Syekh KH. Chairuman Ar Rahbini : Sosok Pembangun Dunia Pendidikan
HorizonOleh Aba Kartono
Biografi Syekh KH. Chairuman Ar rahbini
Syech KH. Chairuman Arrahbini lahir pada tanggal 21 Desember 1947 dan wafat pada tanggal 28 Desember 2020, beliau merupakan putra dari Syech Ali bin Muhammad Ar-Rahbini dan Nyai Mistin, beliau masih keturunan ulama dari masjidil haram, sedangkan marga Ar-Rahbini adalah nama sebuah kampung didekat kota samnud Negara mesir bagian timur. Pertama kali ayahanda kiai Syech Chairuman arahbini yang bernama Syech Ali bin Muhammad Arahbini datang ke Indonesia pada usia masih muda pada waktu itu beliau baru menyelesaikan pendidikannya di al-Azhar cairo mesir, kemudian beliau menikah dan tinggal di gondang legi, di daerah Malang Jawa timur.
Syech KH. Chairuman Arrahbini mendapatkan pendidikan pertama kali melalui ayahnya termasuk dari belajar Al-qur’an karna ayahnya merupakan ulama yang hafidz Qur’an dan sangat fasih bacaannya, selain itu sejak kecil beliau didik oleh ayahandanya menjadi pribadi yang tawadhu’ dan berjiwa sosial dengan sering dilibatkanya untuk membantu pengemis dan membagi - bagikan makanan untuk fakir miskin.
Dengan bekal do’a dan ridho orang tua pada tahun 1973, Syech KH. Chairuman Arrahbini bersama istri Nyai masfufah Binti KH. Jamaali hijrah ke Kalimantan Barat diajak oleh kakandanya Muhammad Tohir, beliau termotivasi dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinatul Munawwarah.
Setelah melakukan perjalanan selama dua hari dua malam beliau sampai di Kalimantan Barat yaitu Pontianak beliau langsung menuju rumah seorang tokoh Madura yang bernama ust.Arif yang tempat tinggalnya di daerah Siantan Pontianak Timur. setelah satu bulan beliau beserta istri tinggal di rumah ust. Arif, Syech KH. Chairuman Arrahbini dan istri mendapatkan berita bahwa di Kabupaten Landak tepatnya di sungai Segak ada Madrasah Ibtidaiyah yang di tinggal gurunya beliau diminta untuk menggantikan guru tersebut. Daerah itu memang sangat terpencil dan penduduknya sedikit, perjalanan menuju ketempat tersebut harus ditempuh dengan trasportasi sungai dengan pejalanan selama setengah hari.
Beliau beserta istrinya disambut dengan gembira oleh masyarakat disana yang umumnya orang Madura, sejak itulah Syech KH. Chairuman Arrahbini mulai berdakwah, dengan berkiprah didunia pendidikan dan dakwah. Seiring perjalanan waktu semangkin meningkat, hingga akhirnya berdasarkan permintaan masyarakat Syech KH. Chairuman Arrahbini mendirikan Pondok Pesantren yang diberi nama “At-taroqi” nama itu diambil untuk mengharap berkah ayahandanya Syech Ali Arahbini dimana saat ayahandanya pertama hijrah ke indonesia beliau mengajar di At- taroqi Kab. Malang.
Peran Didunia Pendidikan (Mendirikan Pondok Pesantren Darul Ulum)
Baca Juga : Upaya Rekonstruksi Masa Depan dalam Dunia Islam Kontemporer
Syech KH. Chairuman Arrahbini mendirikan lembaga pendidikan Pondok Pesantern bernama Darul Ulum dari tahun 1977 sampai dengan 2020 yang kemudian diteruskan oleh putranya KH. Nurul Mawalid Ar-Rahbini, dari tahun 2021 sampai dengan sekarang. Beliau sangat gigih dalam perjuanganya untuk membangun dunia pendidikan Islam bahkan santri-santrinya pun sebagian besar memiliki lembaga pendidikan yang tersebar di kalimantan barat. Sampai saat ini alumni Pondok Pesantren Darul Ulum kurang lebih sudah mencapai sekitar lima ribuan alumni.
Pondok Pesantren Darul Ulum menjadi salah satu pusat dakwah yang di Kalimantan barat yang bertempat di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya, dengan memiliki luas lahan 22 hektar. Adapun jenjang pendidikan mulai dari TK, MI, MTs, MA, Madin dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Darul Ulum (STITDAR) Kubu Raya yang berbasis pesantren, Syech KH. Chairuman Arrahbini mengaharapkan lembaga-lembaga tersebut dapat lebih banyak melahirkan generasi yang memiliki kematangan spiritual dalam ajaran Islam dengan paham ahlisunnah wal Jamaah serta memiliki kemampuan dan profesionalitas yang tinggi sehingga mereka lebih siap untuk terjun kepada masyarakat sebagai pejuang dakwah yang memiliki Ilmu pengetahuan dan Tehnologi di masa depan.
Adapun jumlah satri dan mahasiswa, pada tahun 2022 ini kurang lebih 1.400 dengan jenjang TK 60 Santri MI 380 santri Mts 500 santri MA 260 santri STITDAR 200 mahasiswa tahun ini, sedangkan Jumlah Guru dan dosen berjumlah 110, dengan fasilitas sarana dan prasarana : Asrama Santri Putra dan Putri, Gedung Sekolah Putra dan Putri, Masjid dan musholla, Aula, Gedung Kampus STITDAR, Asrama Dewan guru Lab bahasa, Lab IPA, Lab . Komputer, lapangan Bola voly, Lapangan Sepak Bola, dll.
Kurikulum Pendidikan yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren Darul Ulum menerapkan sistem kurikulum Nasional dari Kementerian Agama (Kemenag) mengacu pada KMA RI Nomor 117 tahun 2014 tentang Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah, sedangkan untuk tingkat Perguruan Tingginya, saat ini Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Darul Ulum (STITDAR) Kubu Raya merujuk pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sebagaimana yang terdapat pada peraturan presiden Republik Indonesia nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Selain kurikulum madrasah dan KKNI yang telah disebutkan, bahwa Pondok Pesantren Darul Ulum juga memberlakukan kurikulum mandiri, yang menjadi ciri khas dan kultur pesantren Darul Ulum.
Kurikulum pesantren dapat lahir dari dinamika sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat Islam tradisional yang ada dilingkungannya dalam hal ini telah membentuk subkultur secara sosiologis a bagi masyarakat lingkungan pesantren. Kurikulum ini berupa kurikulum terselubung maupun kurikulum dalam bentuk mata pelajaran yang mengkaji kitab-kitab salaf seperti safinatun najah, matan al-Jurumiyah, amtsilati, sirah nabawiyah, tagrib, imrithi, fathul qorib, fathul muin, dan lain- lain.
Aktif Di dalam Organisasi Islam
Sejak usia belasan tahun Syech KH. Chairuman Arrahbini aktif mengikuti Organisasi seperti KPPI ( Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia ), IPNU ( Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), Gerakan Pemoda Ansor dan Banser. Beliau dibesarkan dilingkungan keluarga Nahdlatul ulama, bahkan ayahanda Syech KH. Chairuman Arrahbini adalah putra guru Syech Muhammad Kholil Bangkalan, sehingga secara tidak langsung memiliki pertalian yang kuat dengan keluarga Syech Ali Arahbini.
Baca Juga : Kompetisi Otoritas Agama
Syech KH. Chairuman Arrahbini bergabung dengan para tokoh NU di Kalimantan Barat dari tahun 1980 sampai dengan tahun 2010 dan beliau juga masuk dalam struktur kepemimpinan NU wilayah Kalimantan Barat. Selama 10 tahun Syech KH. Chairuman Arrahbini Naib Rois suryah dan di Rois Suryah juga selama 10 tahun.
Beliau juga diminta untuk terjun praktis di dunia politik oleh tokoh-tokoh NU pada tahun1980 an, namun Syech KH. Chairuman Arrahbini menolak karena beliau masih merasa baru merintis Pondok Pesantren beliau ingin fokus pada pondok yang beliau dirikan.
Aktif Di dalam Dunia Perpolitikan
Setelah Pondok Pesantren Darul Ulum berkembang pesat, dan pendidikan pun telah berjalan dengan baik, dan memiliki kader-kader yang amanah untuk membantu Syech KH. Chairuman Arrahbini dalam menjalankan roda pendidikan di Pondok Pesantren Darul Ulum, maka pada tahun 1993 beliau terjun ke dunia politik melalui Partai Persatuan pembangunan (PPP) dan dilantik menjadi anggota DPRD Provinsi Kalimantann Barat.
Perjalanan karir politik Syech KH. Chairuman Arrahbini diawali dengan menjadi Anggota DPRD, kemudian ketua Fraksi, ketua Komisi sampai dipenghujung karirnya beliau menjadi wakil ketua DPRD Propinsi Kalimantan Barat. Dalam perjalanannya Syech KH. Chairuman Arrahbini berpolitik banyak dari santri-santrinya yang juga mengikuti jejeknya dengan meneruskan perjuangannya di dalam dunia politik hal itu dibuktikan dengan banyaknya alumni yang bergabung di partai Politik mulai dari jadi pengurus Partai bahkan menjadi anggota legislatif dan menjadi wakil wali kota Pontianak.
Di tahun 1997 sampai dengan tahun 1999 dikalimantan Barat terjadi sebuah konflik sosial antara suku, Syech KH. Chairuman Arrahbini yang pada saat itu sudah menjadi anggota legislatif beliau memamfaatkan jabatanya untuk dapat membantu orang orang yang kesusahan yang diakibatkan terjadinya dampak konflik sosial antar suku tersebut, beliau berjuang beserta tokoh masyarakat di DPRD Provinsi kaliman Barat, selain memberikan bantuan makan beliau juga berkoordinasi dengan pemerintahan daerah dan pemerintah pusat agar pemerintah dapat mengangarkan Dana darurat guna untuk membantu para korban konflik.
Kepribadian Syech KH. Chairuman Arrahbini
1). Sosok Ulama yang Berwibawa
Baca Juga : Aliran Islam Dalam Politik di Indonesia: Pemikiran KH Abdurrahman Wahid
Syech KH. Chairuman Arrahbini memiliki postur tubuh yang tinggi dengan pandangan yang tajam, beliau sangat disegani oleh santri-santrinya, ketika beliau mengajar kitab tidak satupun santri yang berani menatat wajahnya padahal beliau orang yang santun dan lembut dalam bertutur bahasa, beliau sangat istiqomah dalam mendidik ahlak dan kepribadian santri santrinya KHususnya melalui pengajian kitab Ta’limul Mutaalim, Bidayah dan kitab Ahlussunnah Waljamaah karangan beliau sendiri.
Syech KH. Chairuman Arrahbini merupakan sosok yang sangat disiplin hal itu terlihat ketika diaadakan rapat para pengurus dan dewan guru beliau selalu hadir tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, bahkan beliau sering datang duluan dari pada para asatid. Syech KH. Chairuman Arrahbini paling tidak suka apabila sebuah kegiatan yang diadakan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan ( sering terlambat ).
2). Sosok Ulama yang Plural
Pesatnya kiprah Syech KH. Chairuman Arrahbini baik dalam dakwah dan pendidikan tentunya tidak terlepas dari sikap beliau yang pluralisme yang berbaur dg semua etnis beliau bukan hanya diterima oleg satu etnis saja tetapi oleh semua etnis. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan santri dan santriwati dari semua etnis baik jawa, Madura melayu, dayak, cina, bugis, sunda dan lain-lain. Beliau juga sangat dikagumi dan disenangi oleh masyarakat Madura, karena kakek beliau Syech ali bin Muhammad Amin adalah gurunya Syech Kholil Bangkalan Madura.
3). Sederhana dan Rendah Diri
Sudah tidak asing lagi masalah keturunan beliau yang sangat mulia di kalangan masyarakat, kendatipun demikian Syech KH. Chairuman Arrahbini tidak pernah mau memamerkan silsilahnya beliaupun tidak pernah bercerita, ataupun mepublikasinya, beliau tetap sederhana tampil biasa seperti bukan dari kiai yang berasal dari nasab yang mulia. Padahal kalau beliau mau Syech KH. Chairuman Arrahbini sangat layak untuk tampil lebih dari ada, namun kesederhanaan yang beliau miliki malah semangkin membuat orang simpatik, baginya kesedrhanaan itu merupakan cerminan hidup untuk menjadi contoh bagi para santri santrinya.
Karya – karya Syech KH.Chairuman Ar Rahbini
Disela-sela kesibukanya dalam dunia pendidikan, dakwah, organisasi Islam, serta dalam dunia perpolitikan, Syech KH. Chairuman Arrahbini masih menyempatkan diri untuk menulis buku (Kitab) diantaranya, buku yang berjudul “Ahlussunnah waljamaah” dan buku “Menyulap hutan Menjadi Kota Ilmu “.
Kitab “Ahlisunnah wal jamaah” yang ditulis oleh beliau selain sebagai kajian bagi para santri dan alumni juga sebagai landasan pengetahuan untuk menagkal paham paham menyimpang yang sudah mulai berkembang di Kalimantan Barat. Di antara isi kitab “Ahlisunnah wal jamaah”yang ditulis oleh beliau : a). Tentang Paham Ahlussunah Waljamaah, b). Syiah, c).KHowarij, d). Mu’Tazilah, e). Murjiah, f). Qodariyah, dan g). Jabariah.
Sedangkan buku Syech KH. Chairuman Arrahbini “Menyulap Hutan Menjadi kota Ilmu “ adalah merupakan buku yang beliau tulis sebelum beliau mendekati wafatnya, ada hal keanehan seprtinya beliau sudah mengetahui bahwa usianya sudah tidak akan lama lagi, hal itu berdasarkan keinginan beliau untuk segera mencetak atau menulis biografi perjalanan hidup beliau, yang masih berupa tulisan tangan disebuah buku pribadi beliau. Sempat juga Syech KH. Chairuman Arrahbini meminta bantuan kepada santrinya yang di IAIN bernama Dr.Marluwi cuman beliau sepertinya masih belum punya waktu karena dalam masa menyelesaikan studi S3 nya, setelah itu beliau meminta bantuan kepada keluarganya KH. Ali badri Mashuri untuk menuliskan dan mencetak buku tersebut, hingga akhirnya ditahun 2018 buku tersebut dapat di selesai untuk dicetak. Namun tidak lama setelah itu hanya berjarak sekitar 2 tahun dari selesainya buku “Menyulap Hutan Menjadi kota Ilmu “ beliau meninggal dunia ada tanda tanda bahwa beliau sudah akan kembali kepada Allah swt.
Adapun isi dari buku “Menyulam Hutan Menjadi kota Ilmu” lebih banyak berisi tentang biografi beliau Syech KH. Chairuman Arrahbini seperti perjalan hidup beliau serta perjuangan perjuangannya dalam mengembangkan dakwahnya baik dalam bidang pendidikan, organisasi dan politik.

