(Sumber : Lokadata.ID)

Bom Bunuh Diri: Sungguh Mengerikan

Opini

Tiba-tiba blar. Bom bunuh diri itu terjadi di Polsek Astana Anyar Bandung. Pelakunya adalah Agus Suyatno alias Abu Muslim yang pernah merakit bom panci di Cicendo dan kini bomber Polsek Astana Anyar Bandung pada pukul 08.00 WIB, Rabo 07/12/2022. Pelaku memaksa untuk masuk ke polsek untuk mendekati pelaku upacara atau apel pagi yang diselenggarakan di Polsek Astana Anyar Bandung. Tentu saja dia dicegah oleh salah seorang petugas, dan kemudian bom meledak di situ. Dari peristiwa pengeboman ini, maka terdapat 10 orang polisi yang menjadi korban dan seorang anggota meninggal. Selain itu juga ada seorang ibu yang luka karena serpihan bom pada saat yang bersangkutan berjalan di dekat lokasi  pengeboman.

  

Peristiwa bom bunuh diri ini memberikan gambaran bahwa terorisme di Indonesia masih ada dan tentu tidak mudah untuk dihilangkan. Jika mindset untuk menjadi “pengantin” bom bunuh diri itu masih ada, maka selama itu pula terorisme akan sangat sulit diberantas. Siapapun tentu tidak dapat menduga pikiran orang. Sejauh-jauhnya yang bisa dilacak adalah jejaringnya. Apakah yang bersangkutan masih aktif dalam jaringan atau sudah berhenti dalam jaringan tentu masih bisa dilacak melalui jejak digital, yang dengan teknis khusus bisa dilakukan oleh BNPT atau Densus 88 Anti Teror. 

  

Abu Muslim adalah salah satu contoh bahwa hukuman yang pernah diterimanya selama empat tahun ternyata tidak mampu untuk mengembalikannya dalam kehidupan normal tanpa upaya kekerasan agama. Pengaruh gerakan ekstrimisme itu sedemikian kuat dan terpateri benar di dalam mindset-nya, sehingga apapun upaya untuk mengembalikannya di dalam kehidupan normal sebagai bagian umat Islam dan warga masyarakat, negara dan bangsa tidak mampu dipahaminya. Selama empat tahun mereka ini dipahamkan tentang bagaimana menjadi warga negara yang benar ternyata tidak mampu diterimanya. 

  

Saya menjadi teringat apa yang pernah disampaikan oleh Abu Fida’ dalam salah satu forum bersama Densus 88 Anti Teror, bahwa di saat Abu Fida’ menyadari untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan  berkeinginan untuk menjadi warga negara yang baik serta berIslam dengan kedamaian, maka justru yang bersangkutan dikafirkan dan tidak disapa oleh sesama napiter. Realitas ini menggambarkan bahwa memang tidak mudah untuk kembali kepada Islam wasathiyah atau Islam moderat dan menjadi warga negara yang baik. Di antara kawan-kawannya masih tetap saja sebagaimana keyakinan semula bahwa negeri ini perlu diperangi karena dianggapnya sebagai negara yang diperintah oleh kaum thaghut.

  

Ada dua konsep yang menjadi kata kunci mengapa mereka membenci pemerintah dan menghalalkan darah sesama kaum muslim yang tidak sama pemahamannya dengan para teroris adalah jihad dan thaghut. Jihad tidak dimaknai lain kecuali perang. Di manapun selama terdapat paham keagamaan yang tidak sama dengannya dan terdapat perilaku yang tidak sesuai dengan pemahamannya, maka dianggapnya kafir dan orang kafir boleh dibunuh. Perang di negara yang damaipun diperkenankan selama negara tersebut dianggapnya sebagai negara yang tidak memberlakukan hukum Islam dalam tafsirannya. 

  

Kemudian yang lain adalah thaghut yaitu individu, komunitas, masyarakat dan pemerintah yang tidak memberlakukan hukum Islam sesuai dengan tafsirannya dan kemudian mengajak kepada kemungkaran dalam tafsirannya. Semua  juga dianggap sebagai kesalahan. Inilah yang disebutnya dengan thaghut. Maka negara dengan dasar Pancasila dan hukum yang tidak didasarkan pada hukum Islam dalam tafsirannya, maka dianggapnya salah dan perlu untuk diperangi. Jadi perang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Pemerintah Indonesia dianggapnya sebagai system pemerintahan thaghut yang harus diperangi.

   

Sesungguhnya setiap orang memiliki ketakutan. Tidak ada manusia yang sama sekali tidak punya ketakutan. Rasa takut adalah khas kemanusiaan. Rasa takut yang berlebihan disebut sebagai anxiety disorder atau ketakutan yang belebihan atas segala hal yang ditakutinya tersebut. Sedangkan keberanian adalah sifat yang dimiliki oleh seseorang untuk menanggung resiko dan bertanggung jawab secara nyata atas pilihan perilaku yang dipilihnya. Jadi ketika seseorang menentukan untuk menjadi pengantin bunuh diri, maka apa yang dilakukannya itu merupakan kesadaran dari resiko atas pilihan di dalam kehidupannya.   Kala mereka memilih jalan sebagai bomber, maka resikonya sudah diketahuinya dan mereka bertanggungjawab atas dirinya di dalam perilakunya. 

  

Ada dua faktor yang bisa diidentifikasi atas perilaku pilihan resiko tersebut, yaitu: Pertama,  harapan akan masa depan yang lebih baik di tempat lain. Yaitu harapan memperoleh surga. Mungkin bisa dikonsepsikan sebagai “matematika supra rasional”, yaitu perhitungan dibalik rasio atau perhitungan berbasis sesuatu yang supra rasional atau di luar akal. Misalnya adanya keyakinan bahwa begitu bom meledak, maka sudah datang 70 bidadari yang akan menjemput rohnya. Kedatangan bidadari dimaksud adalah keyakinan yang basisnya adalah matematika supra rasional. Mereka meyakini betul bahwa dengan melakukan bom bunuh diri sebagai bentuk perlawanan atas perilaku thaghut adalah dipastikan akan memperoleh surga, yang tidak bisa ditebus dengan satu truck pasir, batu, dan semen. Surga hanya bisa diperoleh dengan peran, apapun bentuknya.

  

Kedua, sebegitu kuatnya pengaruh tafsir agama tentang jihad dan thaghut. Tafsir jihad dan thaghut itu benar-benar menancap dengan sangat kuat di dalam mindset dan tindakannya. Saya tidak membayangkan bagaimana ada orang yang menggendong bom di dalam tubuhnya dan ketika diledakkan, maka dirinya juga hancur berkeping-keping. Jadi ada produk internalisasi doktrin agama yang sedemikian keras di dalam dirinya. Keyakinan itu tertanam sangat kuat dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Sudah sedemikian tertutup pikiran dan hatinya untuk menerima tafsir lain di dalam kayakinannya. Makanya mereka juga melakukan apa saja yang bisa mengantarkannya ke dalam jalan surga yang diinginkannya. 

  

Selama ini doktrin agama adalah doktrin keselamatan, tidak hanya di akherat tetapi juga di dunia. Tetapi bagi kaum teroris, mereka bisa saja mengorbankan keselamatan di dunia dan hanya berfokus pada keselamatan di akherat. Doktrin ini bisa saja benar, jika dilakukan dengan tidak menyakiti atau mengorbankan orang lain. Hanya saja bagi mereka siapa saja yang mendukung sesuatu yang thaghut maka tidak ada ampun dan harus dimatikan. Inilah kedhaliman mereka ini dalam kaitannya dengan kemanusiaan. 

  

Dan yang didhalimi bagi mereka itu adalah para penegak hukum terutama polisi. Jadi sudah seharusnya para polisi mewaspadai atas lonely wolf seperti ini, sebab bom bunuh diri ini kiranya bukan yang terakhir. Mereka masih eksis dan perlu untuk diketahui secara jelas gerak-geriknya. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.