Pengaruh Kepribadian, Motivasi dan Kelas Sosial dalam Memilih Bank
Riset SosialTulisan berjudul “The Influence of Personality, Motivation and Social Class Toward Costumerts ‘Decision Making’ in Choosing Bank Riau Kepria Sharia Tembilahan Kota” merupakan karya Nur Syam, Nur Kholish, Suryani, Iskandar Ritonga dan Hansen Rusliani. Artikel ini terbit di International Journal of Innovative Science and Research Technology tahun 2021. Tujuan dari peneltian tersebut adalah menganalisa sejauh mana pengaruh kepribadian, motivasi dan kelas sosial terhadap pengambilan keputusan menjadi nasabah Bank Riau Kepri Syariah (BRKS). Penelitian tersebut menggunakan metode kuantitatif eksplanatori guna menjelaskan hubungan antara variabel satu dengan lainnya. Variabel terikat pada penelitian ini adalah keputusan menjadi nasabah BRKS Tembilahan Kota (Y), variabel bebas yang dunakan adalah variabel kepribadian (X1), varibel motivasi (X2) dan variabel kelas sosial (X3). Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling pada semua pelanggan BRKS selama periode Januari 2021, sebanyak 205 responden. Di dalam review ini akan dijelaskan beberapa sub bab… guna mengulas secara singkat isi dari artikel tersebut.
Pendahuluan
Saat ini pertumbuhan perbankan syariah di dunia sangat pesat, rata-rata lebih dari 15% per tahun dengan asset lebih dari $250 juta. Sepuluh negara telah mengembangkan sistem keuangan Islam ini, yakni Malaysia, Bahrain, UEA, United Kingdom, Qatar, Kuwait, Pakistan, Saudi Arabia, Indonesia dan Turki. Di Indonesia, industri perbankan syariah terus berkembang pasca diterapkannya Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perbankan Islam. Selanjutnya, Undang-Undang perbankan syariah diatur pada Nomor 21 Tahun 2008 dengan menjelaskan prinsip operasional bagi hasil sesuai ajaran Islam sebagai solusi penghapusan riba. Sistem bagi hasil yang diterapkan oleh bank syariah berhasil membangun iklim investasi yang kondusif dan adil sehingga dapat diterima diberbagai tingkatan masyarakat.
Pada tingkat daerah, perkembangan perbankan syariah di Tembilan Kota (Indragiri Hilir, Sumatera) justru terlihat menurun. Terbukti dengan ditutupnya satu kantor cabang bank syariah secara permanen. Selain itu, total pembiayaan bank syariah terus menurun setiap tahunnya dibandingkan dengan bank konvensional. Total pembiayaan bank syariah pada tahun 2018 adalah 2.962 dan pada tahun 2019 menjadi 2.880, sedangkan bank konvensional mengalami peningkatan, yakni pada tahun 2018 sebanyak 24.926 dan menjadi 27.084 pada tahun 2019.
Pengaruh Kepribadian Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah BRKS
Penelitian tersebut menunjukkan tidak ada hubungan secara langsung antara variabel kepribadian dengan keputusan menjadi nasabah BRKS. Sesuai dengan pendapat Soenarmi bahwa tidak ada bukti empiris untuk menerima pengaruh dan kerakteristik konsumen atas keputusan untuk meminjam uang dari bank syariah. Artinya, keputusan untuk menjadi pelanggan tidak dipengaruhi oleh kepribadiannya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa semakin lemah kepribadian seorang nasabah, maka semakin lemah pengambilan keputusan menjadi nasabah BRKS tidak terbukti. Sebab, melemahnya kepribadian memiliki pengaruh lebih kecil terhadap keputusan untuk menjadi nasabah BRKS. Fakta ini bertentangan dengan teori perilaku konsumen di mana kepribadian berpengaruh terhadap pengambilan proses keputusan.
Pengaruh Motivasi Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah BRKS
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubbungan langsung antara variabel motivasi terhadap variabel pengambilan keputusan untuk menjadi nasabah. Hal ini sesuai dengan temuan dari beberapa akademisi terdahulu seperti Tuggaesti (2007) yang membuktikan adanya pengaruh positif antara motivasi dan kepuasan belanja. Begitu juga penelitian milik Kurt Sokolowski, Heinz-Dieter Schmalt, Thomas A. Langens and Rosa M. Puca (2000), Arawati Agus Za’faran Hassan (2010), Stefan Engeser dan Thoman Langens (2010), Reynaldo Lomboan, David PE Saerang dan Sifrid S. Pangemanan (2013), Sonny Nwankwo, Nicolas Hamelin, Meryem Khaled (2014), Frank Basten, Jaap Ham Cees, Midden Luciano Gamberini, Anna Spagnolli (2015), ), Adeoye Augustine Bamgbose dan Sunday Olusola Ladipo (2017), serta Sarah C. Whitley, Remi Trudel, Didem Kurt (2018).
Pengaruh Kelas Sosial Terhadap Keputusan Menjadi Nasabah BRKS
Kelas sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan untuk menjadi nasabah BRKS. Fakta ini sejalan dengan hasil penelitian Haron dan Anderson yang menjelaskan bahwa kriteria yang paling penting dalam memilih bank adalah rekomendasi teman, lokasi dan reputasi bank. Begitu juga penelitian Tan dan Chua yang menunjukkan bahwa saran dari teman, tetangga dan anggota keluarga memiliki pengaruh paling kuat terhadap keputusan menjadi nasabah dalam memilih bank. Berdasarkan dua penelitian tersebut dapat terlihat bahwa ‘jaringan sosial’ menjadi faktor paling kuat dalam memilih keputusan untuk menjadi nasabah BRKS. Jaringan sosial mengubah hidup dan budaya masyarakat sehingga perusahaan harus peka terhadap pelanggan dengan membuka komunikasi dua arah antara individu dan perusahaan.
Peningkatan kelas sosial akan semakin memperkuat keputusan untuk menjadi nasabah BRKS dapat dibuktikan, sebab terdapat kenaikan kelas sosial yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan untuk menjadi nasabah. Fakta ini sejalan dengan teori perilaku ekonomi bahwa kepribadian mempengaruhi dalam proses pengambilan keputusan.
Kesimpulan
Secara garis besar penelitian tersebut telah menjawab tiga hal yakni tidak adanya pengaruh kepribadian terkait dengan keputusan menjadi nasabah BRKS, namun terdapat pengaruh yang signifikan terkait dengan motivasi dan kelas sosial terhadap keputusan untuk menjadi nasabah BRKS. Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa tidakadanya keterkaitan antara kepribadian dengan keputusan menjadi nasabah tidak sejalan dengan teori perilaku konsumen. Namun terkiat dengan adanya pengaruh antara motivasi dan kelas sosial terhadap pengambilan keputusan menjadi nasabah sesuai dengan temuan akademisi terdahulu, termasuk dengan teori perilaku ekonomi. Penemuan baru ini telah menjadi sumbangsi bagi kajian terkait dengan teori perilaku ekonomi, sekaligus menjadi tantangan sekaligus ‘undangan’ bagi para akademisi lain untuk membuktikan relevansi teori dengan perkembangan perilaku masyarakat.

