(Sumber : Dokumentasi Penulis )

Ulama Hadramaut dan Dakwah di Jambi

Khazanah

Semuanya disebabkan oleh undangan Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, Prof. Dr. As’ad Isma, MPd, yang mengundang saya ke UIN STS Jambi untuk menguji disertasi dan memberikan taushiyah akademis kepada pimpinan dan dosen Pascasarjana UIN STS Jambi. Tentu semua karena takdir Allah. Saya hadir di Jambi yang sebelumnya  tidak tahu bahwa hari Selasa, 18/06/2024 adalah hari cuti bersama. 

  

Dalam pikiran saya, hari Selasa bisa dua acara sekaligus, yaitu menguji disertasi dan ceramah akademis sehingga Rabo pagi sudah bisa kembali ke Surabaya. Namun karena hari Selasa adalah cuti bersama, maka acara taushiyah akademis dilaksanakan pada Selasa malam, mulai jam 20.00-22.30 WIB. Tetapi semuanya ternyata mengandung hikmah. Melalui kedatangan saya pada Senin, 17/06/2024 sehingga terdapat waktu longgar pada Selasa pagi. Waktu  luang itulah yang kemudian memberikan kesempatan saya untuk berziarah ke makam auliya, para penyebar Islam, di wilayah Jambi. 

  

Ditemani oleh Pak Dr. Jamrizal yang memang diminta Pak Rektor untuk menemani saya dan juga Sisran, kandidat doctor,  Wakil Ketua I STAI Jari Nabi Tanjung Jabung Timur, yang akan ujian pada hari Rabo pagi, saya berziarah ke makam-makam yang sangat terkenal pada masyarakat Muslim Jambi. Dr. Jamrizal pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama di beberapa kabupaten di Jambi dan sekarang menjabat sebagai Sekretaris Kopertais Wilayah Jambi.

   

Bagi saya bisa berziarah ke makam para leluhur da’i di masa lalu adalah sebuah kebahagiaan. Saya sungguh menikmati “bercengkerama” dengan makam-makam para penyebar Islam generasi pertama di Nusantara. Saya bisa tenggelam dalam dzikir di makam-makam “keramat” yang hingga hari ini masih bisa dikunjungi. Saya bisa merasakan aura “kesucian” dari makam-makam tersebut. Saya menulis ini tidak didasari oleh upaya untuk mengkultuskan atas kuburan orang di masa lalu, tetapi saya sungguh mengapresiasi dan memuliakan atas perjuangannya di masa lalu untuk menyebarkan Islam di Nusantara. 

  

Kita bisa menjadi umat Islam bahkan umat Islam terbesar itu karena jasa-jasa mereka para waliyullah generasi pertama di Nusantara tersebut. Saya tidak ingin menjadi orang yang berpikir ahistoris. Bahwa kehadiran para waliyullah ke Nusantara adalah peristiwa sejarah yang bukti-bukti historisnya bisa dipahami. Saya membayangkan bagaimana beratnya dakwah di masa itu, sebab yang dihadapi adalah orang-orang yang berkepercayaan animisme atau dinamisme atau agama-agama local.

  

Saya bisa menziarahi makam Habib Idrus bin Hasan Al Khufry di Olak Kemang. Makam di seberang jalan itu tertata rapi. Saya kira batu nisannya khas. Saya tidak tahu, apakah nisan itu asli atau sudah diganti. Tetapi yang jelas kelihatan keantikannya. Makam dengan asesori bunga mekar itu tampak sebagai makam yang khas Jambi. Nyaris semua nisan mengikuti gaya seperti itu.  Di atas pintu maqbarah  terdapat tulisan: “Maqbaroh Ad Da’i ilallah Al Habib Idrus bin Hasan al Khufri (Al Amir Wiro Kusumo) Jambi Al Sulthonah (1822-1902)”. Tempat untuk menancapkan batu nisan terbuat dari marmer dengan lima undagan. Bisa jadi lima undagan tersebut untuk menggambarkan rukun Islam. Artinya, Habib Idrus adalah seorang da’i yang mengajarkan tentang lima rukun Islam kepada masyarakat Jambi. 

  

Saya meneruskan perjalanan ke makam Auliya Al Habib Husin bin Ahmad Baraqbah, seorang da’i ilallah yang datang ke Jambi tahun 1136 H dan wafat tahun 1137 H. Di atas pintu maqam terdapat tulisan di dalam tulisan Arab pegon dan Bahasa Indonesia: “ Alhabib Husin bin Ahmad Baraqbah ke Jambi al Sanah 1138 H wafat Al sanah 1137 H dalam Bahasa Arab Pegon dan dalam Bahasa Indonesia Al Habib Husin bin Ahmad Baraqbah ke Jambi Tahun 1138 H Wafat Tahun 1183 H”. Habib Husin datang di Jambi kira-kira tahun 1714 M. Makam  tersebut berada di dalam hijab berwarna hijau dengan pembatas berbahan besi berlapis warna putih. Ada beberapa makam di sekitarnya, istri dan putra-putranya. Bangunan makam berdinding terbuka ini sangat terawat dan bersih. Ada seorang yang menjadi juru kunci makam yang mengaku masih dzurriyahnya Syekh Baraqbah. Di  lantainya  terdapat karpet berwarna hijau namun tidak keseluruhan lantai. Di dinding sebelah makam terdapat daftar siisilah sebagai berikut: “Husin, Ahmad, Abdurrahman, Ahmad, Abdurahman, Umar, Abdurrahman, Umar Baraqbah, Ahmad Al Aksah, Muhammad Shahib Mirbath, Adullah Baalawi, Alawi Al Ghayur, Muhammad Faqh Al Muqaddam, Ali, Muhammad Shahib Mirbath, Al Kholi Qasim, Alawi, Muhammad, Alawi, Ubaidillah,  Ali Muhajir Ahmad, Isa Arumi, Muhammad Naqib, Ali Al Uraidhi, Ja’far Ash Shadiq, Muhammad Al Baqir,  Imam Ali Zainal Abidin,  Imam Hussain, Fathimah Azzahra, Rasulullah SAW.  Tempat makam ini disebut sebagai Tahful Yaman. Tentu terkait dengan asal usul Habib Husin Baragbah yang berasal dari Yaman.

  

Silsilah ini dapat dibaca dan diyakini oleh juru kunci makam, bahwa silsilah ini benar adanya. Inilah dunia keyakinan yang tentu saja kita berbeda pendapat. Ada yang membenarkan dan ada yang menganggap palsu. Tetapi tentu tugas saya bukanlah untuk melakukan penilaian atas nasab tersebut. Saya tidak memasuki kawasan yang saya tidak memahami secara utuh. Biarlah bagi mereka yang meyakini kebenarannya berusaha untuk membenarkannya dan bagi yang menganggap batal juga dipersilahkan untuk membatalkannya. Bagi saya yang penting tetap menjaga ukhuwah nahdhiyah saja. 

  

Masih beruntung bahwa Islam di Indonesia warisan para waliyullah itu tetap bertahan di tengah gelombang penjajahan Belanda yang konon katanya 350 tahun. Indonesia tidak seperti Singapura yang Islamnya nyaris habis, atau Filipina yang Islamnya juga nyaris habis, demikian pula Islam di Thailand, Vietnam  dan Burma.

  

Saya bersama tim lalu menziarahi Makam waliyullah Habib Kahfi di Tanjung Johor. Melihat namanya,  kelihatannya Habib Kahfi berasal dari Johor, yang di masa lalu merupakan wilayah Kerajaan Islam Tumasek. Nama Datuk Kahfi juga dikenal oleh masyarakat Banten, sebab beliau adalah cikal bakal dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dan juga ada kaitannya dengan Syekh Abdul Jalil yang dikenal sebagai Syekh Siti Jenar. Saya menganggap bahwa  Syekh Datuk Kahfi Banten ini tidak sama dengan Habib Kahfi yang di Jambi. Perlu kita cek masa dakwahnya. Makam ini berada di pinggir Sungai Batanghari. Makamnya ditinggikan karena jika luapan air sungai tinggi maka makam tersebut terendam  air. Makanya dipugar dan ditinggikan. Harus naik tangga untuk sampai di makam tersebut. 

  

Dua makam lainnya adalah KH. Ahmad bin Syakur (Guru Gemuk). Guru Gemuk ini juga mendapatkan sebutan Tahtul Yaman, artinya bahwa Guru Gemuk tentu memiliki genealogi dengan Habib Husin Baragbah. Yang terakhir kami mengunjungi makam M. Najmi bin Abdul Qadir di Olak Kemang. Nama ini tentu bisa dikaitkan dengan Habib Idrus. Dua yang terakhir adalah pendiri pesantren yang sangat terkenal di Jambi. 

  

Melalui kunjungan atas makam para waliyullah ini, maka kita bisa memahami bagaimana upaya mengislamkan masyarakat di wilayah tersebut. Islam menjadi agama mayoritas di Nusantara tentu tidak bisa dilepaskan dari upaya para da’i di masa lalu  dengan semangat dan etos kerja dakwah yang luar bisa. Kita harus bersyukur kepada Allah yang menggerakkan orang Yaman, Hadramaut, yang kemudian dikenal sebagai habaib yang telah mengislamkan Nusantara.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.