Yuvika Farnaz Adzkiya: Gadis Kecilku
KhazanahSalah satu kebanggaan bagi orang tua adalah ketika anak atau cucunya bisa menapaki dunia pendidikan dan menyelesaikan Pendidikan pada saatnya. Di antara kebahagiaan saya, Sabtu yang lalu, 12/06/2021 adalah ketika Yuvika Farnaz Adzkiya, gadis kecil enam tahun 11 bulan, yang terbiasa memanggilku dengan sebutan ayah berhasil menyelesaikan pendidikan di kelas Bilingual Taman Kanak-Kanak (TK) Masjid Nasional Al Akbar Surabaya.
Kedekatan saya dengan gadis kecil ini memang luar biasa, sebab ketika saya di Jakarta, maka mamanya, dr. Dhuhratul Rizqiah membawanya ke Jakarta dan menyerahkan gadis kecil itu untuk saya asuh di Jakarta. Mamanya, memiliki kesibukan di Surabaya sebagai dokter Puskesmas, dan waktu itu ayahnya juga bekerja. Dari pada diasuh pembantu sehari-hari si Gadis Kecil itu diserahkannya untuk saya asuh bersama Eyang Putrinya, Hj. Mukminatus Sukindah.
Saya masih teringat betul pada waktu itu, hari Sabtu dan saya ketepatan diundang oleh Bu Atun untuk mengisi acara di Pulau Seribu. Saya lupa di mana tempatnya. Yang jelas sore hari saya berangkat dari Ancol, sebab Vika baru datang dari Surabaya. Begitu senangnya, maka saya sekeluarga pergi ke pulau Seribu. Kalau tidak salah bulan Desember 2014. Tidak mempertimbangkan bagaimana keadaan lautan menuju Pulau Seribu, yang penting berangkat. Saya sungguh tidak tahu bahwa cuaca lagi kurang bersahabat. Speed boot yang kami naiki dengan segenap pejabat dan staf di Ditjen Pendis itu harus menerjang ombak yang tinggi. Saya teringat di tengah-tengah ada suara desingan dari speed boot, suara “nginggggg” dan tiba-tiba mesin mati. Seluruh penumpang pada panik. Saya harus menjadi penguat mental untuk seluruh penumpang. Ada yang pusing bahkan muntah. Pokoknya serem. Tetapi dengan pertolongan Allah sampai juga di pantai di kepulauan Seribu. Pada waktu turun, saya tanya kepada pengemudi: “berapa ketinggian ombak?”, dijawab kira-kira dua meter. Waduh. Pada saat itulah rasa kebahagiaan itu muncul. Bayangkan saya, istri, anak dan cucu pertama berada di dalam speed boot, yang tadi diombang-ambingkan gelombang laut menuju kepulauan Seribu.
Seiring perjalanan waktu, maka Yuvika menjadi anak yang tumbuh, baik fisik maupun kecerdasannya dengan sangat normal. Bahkan menurut saya tingkat kecerdasannya tumbuh dengan sangat baik. Sebagaimana anak kecil maka Vika juga menyukai film-film kartun. Dan sebagaimana diketahui bahwa film kartun anak-anak kebanyakan diproduksi oleh dunia barat. Yang dari Indonesia belum ada yang menarik. Makanya, Vika lalu berusaha menirukan Bahasa Inggris yang didengarnya. Usianya mungkin tiga tahun. Maka sekaligus agar bisa lebih tertata Bahasa Inggrisnya, maka saya kursuskan di I Can Read. Ketepatan tempat kursus dekat dengan rumah. Waktu itu saya bangga karena Vika bisa mengikuti perkembangan belajar Bahasa Inggris dan bahkan sudah berani untuk berbicara dan mengekspresikan cerita-cerita di dalam Bahasa Inggris. Vika sangat sibuk setiap harinya, sebab selain sekolah yang dia minta setiap hari mestinya cukup tiga harijuga les balet, renang dan pendidikan Al-Qur’an. Dia senang karena selain belajar Alqur’an di Masjid Sunda Kelapa, maka les lainnya diselenggarakan di Mall Casablanca. Dia wira-wiri setiap hari ke Mall.
Sampai akhirnya saya harus mengakhiri bekerja di Jakarta, 01-09-2018. Bukan perkara mudah untuk penyesuaian Vika ke Surabaya. Dia harus berpisah dengan kawan-kawannya les bahasa Inggris: ada yang dari Singapura, Malaysia dan Australia, juga berpisah dengan kawan-kawan baletnya. Bahkan dia tidak mau pindah ke Surabaya. Tiga hari harus di hotel dan baru hari keempat ke rumah. Dia terus menyatakan kapan akan kembali ke rumah di Jakarta, Rumah Dinas, Jalan Indramayu No.14, Jakarta Pusat.. Itulah yang dianggap rumahnya, dan yang di Surabaya bukan rumahnya. Lama sekali penyesuaian ini. Belum lagi harus mencarikan dia kursus Bahasa Inggris, dan balet. Khusus Bahasa Inggris memang ada I Can Read, tetapi tenpatnya jauh di PTC Pakuwon, dan dekat ITS. Maka saya masukkan di English First (EF). Rupanya memang berbeda. Kala di I Can Read lebih terkonsentrasi di conversation, sedangkan di EF lebih ke grammar dan pronunciation. Perubahan ini yang membuat kemampuannya untuk berbicara menjadi stagnan. Tetapi kemampuan pronunciation makin bagus. Bahkan saya sering disalahkan dalam pronounciation ini. Dia mampu membedakan antara F dan V dengan sangat tepat, demikian pula membaca R atau TH dan sebagainya. Saya sering dimintanya untuk mengulangi dia bicara dalam Bahasa Inggris dengan ungkapan yang cepat dan ketika saya tidak bisa, maka dia menyatakan: “capek saya Yah mengajarinya”. Lalu kami bisa tertawa terpingkal-pingkal. Gemes banget.
Sayang pembelajaran daring menyebabkan Vika tidak bergairah belajar terutama Bahasa Inggris. Akhirnya program di EF harus berhenti sampai buku empat. Tetapi yang saya senang, dia berkemampuan membaca kalimat-kalimat dalam Bahasa Inggris dengan baik. Saya membayangkan bahwa belajar Bahasa di usia pemula ternyata memang lebih baik. Sama dengan belajar Alqur’an di usia dini juga lebih baik. Namun ada satu yang harus ditekankan adalah semangat belajar kelompok. Dia lebih nyaman belajar sendiri dengan gurunya, termasuk guru ngaji.
Tidak terasa bahwa Vika sudah tujuh tahun, dan tanggal 14 Juni adalah ulang tahunnya. Ditanya sama bundanya: di mana Kak Vik ulang tahunnya?. Dengan tegas dia menjawah: “di rumah saja”. Akhirnya diputuskan bahwa ulang tahunnya yang ke tujuh akan dilaksanakan di rumah dengan membeli makanan yang menarik dan nanti akan dikirim ke kawan-kawannya dan tetangga dekatnya. Tanpa terasa Vika sebentar lagi akan masuk ke Sekolah Dasar. Bersyukur dia diterima di SD Al Muslim. Yang sementara kalangan menganggapnya sebagai sekolah yang berkualitas.
Tahun berjalan terus tanpa bisa dihentikan meski sejenak. Saya semakin senior untuk tidak menyebut tua, dan Vika juga semakin besar. Dan yang saya suka dari dia adalah kejenakaannya, dan yang juga membuat saya bahagia karena setiap malam saya tidur bersama gadis, anakku Yuvika Farnaz Adzkiya.
Kalau saya pamit mau pergi keluar kota, maka yang dia nyatakan: “Ayah itu harus pergi dengan saya, biar ada kawannya, jangan pergi sendiri nanti Ayah sendirian”. Betapa ungkapan-ungkapan begini sangat membahagiakan bagi orang tua yang menganggap bahwa si kecil adalah mainan di kala usia semakin senja.
Wallahu a’lam bi al shawab.

