Tradisi Mulotan Pada masyaratakat Situbondo : Ekspresi Syukur atas Kelahiran Nabi Muhammad
KhazanahOleh: Ismail*
Masyarakat Situbondo dikenal sebagai masyarakat pecinta sholawat Nabi, hal ini berdasarkan fakta bahwa di dalamnya dapat kita jumpai ratusan bahkan ribuan pelaksanaan kegiatan sholawat dalam setiap bulannya. Kecintaan mereka terhadap bersal dari pendekatan dakwah yang dilakukan oleh para kiai di Situbondo yang salah satunya dengan terus menerus berusaha meningkatkan kualitas kecintaan dan kesetiaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW.
Kecintaan kepada nabi yang dibangun oleh para kiai itulah yang kemudian membuat ekspresi keagamaan masyarakat situbondo terbilang unik dibanding kabupaten lain, terutama dalam kegiatan Mulotan atau Peringatan kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Tradisi Mulotan sendiri sebenarnya merupakan tradisi keagamaan yang sudah ada di mana-mana dalam masyarakat indonesia. Sekalipun dengan nama dan rundown acara yang berbeda-beda dalam setiap daerah, semisal Grebeg Maulud di Yogyakarta, Kirab Ampyang di Kudus, Panjang Jimat di Cirebon, dan Mulotan di Situbondo, akan tetapi jika dilihat dari motif dasar pelaksanaannya dapat dipastikan sama yaitu memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAAW.
Adapun rangkaian kegiatan Mulotan sebagaimana acara pengajian pada umumnya, dimulai dengan tawassul, pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, Sholawat Nariyah, Sambutan, Ceramah Agama, Pembacaan Maulid, dan ditutup dengan Do’a. ada dua bentuk perayaan mulotan di daerah situbondo, mulotan besar berbentuk pengajian dan mulotan kecil antar warga. Mulotan besar biasanya dilaksanakan pada siang hari ba’da Sholat Dluhur hingga menjelang maghrib atau malam hari ba’da sholat Isya\' hingga tengah malaman. dan mulotan kecil merupakan kegiatan antar warga yang biasanya dilaksanakan setelah maghrib dan sudah selesai sebulum adzan isya’ karena acaranya hanya pembacaan Maulid saja.
Beberapa keunikan yang menjadi faktor pembeda antara pelaksanaan peringatan maulid Nabi di daerah lain dengan di kabupaten Situbondo diantaranya adalah: Pertama, Tradisi Mulotan tidak hanya dilaksanakan pada bulan Rabi’ul awal saja, uforia dan keriuhan suasana peringatan Maulid Nabi sudah dapat dirasakan bahkan dari akhir bulan muharram dan baru berakhir di awal bulan Rajab. Masyarakat Situbondo meyakini bahwa ungkapan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak hanya di bulan Rabi’ul Awal saja, akan tetapi adanya rasa syukur atas kelahiran Nabi dalam hati manusia merupakan keniscayaan yang wajib manusia itu lakukan. Salah satu dauh ulama’ yang sering dijadikan pijakan dasar oleh masyarakat dan para kiai di kabupaten situbondo dalam menentukan waktu pelaksanaan mulotan adalah ungkapan populer Syaikh al-Imam Abdurahman al-Diba’i yang menyatakan “Walau anna amilna kulla yaumin li ahmad maulidan qad kana wajib” (seandainya kita memperingati maulid Nabi Muhammad SAW setiap hari, maka itu pun adalah hal yang wajib).
Baca Juga : Kilas Peretasan Media Massa di Era Covid-19
Seiring dengan konsep pelaksanaan Maulid Nabi seperti yang dikemukakan oleh Syaikh al-Imam Abdurahman al-Diba’i di atas, yaitu gagasan pemikiran bahwa letak sakralitas bulan Rabi’ul Awal bukanlah berasal dari bulan itu sendiri, melainkan karena bulan tersebut pernah menjadi saksi atas kelahiran sosok Insaanul Kamil yaitu Nabi Muhammad SAW. Katakanlah seperti halnya hari senin yang kita ketahui tidak ada kemuliaan khusus di dalamnya melainkan karena merupakan hari kelahiran Nabi SAW. Gagasan inilah yang kemudian menjadi keyakinan masyarakat Situbondo bahwa segala sesuatu yang ada hubungannya (sambungannya) dengan Nabi Muhammad SAW akan kecipratan kemuliaannya. Sehinga tidak menjadi sebuah problem bagi mereka kapan acara Mulotan ini bisa dilaksanakan.
Kedua, adanya Safari Maulid yang diadakan oleh para pengasuh pesantren se Kabupaten Situbondo. Safari Maulid adalah acara Mulotan yang diadakan secara Anjangsana (bergiliran) sesuai jadwal yang ditentukan dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Kurang lebih terdapat 43 pondok pesantren yang tercatat dalam jadwal resmi Safari Maulid pada tahun 2022. Selain itu ada pula Safari Maulid khusus Wanita yang diadakan olah para syarifah dan ibu nyai, disamping kegiatan Mulotan kecil di kampung-kampung yang juga bergiliran antar masjid dan antar warga. Adanya Safari Maulid ini sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan rutinitas keseharian sebagian masyarakat Situbondo, mereka melakukan penyesuaian jadwal keseharian mereka demi bisa terus menghadiri kegiatan ini. Sebagai salah satu contoh yang dapat kita saksikan yaitu nelayan yang biasanya bekerja di sore hingga malam hari akan berubah bekerja di pagi hari demi bisa mengikuti Safari Maulid yang kebetulan jadwalnya pada malam hari.
Ketiga, adanya tradisi Ghentongan yang semakin menambah semaraknya acara Maulid Nabi di kabupaten Situbondo. Tradisi Ghentongan (gantungan) sebenarnya merupakan tradisi yang telah dilakukan sejak jaman dahulu. Sekalipun belum ada penelitian secara mendalam terkait kapan dan siapa yang awal mulanya mengadakan tradisi ini, namun hingga saat ini budaya tersebut masih tetap dilaksanakan saat Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam prakteknya pihak panitia atau penyelenggara Mulotan biasanya akan menggantungkan beragam pernak-pernik di atas lokasi acara. Nantinya di atas para tamu atau undangan yang hadir akan terdapat juluran tali yang tergantung beraneka ragam benda. Benda-benda tersebut biasanya berupa peralatan dapur yang terbuat dari plastik, seperti saringan, baskom, ember, keranjang dan beragam alat dapur lainnya. Adapula yang berupa pakaian, mukena, sarung, peci dan juga ada yang menggantung camilan dan makanan ringan.
Keberaneka ragaman benda yang digantung di acara Mulotan biasanya tergantung Shohibul Hajat (yang mengadakan) acara Mulotan itu sendiri. Penjual pecah belah misalkan akan menggantung barang-barang pecah belahnya, penjual baju akan menggantung sebagian baju-baju jualannya, begita pula penjual buah-buahan akan menyumbangkan buah-buahannya sebagai Ghentongan di acara Mulotan.
Motif dari adanya tradisi Ghentongan ini sebenarnya erat kaitannya dengan tradisi ngalap berkah di kalangan Nahdliyin. Mereka berkeyakinan bahwa sebagian harta yang mereka gunakan untuk suksesnya acara Mulotan ini terutama dalam penyediaan Ghentongan dapat menularkan keberkahan kepada dirinya, keluarganya, dan harta bendanya. Disamping sebuah keyakinan bahwa harta benda duniawi jika tidak “dihadiahkan” kepada baginda Nabi Muhammad SAW akan menjadi sesuatu yang tak ada nilainya. Itulah mengapa masyarakat Situbondo berlomba-lomba dalam penyelenggaraan acara Mulotan dengan tradisi Ghentongan ini, mereka rela manabung dari jauh-jauh hari demi terselenggaranya acara tersebut.
Antusiasme dan uforia masyarakat Situbondo dalam melaksanakan acara Mulotan merupakan salah satu bentuk ekspresi dan implementasi dari firman Allah yang berbunyi “Katakanlah: \"Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”. Luapan rasa syukur dan kegembiraan mereka atas rahmat yang paling besar yakni adanya Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan lil Alamin diekspresikan melalui acara-acara Mulotan yang mereka adakan. Hal ini sebenarnya sah-sah saja , mengingat tidak ada adanya larangan bagi setiap individu baik dalam al-Qur’an maupun Hadits di dalam mengekspresikan kebahagiaanya, sepanjang hal itu tidak melanggar ketentuan-ketentuan syariat.
* Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

