(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Afghanistan: Rumitnya Masa Depan Taliban

Opini

Catatan historis tentang Afghanistan tentu masih melekat di dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana Afghanistan di masa lalu. Afghanistan memang pernah memiliki catatan hitam di dalam relasi kemasyarakatan dan kenegaraan. Tidak bisa dipungkiri bahwa para ekstrimis yang sering bertindak sebagai lonely wolf untuk melakukan tindakan bom bunuh diri di berbagai tempat di Indonesia adalah mereka yang pernah mengangkat senjata di Afghanistan. 

  

Mereka yang melakukan bom bunuh diri  ternyata memiliki relasi dengan Taliban di masa lalu, yaitu gerakan politik untuk menghalau pemerintahan Uni Soviet di Afghanistan.   Kelompok  Taliban  akhirnya  memenangkan pertempuran dengan dukungan personal dari berbagai negara.  Hanya sayangnya bahwa  kala para pejuang yang pernah membantu Taliban tersebut  kembali ke negaranya, secara factual mereka  tetap merindukan letupan-letupan senjata dan mereka justru menjadi kelompok ekstrimis yang merusak keteraturan sosial. Mereka yang melakukan pengeboman di berbagai kesempatan mulai dari Bom Bali, sampai yang terakhir di Sulawesi Selatan ternyata adalah kombatan Afghanistan. Termasuk juga di Marawi Filipina Selatan dan lainnya.

  

Berbagai catatan kepemimpinan  Taliban di Afghanistan juga membuat banyak orang meragukannya untuk berubah secara cepat. Peminggiran terhadap siapa  yang dianggap musuh yang membahayakannya, penempatan  kaum perempuan dalam posisi yang serendah-rendahnya, misalnya tidak boleh sekolah, tidak boleh berada di ruang publik, harus memakai burqa dan sebagainya merupakan contoh perilaku yang merendahkan derajat perempuan dalam level yang benar-benar direndahkan. Menurut penuturan Musdah Mulia, bahwa sebenarnya Taliban  adalah komunitas yang tidak memahami Islam secara komprehensif. Mereka misalnya menganggap masyarakat Indonesia itu kafir hanya karena kebanyakan masyarakat Islam Indonesia tidak berjenggot dan perempuannya tidak menggunakan niqab. Jadi mereka memahami Islam secara asesoris dan bukan secara substansial. Terhadap para perempuan mereka juga sangat tidak “bersahabat”, perempuan hanyalah pelengkap kehidupan bagi kaum lelaki Taliban. 

  

Secara politis, Taliban juga dinyatakan oleh beberapa penulis memiliki kerawanan sebab banyaknya faksi-faksi yang saling berebut kekuasaan. Ada kelompok Syiah, kelompok Salafi Ekstrim dan kelompok lain yang berkecenderungan berebut kekuasaan. Bahkan secara dramatis dinyatakan bahwa Taliban merupakan kelompok yang haus kekuasaan dengan menggunakan baju agama. Jadi agama hanya merupakan hiasan asesoris untuk memastikan bahwa kelompok ini memperjuangkan Islam. Padahal yang sesungguhnya adalah kelompok kepentingan yang ingin menguasai pemerintahan. Pertarungan antar faksi ini yang kemudian juga menyebabkan keraguan di antara para pengamat tentang masa depan Afghanistan di bawah Taliban. Di dalam pandangan Sumanto Al Qurtubi, bahwa berat rasanya Taliban akan berubah dalam waktu cepat. Faksi-faksi yang memiliki ambisi untuk kekuasaan akan menambah betapa beratnya Afghanistan akan berubah menjadi negara yang demokratis. Mereka ini merupakan kelompok yang “tidak tahu” bagaimana memimpin bangsa yang heterogin. (Kompas, 6/09/21). 

  

Di sisi lain, dengan mengesampaingkan persoalan Taliban sebagai sumber inspirasi kekerasan sosial –sebagaimana selama ini terjadi—maka sejumlah aktivis NU justru menganggap bahwa Taliban sekarang sangat berbeda dengan Taliban masa lalu. Taliban sekarang meskipun madzhabnya berbeda dengan kebanyakan umat Islam Indonesia, namun mereka sudah belajar banyak tentang bagaimana merawat kebinekaan. Mereka secara langsung atau tidak langsung telah banyak belajar kepada NU dalam menghargai kebinekaan dan bahkan juga varian kebudayaan yang terdapat di dalamnya. Yang lebih menggembirakan, bahwa mereka telah mengadopsi NU sebagai organisasi yang dianggapnya berhasil dalam memanej hubungan antara negara dan agama. Bahkan sekarang sudah terdapat sejumlah organisasi yang menyebut dirinya  sebagai NU. Tetapi secara umum disebut NUA atau NU Afghanistan. Mereka telah banyak belajar ke Indonesia dengan mengirimkan mahasiswanya ke lembaga pendidikan NU dan juga mereka mengundang aktivis NU untuk memberikan “pencerahan” bagi para aktivis Taliban di Afghanistan. Hal ini relevan dengan upaya yang  dilakukan oleh Yusuf Kalla yang telah berkali-kali mengundang aktivis Taliban untuk membicarakan masa depan Afghanistan. 

  

Jika NU menganggap bahwa penguasaan Taliban atas Afghanistan lebih merupakan peristiwa historis kebudayaan, artinya bahwa yang nantinya akan berkuasa di Afghanistan adalah kelompok yang telah tercerahkan dalam konteks penghargaan atas kebinekaan masyarakat Afghnistan. Ada kebinekaan  yang perlu untuk dirawat.  Akan tetapi juga  ada sekelompok lain, yang berangkat dari pemikiran Islam politik, bahwa penguasaan Afghanistan oleh Taliban adalah kemenangan Islam politik di sana, dan lebih jauh adalah kemenangan Islam atas para penjajah, Amerika Serikat yang sudah cukup lama melakukan penguasaan atas negeri ini. Di dalam pandangan ini, misalnya Ismail Yusanto beranggapan bahwa kemenangan Taliban adalah kemenangan umat Islam atas para penjajah Amerika Serikat. Semua ini lalu dikaitkan dengan janji kemenangan Allah kepada hambanya, umat Islam. 

  

Dari berbagai argumentasi ini, maka saya kira Taliban tetaplah Taliban dengan seabrek masalah yang dihadapinya dan juga tantangan pada dirinya sendiri. Bagi yang berkuasa juga sejauh mana otoritas yang dimilikinya. Perlu diingat bahwa meskipun negeri ini hanya terdiri dari tujuh suku bangsa, akan tetapi kontestasi politik dan kekuasaannya sangat dinamis. Mereka tidak memiliki common platform yang memersatukan di antara faksi-faksi yang terus bergolak. Katakanlah relasi antara kaum Taliban yang fundamentalis dengan kaum Syiah tentu juga bukan masalah sederhana. Jarak keyakinan dan ideologis yang melekat di antara keduanya rasanya juga sulit untuk dipertemukan dalam titik nol. 

  

Melihat realitas empiris tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa tidak mudah membangun relasi dalam bentuk pengakuan secara universal, sehingga kelompok-kelompok yang bertikai di Afghanistan, lalu peluang  Taliban untuk berubah menjadi  lebih moderat  dan masa depan yang jelas dari Taliban dalam relasinya dengan masyarakat sipil. Jadi, rasanya memang harus wait and see.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.