Asosiasi Dosen Pergerakan: Menjaring Asa Menuai Pengakuan
OpiniSecara antropologis, manusia memiliki tiga kebutuhan dasar yaitu kebutuhan biologis, kebutuhan social dan kebutuhan integrative. Tentu kita semua sudah paham tentang kebutuhan biologis sebagai manusia, demikian pula kebutuhan social. Tetapi yang sangat penting juga kebutuhan integrative yang juga sungguh vital di dalam kehidupan manusia sebagai individu maupun makhluk social.
Di antara kebutuhan integrative adalah kebutuhan kasih sayang, kebutuhan religious dan kebutuhan akan pengakuan social atas apa yang dilakukan. Sesungguhnya manusia membutuhkan manusia lain dalam kerangka mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan integrative dimaksud. Apapun strata dan status social seorang individu, maka tidak akan dapat melepaskan dirinya dari pemenuhan kebutuhan integrative atas peran orang lain. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan ini tanpa perantara atau washilah dengan orang lain. Rupanya demikianlah kepastian Tuhan atas kehidupan individu di tengah dinamika relasi social di tengah masyarakat.
Demikian pula individu di dalam Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP). Sebagai indvidu yang berada di tengah dinamika relasi social yang secara internal didasari oleh kesamaan visi dan misi dalam berorganisasi dan secara eksternal dipandu oleh kepentingan untuk bereksistensi diri, maka eksponen ADP tentu juga memerlukan hal yang sama, yaitu keinginan untuk berekspresi diri di tengah kehidupan social yang berada di dalam suasana kompetisi yang ketat. Itulah sebabnya, aktivis ADP tentu harus terus memupuk kemampuan diri dalam menjaring asa untuk lebih fungsional di masa depan.
ADP secara institusional terdiri dari para pakar dan ahli dalam bidang keilmuan yang variative. Jadi sesungguhnya ADP akan dapat menjadi pusaran gagasan dan praksis tentang kehidupan di dalam berbagai variasinya. Mereka adalah para pemikir yang mendasarkan pemikirannya atas hasil-hasil riset baik cabang ilmu murni maupun ilmu terapan yang dapat dijadikan sebagai bagian di dalam perumusan kebijakan institusional maupun kebijakan public. Sungguh ADP dalam tahun-tahun ke depan akan memiliki peran yang lebih strategis untuk kepentingan kebangsaan dalam berbagai fokusnya.
Oleh karena itu, ada beberapa catatan yang kiranya dapat menjadi bagian dari upaya membangun inspirasi dan aspirasi ADP untuk keindonesiaan, Kebangsaan dan Kemoderenan. Pertama, memperkuat basis keislaman yang moderat. ADP tentu harus speak up tentang Keislaman yang wasathiyah. Cara dan medianya tentu sangat situasional, yang penting bagaimana Islam wasathiyah tetap menjadi arus utama Islam di Indonesia. Otoritas Islam harus tetap berada di tengah umat Islam yang wasthiyah. Kita tidak membenci atas pemahaman dan pengamalan “orang” lain, dengan catatan harus saling menghargai dan menjaga otoritasnya masing-masing. Tidak boleh ada sikap merasa benar sendiri dan menang sendiri, akan tetapi harus saling menenggang rasa dalam nuansa keadilan dan kesamaan. ADP harus menjadi agen dan bukan actor dalam perbincangan dan aksi Islam wasathiyah. Misi ADP adalah menggelorakan moderasi beragama untuk Indonesia hebat.
Kedua, memperkuat basis profesionalitas dalam tugas pokok dan fungsi sebagai khalifah di bumi. Dalam status dan strata social apapun, selayaknya eksponen ADP harus menjadi yang terbaik. Basis ajarannya jelas: khairun nas anfa’uhum lin nas. Warga ADP harus menjadi yang terbaik dalam peran social yang berada di hadapannya. Potensi untuk berkembang sudah didorong secara setara oleh dunia sekeliling kita. Tidak ada hambatan meskipun tantangan harus selalu hadir. Warga ADP harus menjadikan tantangan dan hambatan sebagai potensi untuk kemajuan. Tiada kemajuan tanpa tantangan baik internal maupun eksternal. Siapa yang bisa melampaui tantangan social di hadapannya, maka dialah yang akan maju dan sukses. Akses untuk maju sudah dibuka dan tinggal bagaimana warga ADP memanfaatkannya untuk kepentingan diri dan komunitas ADP atau masyarakat Indonesia.
Ketiga, mengembangkan jejaring. Prinsip yang dijadikan pedoman adalah jejaring individu menjadi jejaring social atau jejaring komunitas ADP. Betapa banyaknya individu hebat di dalam ADP yang memiliki jejaring secara individual atau komunal. Mereka tersebar di dalam berbagai posisi, jabatan dan status social yang terhampar di berbagai institusi social, politik, ekonomi dan juga religious. Mereka dapat terjaring di dalam ADP Connection, bukan untuk meraih posisi semata akan tetapi lebih luas untuk jejaring mengembangkan potensi dari masing-masing warga ADP di masa depan. Kita sedang menghadapi perubahan generasi dengan talent dan potensi serta kecenderungan yang bisa jadi berbeda dengan kita, dan yang penting adalah ADP itu seperti pasar raya yang menyajikan berbagai produk yang bermanfaat untuk kemajuan dan pengembangan potensi di masa depan.
Keempat, setiap orang memiliki tindakan politik yang bisa berbeda, akan tetapi bagi warga ADP harus tetap berada di dalam koridor politik kebangsaan atau lebih spesifik politik Islam. Visi ADP adalah politik kebangsaan, artinya warga ADP harus menyuarakan tentang keadilan, kesamaan atau non-diskriminasi, kerukunan dan keharmonisan dalam koridor konsensus kebangsaan. Visi dan misi ini harus mendasari tindakan politik kebangsaan warga ADP untuk Indonesia ke depan. Siapa bermain di mana tentu terkait dengan hak masing-masing individu akan tetapi visi dan misi kebangsaan tentu terjalin dengan apik. Inilah yang saya konsepsikan sebagai merajut yang terserak. Jadi yang dibutuhkan adalah kontestasi negosiatif, sebuah kontestasi yang dibangun di atas kesepahaman dan kebersamaan.
Kita tentu belum bisa bertanya tentang apa peran optimal ADP bagi warganya. Tentu membutuhkan waktu yang relative panjang untuk menanyakannya. Akan tetapi melalui kesadaran bersama dan aksi bersama bukan tidak mungkin pertanyaan tersebut akan bisa dijawab lebih cepat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

