Banjir, Antara Takdir Tuhan dan Peran Manusia (Bagian Pertama)
OpiniInformasi yang menjadi viral pada pekan-pekan ini, awal Maret 2025, adalah mengenai banjir di Jakarta dan Bekasi. Banjir besar yang menyita banyak perhatian masyarakat. Memang Jakarta dan Bekasi merupakan daerah langganan banjir. Tetapi banjir akhir-akhir ini tentu mengusik rasa kemanusiaan kita. Selain cakupannya yang sangat luas juga ketinggiannya yang menakutkan. Banyak rumah yang hanya kelihatan atapnya saja. Dengan ketinggian banjir setinggi empat sampai lima mater, maka tentu akan menghancurkan semuanya. Pasti tidak tersisa peralatan rumah tangga, kendaraan dan juga akses jalan yang terputus.
Bekasi, sejumlah perumahan di Jatiasih, merupakan daerah yang paling menderita. Dengan ketinggian dan area terdampak banjir yang sedemikian luas, disertai dengan kerusakan infrastruktur jalan, jembatan dan rumah, maka lengkaplah penderitaan masyarakat di wilayah tersebut. Bukan hanya karena harus meninggalkan rumahnya yang tenggelam, akan tetapi juga kerusakan rumah dan semua isinya. Kalaupun banjir telah surut, akan tetapi penderitaan belum juga berlalu. Peralatan rumah tangga hancur luluh dan akses ekonomi serta akses kesejahteraan pun terhenti.
Secara teologis, banjir besar pernah terjadi pada zaman Nabi Nuh, sebuah peristiwa yang diabadikan oleh semua agama. Islam mengabadikannya demikian pula agama Hindu. Di dalam Kitab Manawa Dharma Sastra, digambarkan bahwa Manu adalah orang yang pernah berkaitan dengan banjir besar yang menghampiri dunia, lalu Islam mengabadikan sebagai peristiwa banjir pada masa Nabi Nuh. Ada relevansi antara Islam dan Hindu tentang banjir besar tersebut.
Banjir di Jakarta dan Bekasi tentu tidak sebagaimana banjir pada zaman Nabi Nuh. Tidak hanya skala ketinggian dan keluasan areanya yang berbeda, akan tetapi juga banjir ini tentu terkait dengan takdir Tuhan, Allah SWT, yang menerima doa Nabi Nuh dan menjadikan banjir sebagai seleksi alam atas mana orang yang baik dan mana yang buruk. Yang baik ikut bersama rombongan Nabi Nuh, sedangkan orang yang buruk berada di luar kapal Nabi Nuh.
Banjir di Jakarta dan Bekasi merupakan peristiwa alam yang terjadi karena terjadinya curah hujan yang tinggi di daerah atas, dan airnya menjadi banjir yang menerjang daerah yang lebih rendah. Jakarta dan Bekasi merupakan daerah yang secara topografis lebih rendah sehingga rawan terkena tekanan banjir. Jika daerah Bogor terjadi curah hujan yang tinggi dipastikan akan terjadi banjir yang menerjang kedua wilayah ini.
Ada dua penjelasan atas fenomena banjir yang terjadi di Jakarta dan Bekasi. Pertama, penjelasan teologis. Setiap peristiwa apapun di dalam dunia ini dipastikan sudah terdapat catatannya atau ada takdirnya. Alqur’an menjelaskan bahwa tidak ada suatu kejadian di dunia ini yang tidak sepengetahuan Tuhan. Di dalam Alqur’an dijelaskan di dalam Surat At Taubat, ayat 51 bahwa: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang sudah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Allah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang beriman bertawakkal.”
Jika membaca kandungan ayat ini, maka jelaslah bahwa semua kejadian di bumi yang menimpa manusia atau lainnya semuanya sudah terdapat ketetapannya. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kepastian Allah SWT. Kita mesti mengimani bahwa semuanya merupakan kepastian Tuhan untuk kita semua. Orang yang beriman dipastikan akan mengembalikan semua kejadian kepada ketentuan Allah SWT. Jadi banjir yang terjadi di Jakarta dan Bekasi adalah sudah tercatat kejadiannya di dalam takdir Tuhan, seberapa kedalaman dan seberapa luas wilayahnya.
Kedua, secara teologis, bahwa takdir atau kepastian Tuhan itu bisa terbagi ke dalam dua hal, yaitu takdir yang ketetapannya pasti atau disebut takdir mubram. Yang sudah jelas ketentuannya. Manusia dan alam seluruhnya tinggal menerimanya. Misalnya semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian. Semua manusia menerima rezekinya masing-masing. Manusia memperoleh kebahagiaan atau kesenangan dan kesengsaraan atau penderitaan. Manusia semua berpotensi untuk beragama. Semua manusia akan mendapatkan jodohnya. Semua manusia akan dapat mengembangbiakkan keturunannya atau tidak dapat mengembangkan keturunannya. Semua ini adalah takdir yang ketentuannya pasti.
Namun demikian, takdir yang pasti tersebut masih berada di dalam kepastian umum, sehingga secara personal, manusia akan memiliki perbedaan atas penerimaan takdir tersebut. Ada takdir yang disebut sebagai takdir muallaq atau takdir yang masih menggantung dan hasil akhir takdir tersebut baru diketahui setelah kejadian. Sebagai contoh orang ditakdirkan untuk mendapatkan rejeki, akan tetapi yang bersangkutan tidak bekerja, maka takdir tersebut tidak terjadi. Ada kenyataan bekerja untuk merealisasikan takdir dimaksud. Tentang pengembangbiakan keturunan, maka ada yang berjalan secara normal dan ada yang melalui sentuhan para ahli. Semuanya memiliki potensi takdir memiliki keturunan akan tetapi ada yang harus melalui upaya ekstra.
Ketiga, peristiwa alam juga mengalami peristiwa takdir yang mubrom atau yang muallaq. Bagaimana dengan banjir yang terjadi akhir-akhir ini. Takdir yang pasti bahwa banjir akan terjadi jika terdapat potensi banjir, misalnya daerah yang lebih rendah berpotensi untuk mengalami banjir dibandingkan dengan wilayah yang lebih tinggi. Jakarta dan Bekasi akan mengalami banjir sebab topografinya memang daerah yang rendah, sehingga kala terjadi hujan lebat di daerah hulu, maka hilirnya akan terkena dampaknya.
Namun demikian Allah sudah mengaturnya, bahwa daerah yang tinggi kebanyakan adalah wilayah yang berupa hutan atau banyak terdapat tetumbuhan. Dengan keberadaan tumbuhan tersebut maka akan mengurangi potensi banjir. Air akan terserap ke bawah di antara tanah-tanah yang tersedia atau akan memasuki sungai yang tersedia sebagai saluran untuk mengalirkan air ke laut. Sungai-sungai terbentuk untuk kepentingan itu. Tuhan sudah menentukan arah air itu harus kemana di dalam kehidupan alam dan manusia.
Akan tetapi manusia banyak melupakan hal ini. Hutan digunduli untuk kepentingan perumahan, dijadikan lahan bisnis, terjadi illegal logging, dijadikan wahana rekreasi dan sebagainya. Akibatnya, pohon-pohon ditebang dan hutan tidak lagi mampu menampung air, sebab resapan air sudah menjadi beton-beton kokoh dan akibatnya terjadilah banjir. Inilah yang disebutkan bahwa kerusakan ekosistem lingkungan akan berdampak bagi kehidupan manusia.
Jadi inilah yang disebut sebagai takdir muallaq. Takdir yang terjadi karena perbuatan manusia yang serakah dengan merusak atas ekosistem lingkungan dan akibatnya juga manusia yang merasakannya. Mengembalikan ekosistem lingkungan harus menjadi prioritas pembangunan nasional jika kita tidak ingin merasakan penderitaan seperti itu.
Wallahu a’lam bi al shawab.

