Sumur Mbah Mutamakin
KhazanahKetika saya masih duduk di sekolah dasar dan menengah, saya sering menonton acara “sindiran” atau “tayuban” yang dilakukan di sumur Dusun Pongpongan, Kecamatan Merakurak, Tuban. Acara ini untuk menandai upacara nyadran sumur di Dusun Pongpongan dan Dusun Semampir. Sumur itu berfungi sebagai sumber air utama. Di masa lalu sebelum ditemukan teknologi penyedot air bawah tanah, maka sumur ini menjadi sumber air yang menghidupi dua dusun, yaitu masyarakat Dusun Pongpongan dan Dusun Semampir.
Jarak sumur ini hanya 300 meter dari rumah saya. Sumur itu memang berada di batas Dusun Semampir dan Dusun Pongpongan. Antara Dusun Semampir dan Dusun Pongpongan dibatasi dengan sungai yang hanya banjir di musim penghujan. Saya teringat kalau musim penghujan dan terjadi banjir di sungai itu, saya dan kawan-kawan sebaya melihat dari atas jembatan yang menghubungkan dua dusun tersebut. Jembatan itu dibangun tahun 1970-an awal. Sebelum ada jembatan tersebut, jika masyarakat Dusun Semampir akan mengambil air sumur, maka mereka harus menyeberangi sungai kering dengan menggunakan wadah air dari tanah liat, yang disebut buyung. Para lelaki memikul dua buyung dan yang perempuan menggendong satu buyung. Terkadang di tengah jalan buyung itu pecah, maka usaha mengambil air pun menjadi sia-sia.
Penelusuran arkeologis
Pertanyaan dasar yang menggelayut di benak saya adalah, apakah benarkah sumur di Dusun Pongpongan ini sumur wali? Dahulu, Kakek saya, Mbah Ismail, bercerita bahwa sumur ini adalah Sumur Mbah Mutamakin. Sebutan Mbah adalah sebutan untuk orang yang dianggap linuwih atau memiliki kemampuan adi kodrati atau kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Jadi kalau disebut Mbah Mutamakin, berarti beliau adalah orang hebat yang memiliki kemampuan berbeda dengan orang lain pada umumnya.
Mbah Mutamakin membuat sumur sebanyak enam buah. Di Desa Pongpongan, Desa Senori, Desa Temandang dua buah, Desa Tobo, dan Tuwiri Kulon. Di sumur desa-desa ini selalu dilakukan upacara nyadran sumur setahun sekali. Biasanya dilakukan sebelum panen tiba. Upacara ini diselenggarakan di bawah kendali pamong desa dan diikuti oleh seluruh warga desa. Khusus untuk sumur di Dusun Pongpongan itu diikuti oleh masyarakat dari dua dusun, Semampir dan Pongpongan.
Di masa lalu, upacara ini diselenggarakan dengan acara tayuban atau sindiran. Di dalam acara ini didatangkan sindir atau waranggono dari Bojonegoro dan Ngawi. Sepengetahuan saya, sindir dari dua kabupaten ini memang hebat. Suaranya yang merdu dan tariannya yang baik, sehingga membuat banyak lelaki terpikat untuk mengikuti acara beksan yang diiringi oleh gamelan Jawa. Diketahui bahwa peralatan gamelan Jawa tersebut terdiri dari gong, saron, peking, kendang, gender, bonang dan kenong. Mungkin ada peralatan lain yang saya tidak mengetahuinya. Iramanya juga macam-macam, misalnya nada slendro dan pelog. Saya tentu tidak memahami secara mendasar tentang perbedaan keduanya. Hanya saja biasanya untuk acara manganan sumur itu lebih banyak menggunakan nada jenis pelog, bukan slendro. Kegiatan tayuban dimulai jam 12 siang hingga jam 05 pagi hari berikutnya. Tentu tergantung pada lelaki yang mengikuti acara beksan. Pemimpin acara tayuban adalah Jogoboyo, pamong desa. Sebelum acara dimulai, Jogoboyo melemparkan koin uang ke atas di tengah tempat acara sebanyak enam kali. Konon katanya, hal itu untuk menandai ada enam sumur yang dibuat oleh Mbah Mutamakin. Demikian pula yang dilakukan oleh masyarakat lokal di lima desa lainnya dalam acara nyadran sumur.
Enam sumur yang terdapat di desa-desa tersebut, memang memiliki ciri yang hampir sama. Sumur itu tidak merata bangunan dalamnya. Dinding sumur bagian dalam seperti terdiri dari batu cadas yang saling menonjol atau tidak merata. Jika dibandingkan dengan sumur-sumur yang dibuat oleh para ahli di zaman sekarang sungguh sangat berbeda. Jika di sumur yang dibuat sekarang itu rata dinding dalamnya, dan tertata dengan rapi, maka sumur yang dinisbahkan dengan sumur wali itu sungguh memiliki ciri khas yang membedakannya.
Sesuai dengan sejarah lesan, bahwa pembuatan sumur itu tidak melalui cara-cara lazim yang dilakukan orang sekarang, tetapi cukup dengan menusukkan tongkat ke tanah, maka sumber air itu ditemukan. Sebagaimana Sumur Ndangangu di Desa Panyuran, Palang Tuban. Sumur ini dinisbahkan dengan menantu Kanjeng Sunan Ampel, suami Nyai Ageng Manyura. Konon katanya, sumur ini dibuat agar Nyai Ageng Manyura dapat mengetahui keadaan suaminya ketika berada di Demak. Ki Ageng Manyura adalah prajurit Demak, sehingga setiap saat diperlukan tentu harus melakukan peperangan atau tugas-tugas lainnya. Disebut Ndangangu, artinya silahkan untuk melihatnya. Jika Nyai Ageng Manyura rindu terhadap suaminya, maka beliau melihat di air sumur itu, dan tampaklah wajah Ki Ageng Manyura. (Nur Syam, Islam Pesisir, 2005).
Baca Juga : Jastifikasi Perilaku Menyimpang Di Antara Muslim
Makna Sumur Wali
Semula saya kurang percaya jika sumur di Desa Pongpongan, Kecamatan Merakurak, Tuban itu adalah sumur yang dinisbahkan dengan nama yang sangat dikenal oleh masyarakat Islam, yaitu Syekh Mutamakin. Di dalam benak saya, bagaimana Syekh Mutamakin bisa membuat sumur di desa-desa ini. Syekh Mutamakin itu berada di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Sampai suatu ketika saya menulis disertasi, tentang “Tradisi Islam Lokal Pesisiran, Studi Konstruksi Sosial Upacara pada Masyarakat Pesisir Palang, Tuban, Jawa Timur” dan diterbitkan oleh LKIS dengan judul “Islam Pesisir” (2005), ketepatan saya mendapatkan buku Zainul Milal Bizawi, "Perlawanan Kultural Agama Rakyat: Pemikiran dan Keagamaan Syekh Ahmad Mutamakin dalam Pergumulan Islam dan Tradisi (1645-1840)". Buku ini membuat saya tahu bahwa Syekh Mutamakin pernah hidup di Tuban. Syekh Mutamakin dilahirkan di Tuban di sebuah desa di sebelah barat kota Tuban, kira-kira 10 KM, di wilayah Kembangbilo sebelah timur wilayah Merakurak.
Syekh Mutamakin adalah keturunan darah biru dari Pangeran Benowo dan keturunan salah satu Adipati Tuban dari Sayyid Ali Bejagung. Beliau menghabiskan masa mudanya di Tuban, dan masa tuanya di Pati. Kira-kira awal tahun 1700-an beliau meninggalkan Tuban untuk belajar agama di Mekkah dan kemudian sepulangnya dari sana menetap di Kajen, Pati, Jawa Tengah. Pesantrennya tetap terkenal hingga sekarang dengan nama Pesantren Maslakul Huda. Jika melihat data ini, maka Sumur Mbah Mutamakin di Dusun Pongpongan, Merakurak tersebut dibuat oleh Syekh Mutamakin kira-kira awal tahun 1700-an. Jika beliau lahir tahun 1645 M, maka usainya saat itu kira-kira 55 tahun. Beliau wafat kira-kira tahun 1740 M.
Sumur itu sangat penting dalam tradisi Islam. Di Masjid Nabawi, terdapat tanda tertentu yang menandai bahwa di bawah lantai tersebut pernah menjadi sumurnya Nabi Muhammad SAW. Sayydinia Ali Karramahullahu Wajhah juga memiliki sumur, yang sangat terkenal bagi jamaah haji Indonesia kloter pertama yaitu birr Ali, sebenarnya adalah Bi’ru Ali atau sumur Sayyidina Ali RA. Di dalam tradisi Islam, air adalah sumber kehidupan. Al-Qur’an, Surah Qaf ayat 9, dinyatakan bahwa dengan turunnya air dari langit (hujan) akan menandai kehidupan semua yang ada di bumi. Air itu penuh keberkahan. Tanah sebagai medium tumbuhnya pohon menjadi basah dan menghidupkan semua pepohonan tersebut.
Jika para waliyullah kemudian membuat sumur, hakikatnya adalah menyontoh kehidupan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga mengedepankan membangun sumur di dalam kehidupannya. Air begitu penting tidak hanya untuk sumber kehidupan, akan tetapi juga untuk kepentingan ritual. Hampir semua agama menjadikan air sebagai inti ritual. Agama Buddha dalam acara Meruwat Rupang Buddha juga memercikkan air. Agama Kristen atau Katolik dalam upacara Baptis juga menggunakan air. Bahkan tradisi Jawa di dalam pernikahan juga mengenal upacara siraman, yang menggunakan air sebagai mediumnya.
Air memang sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di dunia manusia, binatang dan tetumbuhan dan air juga menjadi medium upacara keagamaan bagi kebanyakan agama-agama di dunia ini.
Artinya, dengan membangun sumur berarti menghidupkan makhluk hidup dan sekaligus sebagai medium di dalam upacara keagamaan. Seluruh makam para waliyullah, dipastikan terdapat sumur untuk air minum dan bersuci. Waliyullah yang memiliki penglihatan luar biasa, a’inul bashirah, tentu memahami bahwa air memang sangat vital di dalam kehidupan ini. Di antara salah satu waliyullah yang memiliki kesadaran tersebut adalah Syekh Mutamakin.
Wallahu a’lam bi al shawab.

