Berpacu Mengembangkan PTKIN: Menuju IAIN Madina dan IAIN Majene
OpiniSaya diundang oleh Prof. Dr. Sumper Mulia Harahap, MAg., Ketua STAIN Mandailing Natal (Madina) dan Prof. Dr. Wasilah Sahabuddin, MT., Ketua STAIN Majene. Acara dilakukan dengan zoom meeting dilaksanakan pada Senin, 27 Juli 2025, pukul 10.00 WIB. Acara inovatif-kolaboratif yang sangat menarik dijadikan sebagai contoh dalam mengembangkan PTKIN. Acara ini diikuti oleh pejabat dan staf pada kedua PTKIN dimaksud. Saya sampaikan tiga hal, yaitu:
Pertama, Ada banyak tantangan PTKIN. Di antaranya adalah tantangan revolusi Industri 4.0, yaitu kehadiran teknologi Informasi dengan derivasinya, seperti Artificial Intelligent (AI), Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR) dan Big Data (BD). Juga sedang terjadi globalisasi pendidikan. Kehadiran PT terkenal di berbagai negara sehingga akan menyebabkan perubahan peta pendidikan. Oxford University di UEA, Keuka College di China dan beberapa PT Australia di Indonesia dan sebagainya.
Kemudian tantangan kapasitas abad XXI, yaitu: creative thinking and innovation, critical thinking and problem solving, communications and collaboratians. Termasuk juga tantangan paham keberagamaan yang semakin variatif dan fundamental dan kehadiran aliran-aliran baru yang menyimpang serta kehadiran tafsir agama yang monolitik. Sekarang juga sedang terjadi perubahan sosial budaya yang cepat atau VUCA yaitu volatility, uncertainty, complexity and ambiguity.
Di sisi lain adalah kontestasi PT. Perbandingan jumlah antara prodi saintek dan social humaniora di PTN adalah 43 persen (prodi saintek) dan 57 persen (prodi soshum) dari sebanyak 29.618 prodi. Jumlah tersebut juga ditambahkan prodi keagamaan dalam rumpun ilmu agama yang jumlahnya cukup banyak. Jadi secara umum, prodi soshum mahasiswanya jauh lebih banyak dibandingkan dengan prodi saintek di Indonesia. Data dari Kompas.com 18/06/2021, bahwa prosentase jumlah mahasiswa prodi sains dan soshum adalah 32,1% berbanding 67,9% untuk program Sarjana/D4.
Jumlah lulusan PT di Indonesia ternyata banyak yang tidak terserap di dalam lapangan kerja. Berdasarkan data BPS, bahwa selama setahun terjadi peningkatan pengangguran terdidik yang cepat. Data tersebut menyatakan jika dibandingkan antara tahun 2024 dan 2025 pada Bulan Pebruari, maka diketahui terjadi kenaikan sebesar 1,1% menjadi 7,28 juta. Dari angka kenaikan pengangguran tersebut yang paling pesat adalah pengangguran kaum terdidik atau perguruan tinggi. Angka pengangguran S1, S2 dan S3 dan D4 sebesar 12,12% pada tahun 2024 dan pada tahun 2025 sebesar 13,89%. Sedangkan untuk D1,D2 dan D3 naik dari 2,42% tahun 2024 menjadi 2,44% 2025.
Ada juga yang menjadi kendala pengembangan adalah keterbatasan anggaran. Anggaran Kemenag sebesar Rp74 trilyun terbagi ke dalam pusat dan daerah. Meliputi anggaran pemerintah pusat, Setjen, para Dirjen dan Badan, anggaran untuk Kanwilkemenag, anggaran untuk PTKIN/PTKIS dan madrasah. Berbeda dengan Kemendikti, anggaran pemerintah pusat dan daerah. PTU termasuk anggaran pemerintah Pusat. PTU Satker, PK BLU dan PTN BH. Anggaran PTKIN berasal dari APBN dan PNBP. Anggaran sangat terbatas untuk pengembangan PTKIN. Harus diupayakan untuk mendapatkan PNBP.
Kedua, Ada banyak variabel pengembangan PTKIN, maka harus dipilih variabel yang memiliki relevansi dan menjadi prioritas dan urgen bagi PTKIN. Di antara yang mendasar tentu dikaitkan dengan dimensi akademik, kelembagaan dan sarana prasarana. Untuk pengembangan akademik misalnya yang terkait adalah kualitas proses belajar mengajar, kualitas gelar akademik, kualitas karya akademik dosen, kualitas dan lain-lain. Untuk pengembangan kelembagaan, misalnya kualitas program studi, kualitas manajemen kelembagaan, kualitas pengakuan internasional, kualitas akreditasi, penguatan IT, dan lain-lain.
Pengembangan sarana prasarana, misalnya kualitas ruang belajar, perpustakaan, laboratorium, ruang perkantoran, ruang dosen dan sebagainya. Ada tiga persyaratan terkait dengan transformasi institusi pendidikan tinggi di Kemenag, yaitu: aspek akademik meliputi jumlah dan jenis prodi, akreditasi program studi, kualifkasi dosen, rasio dosen dan mahasiswa, aspek kelembagaan meliputi perubahan status, visi dan misi yang jelas, dan tata kelola. Aspek sarana dan prasarana, meliputi: fasilitas, tanah dan gedung proses transformasi.
Baca Juga : Mengenal Kitab Matan Ghayah Wa Taqrib dan Penulisnya
Ketiga, Setiap PTKIN harus memiliki visi, yaitu mimpi atau cita-cita yang diinginkan di masa depan.. Visi harus memenuhi syarat secara konseptual atau teoretik, yaitu: SMART atau Specific, Measurable, Achieveble, Relevance and Time Bond. Ada keunggulan yang terukur, dapat dicapai, relevan dengan kebutuhan stake holder dan waktu pencapaian.
Contoh “Mewujudkan IAIN Majene/IAIN Madina sebagai perguruan tinggi unggul dalam Islamic Studies berbasis nilai-nilai Islam wasathiyah dalam konteks kearifan lokal yang mengedepan dan berdampak positif bagi masyarakat Indonesia pada tahun 2045.
Sedangkan misinya adalah: 1) Mengembangkan program pendidikan, riset dan pengabdian masyarakat yang berbasis konvergensi. 2) Mengembangkan program integrasi ilmu berbasis pada relasi antara ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya, misalnya ilmu humaniora dan ilmu sosial. Mengembangkan program pendidikan berdampak pada mahasiswa, alumni, komunitas pesantren dan masyarakat pada umumnya. 3) Mengembangkan kerja sama kelembagaan, program pendidikan dengan berbagai institusi sosial, ekonomi dan keagamaan, baik organisasi pemerintah dan organisasi non pemerintah. 4) Mengembangkan pendidikan pro-lingkungan berbasis ekosistem teologi, yang berimpilkasi pada hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam. 5) Mengembangkan tata kelola Good University Governance dengan indikator transparansi, akuntabilitas, efektif dan effisien serta partisipatif.
Jika menggunakan Rencana Pendidikan Jangka Panjang (RPJP) 25 tahun, maka yang diperlukan adalah merumuskan milestone, bisa jangka empat tahunan. Milestone 2025-2029 transformasi dari STAIN ke IAIN. Tentu ada rencana kerja untuk mencapai transformasi dimaksud. Memenuhi sejumlah persyaratan untuk alih status. Milestone 2029-2033 Transformasi menjadi UIN dengan memenuhi standart untuk transformasi ke UIN. 2033-2037 menguatkan SDM. Misalnya jumlah doktor dan profesor yang semakin meningkat. Lektor kepala yang meningkat. Milestone 2037-2041 menguatkan internasionalisasi dengan akreditasi nasional dan internasional, pengakuan internasional, dan Jurnal terindeks scopus atau WoS. Milestone 2041-2045 menguatkan lingkungan hijau berbasis SDG’s. Dengan program lingkungan hijau berkelanjutan.
Visi akan menentukan atas perumusan misi dan program. Visi yang jelas, terukur dan spesifik akan memudahkan perumusan misinya. Misi yang jelas dan terukur akan memudahkan perumusan programnya. Dari visi satu, misalnya dapat dirumuskan program yaitu mengembangkan riset kolaboratif berkualitas dalam integrasi Islam wasathiyah dengan kehidupan sosial. Dirumuskan dalam program pengabdian masyarakat dalam bentuk modul sebagai bahan pendidikan dan pelatihan kepada komunitas dan masyarakat. Dirumuskan dalam bahan perkuliahan atas teori gerakan sosial atau teori pembelajaran sosial Albert Bandura, atau teori N.Ach David Mc-Cleland.
Meskipun masih berstatus sebagai STAIN akan tetapi tetap bahwa persyaratan GUG itu harus dipenuhi. Gunakan manajemen kinerja sebagai derivasi Total Quality Magement (TQM) dengan prinsip Plan, Do, Check, Action (PDCA). Hal ini untuk membangun trust civitas akademika. Semakin dipercaya tata kelolanya semakin diminati PTKIN-nya. Upayakan menjadi zero temuan dengan ZI dan WBK dan perkuat Tim Audit Internal.
Semakin berkualitas lembaganya semakin tinggi peminatnya. Semakin berkualitas program studinya semakin besar peminatnya. Semakin baik program belajar mengajarnya semakin baik peminatnya. Semakin baik out come alumninya semakin besar peminatnya. Semakin relevan prodinya dengan kebutuhan masyarakat semakin besar peluang kerjanya. Semakin baik tata kelolanya, semakin baik respon sosialnya. Semakin berkualitas alumninya dalam hard skilled dan soft skilled-nya semakin positif respon sosialnya. Semakin berkualitas dosennya semakin baik respon sosialnya. Semakin baik akreditasinya semakin besar kepercayaan masyarakat terhadapnya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

