Banjir Hoaks, Literasi Digital Masyarakat Indonesia Rendah
OpiniSalah satu di antara efek teknologi informasi yang sangat dahsyat adalah terjadinya cyber war. Teknologi informasi digunakan untuk kepentingan sekelompok orang atas nama kepentingan untuk melakukan kebohongan, bullying, bahkan pembunuhan karakter atau character assassination. Itulah yang terjadi dewasa ini. Hoaks atau berita bohong menjadi konsumsi media sosial yang luar biasa dan bertujuan memengaruhi public untuk tujuan tertentu.
Berita bohong tentu ada semenjak dahulu. Bukan hanya persoalan sekarang. Bahkan di dalam cerita Baratayudha juga terjadi berita kebohongan dengan tujuan agar Pandawa memenangkan peperangan melawan Kurawa. Ketika Senapati perang Kurawa, Pandita Durna merangsek dalam peperangan dan nyaris bisa mengalahkan musuh-musuhnya, maka atas saran Batara Kresna, maka Yudistira seseorang yang tidak pernah berbohong harus menyatakan berita yang tidak benar. Yudistira harus memberitakan bahwa yang mati adalah Aswatama, putra tunggal Guru Durna, padahal yang sesungguhnya mati adalah Hestitama, gajah yang menjadi tunggangan dalam peperangan. Akibat berita ini, maka Bagawan Durna menjadi lemah secara psikhologis, dan akhirnya bisa dibunuh oleh Drestajumna dalam peperangan Baratayuda tersebut.
Masyarakat Indonesia yang baru melek teknologi informasi juga memiliki kecenderungan yang besar untuk menggunakan media sosial sebagai salah satu piranti dalam penyebaran berita. Setiap individu merasa bisa membuat berita. Every one want to be the journalist. Jika di media cetak, dikenal konsepsi fit to print, maka di media sosial tidak berlaku fit to share. Semua bisa diupload dan semua bisa dishare tanpa pertimbangan untung ruginya. Bahkan yang menyesakkan, orang yang bisa menjadi penyebar informasi pertama dianggap memiliki jaringan luas.
Masyarakat Indonesia memang sedang memasuki era baru dalam bermedia sosial. Terjadi lompatan yang luar biasa terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi. Masyarakat yang selama ini lebih banyak menggunakan media tradisional dalam berkomunikasi lalu tiba-tiba harus memasuki era baru media sosial, sehingga akhirnya menjadi tergagap-gagap. Jika selama ini masyarakat hanya mengenal komunikasi tatap muka, dan sejauh-jauhnya telpon dan SMS tiba-tiba harus masuk dalam teknologi android yang memungkinkan terjadinya lompatan penggunaan media sosial. Masyarakat Indonesia yang memiliki handphone nyaris semuanya sudah menggunakan smart phone. Ada dua sisi kemanfaatan hand phone, yaitu berdampak positif karena konteks yang diunduh baik, misalnya ceramah agama yang wasathiyah, dan ada yang mafsadah sebab konteks yang diunduh adalah berdampak negative, misalnya hoaks.
Rendahnya literasi media tentu menjadi salah satu penyebab mengapa hoaks begitu semarak di Indonesia. Berdasarkan survey, bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat literasi media dengan kualifikasi rendah. Dari riset Indeks Keadaban Digital (Digital Civility Index) Microsoft terhadap 32 negara pada tahun 2020 diperoleh gambaran bahwa Indonesia berada di peringkat 29. Peringkat teratas adalah Belanda, Inggris dan Amerika Serikat, sementara Singapura diperingkat keempat. Penilaian dilakukan atas sejumlah indicator, misalnya kecepatan penyebaran berita bohong atau hoax, pendengung atau buzzer sampai pada keributan yang ditimbulkan oleh interaksi di media sosial. (kompas, 28/05/2021).
Dengan demikian, penyebaran berita bohong merupakan satu di antara indicator terkait dengan keadaban publik dalam bermedsos. Masyarakat Indonesia dengan kapasitas pemahaman atas media sosial yang rendah tentu sangat mudah untuk dipengaruhi berbagai pemberitaan yang ternyata hoaks. Rendahnya pendidikan di kalangan masyarakat juga memicu terjadinya sharing berita-berita yang tidak bertanggung jawab. Namun demikian, yang terpapar hoaks juga bukan hanya mereka yang berpendidikan rendah, akan tetapi mereka yang well educated. Jika disimak WAG berbagai kalangan maka akan dengan mudah didapati hoaks yang disebarkan oleh masyarakat Indonesia melalui representasi WAG dimaksud.
Ada banyak postingan terhadap respon masyarakat mengenai pemimpin bangsa atau kepala negara. Jika ada pesan yang terkait dengan presiden, maka begitu viral tidak hanya di masyarakat awam tetapi juga para cerdik cendekia. Muatan political hoax ini begitu kuat di hadapan masyarakat Indonesia. Kemudian juga berita tentang Covid-19. Ada banyak hoaks yag bertebaran di media sosial. Hoaks tersebut merupakan pembalikan atas berita-berita resmi pemerintah, misalnya tentang vaksinasi, obat, dan penyembuhan alternatif atas pandemic Covid-19.
Inilah kata kuncinya mengapa di Indonesia menjadi negara dengan media sosial berkonten hoaks sedemikian semarak. Pendidikan yang rendah, ketiadaan kecenderungan untuk check and recheck dan perilaku sembarangan di kalangan masyarakat menjadi penyebab mengapa tingkat keadaban digital masyarakat Indonesia rendah. Di dalam konteks ini diperlukan kearifan sosial agar tidak semua informasi dishare di kalangan masyarakat. Harus tetap ada upaya untuk membatasi diri agar tidak terjebak pada berita-berita bohong yang intensitasnya semakin menguat akhir-akhir ini.
Jadi diperlukan kesadaran baru untuk bermedia sosial yang lebih ramah terhadap kebenaran, keterpercayaan dan keadilan sehingga dunia medsos tidak menjadi instrumen untuk cyber war dalam konteks negatif.
Wallahu a’lam bi al shawab.

