Sang Ulama Karismatik : Maharaja Imam Muhammad Basuni Imran
HorizonOleh Sudirmansyah
Pada 16 Oktober 1885 bertepatan dengan 25 Zulhijah 1302 Hijriah Muhammad Basiuni Imran dilahirkan di Sambas. Dia lahir di tengah keluarga religius dan terpelajar di dalam lingkaran Kerajaan Sambas. Ayah dan kakek-kakeknya adalah “Maharaja Imam” dan “Imam” dari Kerajaan Sambas. Dalam kitabnya Risâlât al-Nusûs wa al- Barâhîn (1344/1925) dia menyebutkan nama dan silsilahnya “Maharaja Imam Muhammad Basiuni bin Maharaja Imam Muhammad ‘Imran bin Maharaja Imam Muhammad ‘Arif bin al-Imam Nur al-Din bin al-Imam Mustafa. Sejak kecil ia sudah ditinggal ibundanya kemudian diasuh ibu tirinya Badriyah. Sedari kecil beliau sudah bersentuhan dengan dunia pendidikan baik formal maupun informal. Pada pendidikan formal beliau disekolahkan oleh ayahnya di Sekolah Rakyat yang ada di tanah kelahirannya (Sambas) dan melanjutkan menuntut ilmu di Madrasah Sultaniyyah (sekolah khusus kerajaan) karena ayah dan kakeknya merupakan maharaja Imam di kesultanan Melayu sambas. Pada pendidikan informal beliau berguru langsung pada ayahnya seperti dari baca tulis Al-Quran, termasuk ilmu Nahwu dan Sharaf.
Kemudian sekitar usia 17 tahun beliau dikirim ke Mekkah untuk menunaikan haji sekaligus belajar di Mekkah. Beliau berguru pada Tuan Guru Umar Sumbawa dan Tuan Guru Usman Serawak, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, syekh Ahmad al-Fattani, dan Utsman al-Funtiani. Lima tahun kemudian beliau pulang ke kampung halaman di Sambas untuk memperbaharui dan mengaktualisasikan ilmu yang telah didapatnya selama di Mekkah.
Sepulang dari Makkah pada 1906, Basiuni Imran melanggan majalah al-Manâr. Al-Manâr adalah majalah yang didirikan oleh Muhammad Rasyid Ridha pada 1898, setahun setelah kedatangannya di Mesir untuk belajar kepada Syaikh Muhammad Abduh (Hourani 1983, 226). Rasyid Ridha berasal dari Tripoli yang sekarang berada di wilayah Lebanon. Majalah al-Manâr-lah yang melambungkan nama Rasyid Ridha ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia (Bluhm-Warn, Jutta. 1983; Abaza, 1998; Azra 1999; Burhanuddin 2005; Abu Shouk 2006). Melalui majalah inilah dia berkenalan dengan pemikiran Rasyid Ridha, bukan dengan Muhammad Abduh yang saat itu dia sudah meninggal dunia (1905). Majalah al-Manâr-lah yang membuatnya terobsesi untuk kuliah di Mesir.
Pada 1910 dia berangkat ke Mesir untuk belajar di Al-Azhar. Beberapa bulan setelah dia belajar di Al-Azhar, Rasyid Ridha mendirikan Dar al-Da‘wah wa al-Irsyad, sebagai penerjemahan gagasan pembaruan pendidikan tinggi Muhammad Abduh (Hourani 1983, 227) dan Basiuni Imran mendaftar juga di perguruan tinggi baru ini. Di sinilah Basiuni Imran dididik secara langsung oleh Rasyid Ridha (Ichwan 2001, 148- 9). Baru belajar selama tiga tahun, dia harus pulang pada 1913 karena ayahnya sakit keras.
Kepulangan dari Mesir
Kurang lebih 3 tahun menuntut ilmu di Mesir, Pada bulan Sya’ban 1331 H/ 1913 M beliau diminta pulang ke Sambas oleh keluarga karena ayahnya sakit keras. Dan pada Ramadhan 1331 H/25 Agustus 1913 Ayahnya meninggal dunia. Selepas ayahnya wafat, jabatan maharaja imam mengalami kekosongan, kemudian pada bulan November 1913 diangkatlah Syaikh Muhammad Basiuni Imran menjadi maharaja imam, qadhi, mufti di Kerajaan Sambas. Jabatan tersebut beliau emban hingga kemerdekaan Indonesia saat Kerajaan Sambas otomatis tidak lagi berfungsi secara politis-administratif.
Selama menjabat menjadi maharaja imam di Kerajaan Sambas, beliau juga aktif mengajar di Madrasah Sultaniyah dengan berupaya memajukan reformasi pendidikan di Sambas, serta mengadakan ceramah umum mingguan di Mesjid kesultanan Melayu Sambas. Ia menggunakan artikel tafsir dan tauhid karya Rasyid Ridha sebagai rujukan utama. Di samping itu beliau juga rutin membaca dan mendalami kitab-kitab mazhab syafi’iyyah dan kitab lainnya terutama kitab tafsir Al-Manar dan Majalah Al-Manar.
Baca Juga : RUU Sisdiknas: Alternatif Kesetaraaan Anggaran
Karya
Muhammad Basiuni Imran juga memiliki banyak karya diantara beberapa kitab karangan beliau ditulisnya dengan huruf “jawi” (arab melayu), seperti Tarjamah Durus at-Tarikh Syariat, Bidayah at-Tauhid fi al-Ilm at-Tauhid, Risalah Cahaya Suluh, Dzikr al-Maulid al-Nabawi, Tadzkir, Nur al-Siraj fi Qishshah al-Isra’ wa al-Mi’raj dan masih banyak lagi. Karya-karya beliau tidak hanya tersebar di Indonesia tetapi juga negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan lain-lain.
Lahirnya Buku “Mengapa Kaum Muslimin Mundur?”
Selain karya dan jasa Muhammad Basiuni Imran yang sangat menakjubkan, ada satu di antara pertanyaan-pertanyaan yang beliau kirimkan ke Rasyid Ridha. Kemudian pertanyaan tersebut Rasyid Ridha sampaikan kepada seorang tokoh intelektual Islam yang cemerlang serta seorang penulis cerdas dan bijaksana yang masyhur di seluruh penjuru dunia Islam, yaitu Al–Amir Syakieb Arsalan. Dalam bukunya yang berjudul “Mengapa Kaum Muslimin Mundur?” Buku menakjubkan tersebut hadir dilatarbelakangi oleh pertanyaan dari Muhammad Basiuni Imran. Pertama, Apa yang menyebabkan umat Islam mundur dan terbelakang? Kedua, apa penyebab bangsa di luar Islam seperti Amerika, Eropa dan Jepang dapat mencapai suatu kemajuan yang mengagumkan? Dan bisakah umat Islam mencapai kemajuan yang sama dengan mengikuti langkah mereka tanpa harus menafikan ajaran Islam?
Dua pertanyaan tersebut dijawab oleh Al–Amir Syakieb Arsalan secara komprehensif dalam bukunya dengan sudut pandang seorang intelektual muslim dan dengan pengetahuan dan wawasan yang luas tentang Islam. Apabila Melihat guru-guru Muhammad Basiuni Imran sebagaimana disebutkan di atas terutama Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, maka bisa dikatakan bahwa Muhammad Basiuni Imran merupakan ulama satu generasi dengan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdhatul Ulama).
Wafat
Muhammad Basiuni Imran wafat pada 27 Juli 1976 dalam usia kurang lebih 91 tahun karena sakit dan usia lanjut. Ia dimakamkan di pemakaman keluarganya di Kampung Dagang Timur, Sambas, Kalimantan Barat. Dan kini namanya diabadikan pada salah satu pondok pesantren yang ada di Sambas, Kalimantan Barat yaitu Pondok Pesantren M. Basiuni Imran Sambas. Muhammad Basiuni Imran perannya memang tidak meluas ke Nusantara akan tetapi jasanya sangat populer dan di kagumi hingga kini khususnya wilayah Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Hal tersebut terbukti pada masanya Sambas menjadi pusat ilmu dan kebudayaan yang berlandaskan Islam, sehingga pada masa itu Sambas dijuluki dengan Serambi Mekkah. Sambas menjadi mercusuar peradaban Islam di Wilayah Kalimantan Barat, bahkan di Negara tetangga yakni Malaysia dan Brunei Darussalam.

