Eksplorasi Ruang Angkasa dalam Perspektif Agama di Jepang
Riset SosialTulisan berjudul “Religion, Science, and Space Exploration from a Non-Western Perspective” adalah karya John W. Traphagan. Tulisan ini terbit di Religions Journal yang dipublikasikan oleh Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MDPI) tahun 2020. Karya Traphagan ini mencoba mengeksplorasi mengenai agama dan sains dari perspektif agama-agama Jepang sebagai landasan bagaimana cara berpikir dan mendefinisikan agama dan juga yang memiliki keterkaitan dengan praktik eksplorasi ruang angkasa. Di dalam review ini akan mengulas kembali karya Traphagan dalam empat sub bab. Pertama, konsep agama dan sains. Kedua, agama dan keyakinan. Ketiga, Implikasi agama Budha di Jepang.
Konsep Agama dan Sains
Di dalam menjelaskan mengenai bagaimana konsep dan keterkaitan antara agama dan sains, Traphagan memulainya dari fakta yang ada di Amerika Serikat dan Inggris sebagai contoh. Selanjutnya, ia menuliskan pendapat tiga tokoh, yakni Barbour untuk memahami kerangka epistimologi agama dan sains, serta Nells Nohr dan Werner Heise mengenai perbedaan keduanya.
Di dalam wacana publik Amerika Serikat dan Inggris, mereka memahami bahwa sains dan agama tidak sesuai. Bahkan, bukan menjadi rahasia umum jika terdapat “tradisi” yang menunjukkan adanya permusuhan antara mereka yang memiliki “cara berpikir” religius dan ilmiah. Terdapat beberapa filsuf dan teolog yang mencoba mengidentifikasi kesamaan antara kerangka epistemologi sains dan agama. Salah satu yang terkenal adalah tulisan Ian Barbour berjudul “Issues in the Study of Science and Religion”. Tulisan tersebut mengeksplorasi cara sains dan agama bertemu. Di dalam karyanya yang spekulatif, Barbour meneliti tipologi agama dan sains yang bergerak melalui fase konflik, kemerdekaan, dialog dan integrasi.
Selain itu, ilmuwan alam (Natural Scientists) juga mengeksplorasi gagasan mengenai bagaimana agama dan sains yang secara fundamental bertentangan, serta bagaimana agama dan sains bisa bersinggungan. Stephen J. Gould, Carl Sagan dan Albert Einstein telah banyak memberikan gagasan mengenai agama, baik dari sudut pandang positif maupun negatif. Nells Bohr dan Werner Heise, fisikawan, menyatakan bahwa agama dan sains memiliki perbedaan dalam penggunaan bahasa, karena bahasa agama lebih mirip dengan puisi. Mereka juga menyatakan bahwa, sebenarnya tidak perlu memisahkan agama dan sains menjadi realitas yang berlawanan.
Agama dan Keyakinan
Traphagan memposisikan diri sebagai antropolog, sehingga secara langsung ia menyatakan tidak tertarik untuk mengeksplorasi bagaimana konsep agama samawi terkait hubungan antara agama dan sains. Ia beranggapan bahwa selama satu abad, asumsi mengenai “konflik” yang dibutuhkan sudah dilembagakan, terlepas dari fakta mengenai cara berpikir tentang agama. Traphagan secara tegas menjelaskan bahwa, ia setuju dengan pendapat Geertz bahwa agama paling baik dipahami sebagai sistem budaya. Di mana, budaya dipahami sebagai seperangkat makna yang ditransmisikan secara historis kemudian diekspresikan dalam bentuk simbolik. Selanjutnya, manusia akan mengkomunikasikan gagasan mengenai kehidupan, alam semesta dan lain sebagainya.
Traphagan beranggapan bahwa, para antropolog lebih memilih fokus terhadap “ritual” daripada agama. Hal ini sebabkan, konsep “agama barat” yang melibatkan kepercayaan terhadap dewa maupun Tuhan, sering kali gagal diterjemahkan dengan baik dalam konteks non-barat. Hasil penelitian Traphagan di Jepang menunjukkan bahwa, keyakinan tidak dianggap sebagai prasyarat untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan. Selain itu, tidak perlu perasaan bahwa seseorang perlu berkomitmen pada “keyakinan” tertentu sehingga mengecualikan keyakinan dan ritual yang terkait dengan agama lain, bahkan sering kali muncul anggapan agama yang salah.
Baca Juga : Tik Tok Shop Berkibar, UMKM Gulung Tikar
Implikasi agama Budha di Jepang
Traphagan menjelaskan pemikirannya bahwa, implikasi paling penting yang ditimbulkan dari praktik Budha di Jepang adalah tidak ada konflik yang melekat antara “agama dan sains”. Hal ini disebabkan adanya anggapan tidak ada ketegangan filosofis atau teologis yang jelas antara pandangan dunia agama dan ilmiah. Lebih lanjut Traphagan menjelaskan hasil penelitian Cappier terkait agama Budha.
Daniel Capper dalam artikelnya yang berjudul "The Search of Microbial Martian Life and American Buddhist Ethnics" menjelaskan bahwa, agama Budha pada umumnya cenderung menjunjung tinggi kehidupan manusia karena kemampuannya untuk mencapai pencerahan. Bahkan, menekankan perlunya menghindari pembunuhan. Traphagan menganggap pernyataan ini justru menimbulkan kontroversi. Sebab, ia beranggapan bahwa layaknya kehidupan yang lain, membunuh terkadang diperlukan guna bertahan hidup. Meskipun, dari sudut pandang etika manusia sebaiknya menghindari pembunuhan.
Traphagan menambahkan bahwa, hubungan agama dan sains yang berkaitan dengan ekspresi luar angkasa dalam pandangan masyarakat non-barat perlu mempertimbangkan variasi dari tradisi agama yang berbeda. Misalnya, pertanyaan mengenai hakikat sains, hakikat alam semesta, atau bahkan kepentingan yang berbeda. Traphagan juga mengakui bahwa fakta agama itu sangat “kultus” untuk mendefinisikan dan dimanifestasikan dalam kaitannya dengan variasi budaya yang diekspresikan dalam bagian yang berbeda.
Gagasan umum Amerika bahwa agama dan sains selalu berselisih, dan dapat diatasi dengan ekspansi ke luar angkasa adalah sebuah “kesalahan”. Kenyataannya, sebagian besar adalah produk dari tradisi budaya barat dimana agama didasarkan pada keyakinan, sehingga sering dipandang secara alamiah bertentangan dengan sains yang didasari pada sebuah alasan.
Kesimpulan
Traphagan mencoba menjelaskan mengenai perdebatan agama dan sains dalam menjelaskan luar angkasa. Namun, ia tidak menjelaskan secara clear mengenai ruang angkasa dan bagaimana ekspansi manusia ke luar angkasa. Ia hanya menjelaskan perdebatan mengenai perbedaan agama dan sains. Traphagan tidak pula menjelaskan agama apa saja di Jepang sesuai dengan judul yang ia sematkan. Namun, secara keseluruhan ia lebih memperdalam dari perspektif Budha di Jepang. Terlepas dari kekurangan itu Traphagan menunjukkan posisinya secara jelas bahwa ia menganggap agama adalah sebuah budaya. Sehingga secara tidak langsung ia menggarisbawahi bahwa kebenaran adalah produk wacana intelektual barat. Tradisi dan budaya tidak perlu berpusat pada gagasan konflik antara agama dan sains dari pemikiran dan perilaku manusia.

