang pendidikan dari Masyarakat Indonesia. Kemudian secara teologis juga harus berbahagia karena semua sudah dijanjikan oleh Allah bahwa orang yang mencari ilmu akan ditingggikan derajatnya. “Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS: Al Mujadalah, 11). 

  

Ucapan selamat juga layak disampaikan kepada STIT Raden Wijaya Mojokerto yang sudah meluluskan para sarjana, artinya bahwa Lembaga Pendidikan ini telah memberikan kontribusi kepada pemerintah, khususnya pemerintah daerah dalam pengembangan SDM berkualitas. Kepada pimpinan STIT Raden Wijaya juga sangat layak menerima ucapan selamat atas prestasi yang dihasilkan pada hari ini dan di masa yang akan datang.

  

Kedua, memperkuat kualitas pendidikan melalui kemitraan. Lembaga pendidikan yang baik adalah lembaga pendidikan yang berkualitas. Untuk menandai lembaga berkualitas itu dapat diukur dengan beberapa variabel, misalnya proses belajar mengajar. Selenggarakan program pendidikan secara benar. Baik secara memikat maupun berani atau yang dikenal sebagai blanded learning. Tetapi sungguh-sungguh. Jangan tergiur untuk melakukan pendidikan siluman, tidak ada proses belajar, tetapi tiba-tiba banyak jika wisuda. Melalui program belajar yang terukur, maka akan dihasilkan kualitas lulusan yang baik. Kemudian variabel manajemen yaitu dengan mengembangkan good university governance (GUG) dengan membangun transparansi dan akuntabilitas. Kepemimpinan yang ramah atau kepemimpinan yang ramah. Jadikan semuanya sebagai partner, bukan atasan dan bawahan. Kemudian lulusan atau alumni yang baik. Jika lulusan kita baik, maka akan diperoleh kepuasan pelanggan atau kepuasan pelanggan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan kerja sama atau kemitraan.

  

Saya sangat gembira dengan kehadiran Mas Sandi, Wawali Kota Mojokerto, sebab pimpinan daerah itu menentukan terhadap laju pengembangan pendidikan. Mas Sandi yang sebelumnya adalah Rektor UNIM Mojokerto, tentu memiliki visi penguatan kualitas pendidikan. Oleh karena itu memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, lembaga sosial keagamaan, dengan BUMD/BUMN dan sebagainya untuk memperkuat tentang kualitas pendidikan. Makanya kerja sama dengan UNIM Mojokerto juga penting. Petakan apa yang bisa dilakukan bersama-sama untuk kemajuan kota Mojokerto.

  

Setara dinyatakan oleh teoritisi kritis dari Italia, bahwa dunia dibangun di atas kerja sama. Kalau kita ingin maju maka kolaborasi menjadi sangat penting. PT itu mempunyai tugas untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, berpikir kreatif dan inovatif, berpikir kolaboratif dan berpikir komunikatif. PT harus mengembangkan hal ini di tengah kontestasi sosial yang sangat ketat dewasa ini. Jika kita ingin memimpin, maka PT harus berpartisipasi dalam mengembangkan pemikiran, sikap dan perilaku yang mendukung kemajuan. Sekali lagi kemajuan.

  

Ketiga, tujuan hidup adalah memperoleh kebahagiaan. Tidak hanya kesejahteraan atau keberhasilan ekonomi tetapi kebahagiaan. Kemenyatuan antara keberhasilan ekonomi dan ketenangan jiwa dan spiritualitas. Tadi Asc. Prof Dr Imron Rosyadi, Ketua STIT, mengungkap ada tiga kebahagiaan, yaitu kebahagiaan intelektual atau kebahagian intelektual karena berhasil dalam meraih pendidikan, misalnya. Pikiran yang positif akan mempengaruhi kehidupan. Lalu emosional kebahagiaan atau kebahagiaan yang didasari oleh kemampuan memenej emosi, misalnya menjadi sabar, bersyukur, tawakkal, dan merasakan ketenangan dan kebahagiaan spiritual atau kebahagian yang berdasarkan atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah sebagai Dzat yang memberikan kebahagiaan. Ada satu yang belum diungkapkan yaitu kebahagiaan sosial atau senang melihat orang senang. Prinsipnya adalah memberi. Untuk memberikan hadiah. Kata kuncinya adalah sedekah. Ada pengalaman menarik dari sahabat saya yang koma selama 11 hari dan di saat itu, maka semua amalannya yang baik dan buruk ditunjukkan. Yang baik membawa kebahagiaan dan yang buruk membawa kesedihan. Sakit luar biasa. Oleh karena itu dipesankan agar kita berbuat baik dalam hubungan sosial dan bersedekah. Kala siuman, maka perintah kepada istrinya adalah agar uang yang dimilikinya disedekahkan dan jangan pulang sebelum uang tersebut habis. (baca di nursyam.uinsa.ac.id “Pak Harun dalam Pengalaman Beragama selama 11 hari”). Masya Allah. Oleh karena itu, agar hidup bahagia, maka empat hal ini menjadi sangat penting.

  

Untuk hidup bahagia, maka ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu: harus memiliki tujuan atau tujuan. Kehidupan yang baik ditandai dengan adanya tujuan untuk memperoleh ridhanya Allah. Bekerja atau berusaha dan yang kita dapatkan dari bekerja adalah tujuan instrumental, menjadi instrumen untuk bahagia. Maka harus memiliki harapan atau harapan dan harapan finalnya adalah harapan untuk memperoleh ridhanya Allah, sedangkan harapan dapat materi, kedudukan dll adalah harapan instrumental, dan lainnya harus ada perkawanan atau persahabatan. Jika kita hidup memiliki kawan, maka hidup akan saling memberi dan menerima, dan inilah kunci kehidupan. 

  

Sekali lagi kepada para wisudawan bahwa sekarang kalian semua sudah menjadi warga negara Indonesia yang memiliki strata pendidikan yang tinggi, akan tetapi semua itu tidak ada artinya jika kalian tidak berusaha untuk berjuang dalam kehidupan. Ada trilogi: usaha, doa dan tawakkal. Berusaha lalu berdoa dan kemudian pasrah atas kehendak Allah.

  

Wallahu a\'lam bi al shawab.