Romadlon yang Terlewat
KhazanahOleh: Gus Ahmed Miftahul Haq
Romadlon telah melewati kita. Setelah ini hingga kita berjumpa Romadlon tahun depan, jika Allah SWT menghendaki, tiada lagi yang menjadi booster dalam setiap ibadah kita. Tiada lagi masjid, musholla, atau tempat sholat lainnya yang mampu mendorong kita untuk sholat beroka’at-roka’at tanpa kemudian kita memilih untuk melarikan diri darinya. Tidak akan ada lagi sesi makan bersama sambil menunggu maghrib tiba. Tidak akan ada lagi bareng-bareng bangun dini hari untuk bersantap sahur sambil ditemani acara televisi hingga subuh menjelang. Bagi sebagian besar kita, tiada lagi tahun ini hingga Romadlon berikutnya tiba.
Bagi sebagian dari kita yang telah mampu berjama’ah bersama keluarga, makan bareng bersama keluarga, bangun subuh berjama’ah bersama keluarga, serta ekspresi keberagamaan lainnya yang secara kolektif terbangun atas kesadaran akan agama sebagai cara hidup tentunya menjadi indikator kuat bahwa kehidupannya dan keluarga telah berjalan di atas rel syariat dan besar kemungkinan untuk menjadi khusnul khotimah. Bagi sebagian lainnya, yang sepertinya lebih banyak dari sebagian yang tadi, khusnul khotimah menjadi lebih tidak terukur. Tentu akhir baik-buruk hidup seseorang adalah preogatif Allah SWT, tapi ikhtiar adalah wajib bagi kita umat islam.
Bagi sebagian ini, yang belum mampu meng-inline-kan kehidupannya sebelum dan sesudah Romadlon, perlu untuk sedikit demi sedikit mendekatkan cara hidupnya sedekat mungkin dengan apa yang ia lakukan ketika Romadlon. Mulai membiasakan sholat berjama’ah dengan keluarga atau bahkan di masjid atau musholla terdekat meski tidak sampai lima waktu. Mencipta suasana makan bareng dengan berdo’a bersama yang biasanya ketika Romadlon didikte secara konstan oleh televisi. Mendekatkan waktu subuh dengan waktu bangun setiap anggota keluarga sedekat mungkin dengan waktu beraktifitas yang tidak sampai keluar waktu sholat, dan lainnya. Tentunya di awal ini butuh penyamaan system nilai antara suami, istri, dan seluruh anggota keluarga sehingga pada proses selanjutnya menjadi sebuah ekspresi yang solid yang menjadi rutinitas yang mewakili keluarga itu sendiri.
Kita mungkin sering mendengar dawuh Nabi SAW yang berbunyi, “Man shoma Romadlona iimanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqoddam min dzanbihi.” Menurut Syaikh Ali Jum’ah, Imanan bermakna membenarkan akan disyariatkannya puasa Romadlon dan membenarkan bahwa puasa di bulan Romadlon adalah sebuah bentuk ibadah yang diridloi Allah SWT. Karena iman secara bahasa bermakna percaya dengan tashdiq sebagai ekspresinya, membenarkan. Sedang ihtisaban bermakna ikhlas, dimana seseorang itu melakukan ibadah karena Allah SWT. Maka seseorang yang melaksanakan puasa Romadlon atas dasar iman dan ikhlas karena Allah SWT niscaya setiap dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Dalam Qomi’ut Tughyan, Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa ikhlas karena Allah SWT dalam beramal merupakan salah satu cabang iman, salah satu ekspresi keberimanan seseorang. Dengan mengutip al-Ghozali, Syaikh Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa ikhlas adalah tujuan dari amal seseorang yang murni karena ingin mendekat kepada Allah SWT, sehingga andaipun ketika ia tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya agar nantinya tubuhnya bugar kembali untuk beribadah maka tidurnya adalah ibadah. Dari pendekatan ini kita dapat memahami hadits yang menjelaskan bahwa “Tidur seseorang yang berpuasa adalah ibadah.” Dari pendekatan ini pula kita memiliki peluang untuk mereplikasikannya di dalam aktifitas kita sehari-hari, baik di dalam maupun di luar Romadlon.
Ekspresi yang dipilih oleh seseorang tentunya merepresentasikan nilai atau bahkan system nilai yang ia yakini. Seseorang yang sedari kecil diajari tentang nilai kejujuran hingga lambat laun nilai ini telah menjadi diri maka dalam keadaan apapun ia akan berlaku jujur. Seseorang yang cenderung lebih transaksional maka dalam posisi apapun dalam kehidupannya, bahkan ketika ia diaku sebagai sosok religius dalam strata sosialnya, ia akan selalu menimbang diri dalam perspektif untung-rugi. Apapun nilai atau bahkan system nilai yang kita pegang teguh akan mendefinisikan kita.
Jika diandaikan suami dan istri sama-sama memegang nilai ikhlas, yang merupakan bagian dari system nilai agama, lalu diturunkan pada anak-anaknya maka aktifitas apapun apapun yang keluar dari mereka adalah demi untuk mendekat kepada Allah SWT, bukan yang lain. Seseorang yang ikhlas karena Allah SWT akan mengawali harinya dengan menyegerakan sholat subuh pada waktunya, lalu berdzikir secukupnya, mendaras Al-Qur’an, atau mengistirahatkan badannya agar ia bugar untuk beraktifitas selanjutnya karena Allah SWT. Bagi seorang ayah yang bekerja, usai beranjak dari sholat subuh dan ritual ibadah lainnya akan segera bersiap untuk bekerja sehingga ia akan memenuhi dawuh Syaikh Abu Hasan al-Syadzily yang berbunyi, “Seseorang yang bekerja dan menjalani setiap ibadah fardlunya maka telah benar-benar sempurna mujahadahnya.” Bagi seorang anak yang sedang menempuh studinya, ia bersiap untuk pergi ke sekolah atau kampus untuk mencari ilmu niscaya ia telah memenuhi kewajiban yang didawuhkan Nabi SAW, “mencari ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan,” dan hadits lainnya. Bagi seorang istri yang mencuci pakaian suami dan anaknya, memasak, membersihkan rumah maka niscaya ia telah meringankan beban kewajiban suami karena sejatinya tugas kerumahtanggaan ini adalah kewajiban suami.
Setiap aktifitas diatas ketika dilandasi karena ikhlas lillah maka seluruhnya merupakan ibadah. Niscaya tidak ada satu tarikan nafaspun yang tidak bernilai ibadah. Dan ketika ikhlas lillah telah menjadi diri maka harapan khusnul khotimah menjadi lebih terukur. Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Qomi’ut Tughyan menjelaskan bahwa seorang muslim tempat kembalinya adalah surga. Muslim disini bermakna seseorang yang meninggal dalam keadaan islam. Tentunya tiada seorangpun yang mengetahui kapan ajal menjemput, namun yang kita ketahui dari penjelasan Syaikh Nawawi al-Bantani bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan islam maka tempatnya adalah surga. Dalam beberapa keterangan, ajal menjemput dengan fuj’ah, ketiba-tibaan. Jika ketiba-tibaan ini menjadi titik tekan, maka reflek kita dalam ketiba-tibaan adalah penentu. Jika reflek kita ketika dikejutkan adalah misuh, latah, atau bahkan istighfar, maka kita bisa mengasumsikan apakah kita kemungkinan tergolong khusnul khotimah atau sebaliknya.
Seseorang yang berpegang pada nilai ikhlas lillah hingga menjadi diri niscaya refleknya, ekpresi keterkejutannya, tidak akan jauh dari Allah SWT. Pada titik inilah seseorang yang seseorang yang ikhlas lillah kemungkinan khusnul khotimah-nya lebih terbuka. Dan belajar ikhlas ini yang paling mudah adalah di bulan Romadlon karena di bulan ini berlimpah booster yang memudahkan untuk belajar ikhlas dan berprilaku ikhlas hingga ikhlas menjadi diri. Dan Romadlon ini telah berakhir. Bagi yang telah mengisi Romadlonnya dengan iman dan ikhlas karena Allah SWT, maka kini waktunya otomatisasi. Bagi saya dan yang lain yang Romadlonnya terlewat tanpa mengoptimalkan keimanan dan keikhlasannya, maka sekarang dan sebelas bulan ke depan adalah waktunya belajar sehingga ketika kita ditakdir bersua Romadlon berikutnya kita mampu menjadi hamba yang benar-benar mampu berpuasa di bulan Romadlon dengan iman dan ikhlas karena Allah SWT sehingga termaafkan dosa-dosa kita yang telah lalu.
Mohon maaf lahir batin. Semoga kita bertemu Romadlon berikutnya.

