Sumur Keramat Mbah Shaleh Kelapa Telu
KhazanahDesa Kapu Kecamatan Merakurak merupakan daerah subur sebab termasuk wilayah yang berdekatan dengan sumber air Srunggo di sebelah barat desa ini. Bahkan di musim kemarau pun masih terdapat aliran sungai di sebelah barat desa yang mengalir dari selatan ke utara. Desa Kapu berbatasan dengan Dusun Pesantren Desa Mandirejo dan Desa Tahulu Kecamatan Merakurak. Ketiganya di masa lalu disebut dengan wilayah Kelapa Telu. Tempat di mana Kiai Shaleh mendirikan pesantren dan mengajarkan ilmu keislaman, khususnya ilmu ketauhidan, kesyariahan dan keikhsanan. Beliau dikenal sebagai tokoh ilmu tasawuf yang sangat mumpuni.
Kiai Shaleh bersaudara dengan Kiai Arifin dan Kiai Shamad. Kiai Arifin menurunkan mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Fathurrahman Kafrawi dan juga Penghulu Tuban, Kiai Kafrawi. Sedangkan Kiai Shomad menurunkan para Kiai di pesantren Dahlaniyah di Desa Senori Kecamatan Merakurak Tuban. Pesantren Dahlaniyah didirikan oleh Kiai Dahlan di Dusun Gemuntur Desa Senori Kecamatan Merakurak Tuban, Jawa Timur.
Hari Jum’at, 27 November 2020, saya dengan Mohammad Yusrol Fahmi dan Paklik Samuri datang ke Makam Kiai Shaleh. Bertepatan pada waktu itu ada acara memasang marmer di sekitar cungkup Kiai Shaleh. Pemasangan marmer ini dikerjakan oleh masyarakat desa Tahulu secara gotong royong tanpa upah. Mereka dengan rela menyumbangkan tenaganya untuk mengerjakan pekerjaan ini. Saya datang ke rumah Pak Mohammad Rukin, juru kunci Makam Mbah Saleh, dan oleh istrinya diberitahu kalau Pak Rukin sedang di makam Mbah Shaleh. Maka bergegas kami bertiga datang ke makam. Ketika saya memperkenalkan nama saya, Pak Rukin begitu terkejut, sambil menyatakan: "Oh Mbah Nur Syam dari Semampir." Lalu dengan polosnya disampaikan kepada para pekerja bhakti: “Ini Mbah Nur Syam, yang dulu pernah menjadi khatib di Masjid Istiqlal”. Mereka mengenal saya karena khutbah saya sekian tahun yang lalu. Bahkan saya sudah lupa tahunnya. Kalau tidak salah tahun 2011. Maka kami lalu akrab dengan berbagai cerita tentang masyarakat Tahulu, dan berbagai kegiatan keagamaannya. Dia bercerita tentang kiai Shaleh dengan berbagai kelebihannya, dan juga tanahnya yang diabdikan untuk kepentingan Islam di wilayah makam Mbah Shaleh. Tanah itu sekarang sudah dibangun untuk pendapa sebagai tempat khaul Mbah Shaleh.
Dia bercerita, bahwa memiliki keinginan di tanah yang diabdikan untuk umat Islam itu agar bisa dibangun pesantren. Cukup lama kami berbincang di malam Mbah Shaleh, lalu tibalah saatnya kami bersamanya melakukan kunjungan ke bekas pesantrennya. Memang sudah tidak didapatkan bukti apapun tentang bekas pesantren tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa bangunan pesantren di masa lalu, tentu hanya terdiri dari bangunan nonpermanen, sehingga bisa lapuk karena hujan. Hanya ada peninggalan yang dinyatakan sebagai sumur Mbah Shaleh. Masyarakat desa ini meyakini bahwa sumur itu merupakan sumur yang dibuat oleh Mbah Saleh. Posisinya berada di sebelah utara desa Tahulu dan di sebelah selatan Dusun Pesantren, Mandirejo. Saya memiliki keyakinan bahwa sumur tersebut di masa lalu mungkin berada di tengah-tengah antara desa Tahulu dan dusun Pesantren. Sumur ini dikelilingi oleh area persawahan yang sedang menghijau padinya. Kira-kira usia 1 sampai 2 bulan.
Sumur ini baru saja dibenahi, tahun 2018 yang lalu. Tanda-tanda sebagai bangunan baru masih sangat kelihatan. Dibenahi yang bagian atasnya. Bangunan yang di atas tanah itu ditembok, agar tidak kemasukan air dari sebelah kiri kanannya. Airnya melimpah, kira-kira hanya 2 meter dari permukaan tanah. Airnya kelihatan bening, sebagaimana sumur-sumur wali lainnya. Tentang posisi sumur yang berada di tengah-tengah di antara dua dusun ini, saya menjadi teringat dengan sumur Mbah Mutamakin di desa Pongpongan yang berada di perbatasan antara Dusun Pongpongan dan Dusun Semampir.
Saya berkeyakinan sumur ini digunakan oleh masyarakat di dua dusun itu untuk air minum. Jika untuk mandi, mencuci dan kebutuhan lain bisa dipenuhi dari air sungai, tetapi untuk minum dipenuhi dari sumber air di Sumur Mbah Mutamakin. Sayangnya kami tidak bisa melihat bentuk sumur ini ditinjau dari dinding dalam sumurnya. Airnya penuh jadi bentuk dalam dinding sumurnya tidak kelihatan. Tetapi saya yakin bahwa sumur ini pasti memiliki dinding bebatuan yang tidak rata, sebagaimana Sumur Ombe di Gesik Harjo, Sumur Ndangangu di Tasikmadu, Sumur Mbah Mutamakin di Semampir. Hal ini dinyatakan juga oleh Pak Rukin, bahwa di dalamnya terdapat papan bekas tempat Kiai Shaleh mengambil air wudlu. Katanya, dinding sumur ini memang tidak rata.
Sumur ini tetap dilestarikan oleh masyarakat desa ini. Jika di masa lalu sebagai tempat untuk mengambil air minum, tetapi karena perubahan zaman, sekarang masyarakat lebih cenderung menggunakan air mineral, maka sumur ini tetap dihargai dengan penghormatan secara ritual. Bukan menyembah sumur tentu saja, akan tetapi tetap dilakukan acara untuk tasyakuran atas nikmat Allah SWT berupa Sumur Mbah Shaleh, yaitu acara sedekah bumi dan tasyakuran pada setiap Hari Rabo Pon, bulan Besar atau Dzulhijjah setiap tahun. Acara ini diikuti oleh seluruh warga desa Tahulu, sebagaimana acara sedekah bumi atau tasyakuran pada umumnya.
Salah satu kearifan lokal yang saya kira merupakan kreativitas lokal adalah dengan memanfaatkan air sumur itu untuk pengobatan. Diyakini bahwa sumur sebagai peninggalan sacral para auliya mesti memiliki keberkahan karena idzin Allah SWT. Air merupakan instrumen kehidupan. Dengan air, maka yang kering menjadi basah dan dengan air maka yang mati menjadi hidup. Tetumbuhan akan menjadi hidup karena keberadaan air. Makanya, air menjadi inspirasi bagi seluruh agama dalam ritual keagamaan. Di dalam Islam setiap upacara keagamaan dimulai dengan wudlu. Di dalam agama Kristen atau Katolik terdapat upacara Baptis yang juga menggunakan air, dan di dalam acara Agama Budha seperti meruwat Rupang Bddha dengan percikan air.
Maka, air Sumur Mbah Shaleh juga digunakan untuk membantu orang yang sedang mengalami sakit. Sebagai pertanda baiknya adalah ketika seseorang yang meminta keberkahan air di Sumur Mbah Shaleh tersebut berwarna hijau kebiruan, maka sebagai indikasi kesembuhan, tetapi jika warna air itu hitam, maka akan mengalami kesulitan sembuh. Ini adalah dunia keyakinan, yang tentu bisa diyakini kebenarannya berbasis pada pengalaman sebagaimana yang dinyatakan sebagai kebenaran berbasis empiris transendental. Tentu ada yang menarik, sebab ketika saya datang di sumur itu, maka airnya berwarna hijau kebiruan dan bukan hitam. Maka, Pak Rukin menyatakan: “ini pertanda baik Mbah Nur Syam”. Subhanallah.
Pak Rukin juga menyatakan bahwa di tempat ini ada sajadah dan tasbih gaib. Tidak sembarang orang bisa melihatnya. Tetapi pernah ada kejadian, salah seorang dzurriyah Mbah Shaleh menemukan sajadah dan tasbih di sekitar sumur ini, dibawanya pulang. Tetapi pada malam harinya dia mimpi didatangi oleh seseorang diyakini sebagai Roh Mbah Shaleh dan berpesan agar sajadah dan tabih itu digunakan untuk shalat jamaah selama hidup. Maka dzurriyahnya itu berani dan akhirnya mengembalikan sajadah dan tasbih tersebut. Dia tidak berani untuk mengiyakan untuk shalat jamaah setiap waktu shalat wajib.
Inilah dunia keyakinan, yang tentu tidak semua orang meyakininya, sebab keyakinan adalah keyakinan dan tidak bisa dinyatakan sebagai yang bercorak empirik sensual sebagaimana pandangan kaum positivistik. Maka diyakini saja sebagaimana kebenaran empirik transendental bahwa dunia keyakinanpun merupakan kebenaran.
Wallahu a’lam bi al shawab.

