(Sumber : Tribun Jakarta)

Maraknya Aksi Gengster di Surabaya

Horizon

Oleh: Ummi Aidah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Akhir-akhir ini viral beredar video oleh aksi puluhan remaja yang menyebut dirinya \"gangster\" konvoi di jalanan dengan membawa berbagai senjata tajam seperti celurit, pisau, gergaji dan sebagainya. Tidak hanya itu, mereka juga menyerang salah satu pos jaga perumahan bahkan sampai mengalami luka bacok. Di tempat yang berbeda mereka juga menyerang sebuah warkop dan melempari dengan batu tanpa ada penyebab yang jelas. Mereka juga suka tawuran di jalanan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat.

  

Maraknya aksi  gangster tersebut sangat meresahkan masyarakat Surabaya, mereka menjadi takut untuk keluar dan beraktivitas pada malam hari karena takut di serang oleh gerombolan gangster yang selalu beraksi di jalanan pada malam hari terutama pada jam 12 keatas. keselamatan mereka menjadi terancam dan takut untuk beraktivitas di luar pada malam hari. Banyak warga yang mengeluh dan menjadi khawatir untuk keluar. Tentu saja tindakan para remaja  tersebut memantik banyak emosi, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah.

  

Walikota Surabaya, Eri Cahyadi sampai turun tangan sendiri untuk menertibkan para anggota gangster yang beraksi di jalanan Surabaya bahkan polisi sudah menrima instruksi untuk menembak anggota gangster yang melawan sebagai peringatan. Belasan “gangster” yang berhasil di amankan setelah di interogasi ternyata mayoritas dari mereka adalah remaja di bawah umur serta putus sekolah di bangku SMP. Dilansir dari beberapa berita yang dimuat media massa bahkan ada dari mareka yang kabur dari rumah akibat cekcok dengan orangtuanya, karena tidak punya tempat tujuan akhirnya bergabung bersama komplotan gangster.

  

Menurut Max Weber dalam teori tindakan sosial menyatakan tindakan manusia memiliki makna subyektif di baliknya. Dilihat   tentunya mereka memilik motif tersendiri Ketika melakukan aksi tersebut. Mereka berkeliaran di jalanan sambil membawa senjata tajam dengan ekspresi yang sangat bangga dengan kelompoknya kemudian di video oleh rekannya lalu di aupload di media sosial. Ketika di lacak polrestabes Surabaya di temukan 37 akun media sosial teridentifikasi sebagai ruang komunikasi anggota gangster di Surabaya. Tentunya mereka melakukan aksi tersebut bukan hanya sekedar membuat konten dan menarik perhatian dari pengendara lain yang lewat. Jika melihat dari latar belakang individu dari anggota gangster tersebut ingin mencapai suatu tujuan seperti ingin di akui keberasaannya, di hargai bahkan di perhatikan.  

  

Memang benar aksi tersebut mampu menarik perhatian masyarakat khusus nya Surabaya dalam waktu singkat, namun bukan rasa simpati dan kebanggan yang mereka terima melainkan rasa geram dan hujatan karena aksi mereka di anggap sangat meresahkan dan mengganggu. Bahkan banyak yang berkomentar do media sosial bahwa mereka adalah sampah masyarakat yang perlu di musnahkan.

  

Kejadian ini menjadi sangat miris sekali, di tengah gencarnya usaha  pemerintah Surabaya memromosikan “kota Surabaya aman”  justru malah muncul segerombolan remaja yang membuat onar. Ditambah lagi, program pemerintah mewajibkan belajar 12 tahun, ternyata masih banyak remaja yang putus sekolah sehingga terjerumus dalam pergaulan yang salah. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian bersama, baik dari orang tua, pemerintah, maupun masyarakat umum. Terutama orang tua, yang merupakan keluarga paling dekat seharusnya sudah menjadi tanggung jawab nya untuk memperhatikan, menasehati serta mengawasi setiap pergaulan anaknya agar tidak salah jalan. Apalagi di tengah zaman yang semakin maju teknologi semakin berkembang semuanya bisa di akses dengan sangat mudah, maka anak-anak harus di beri perhatian lebih.

  

Karena fenomena kenakalan remaja sampai dengan hari ini masih banyak terjadi, mulai dari tawuran melakukan konvoi di jalanan sampai melakukan pembacokan tanpa ada sebab yang jelas. Jika di lihat lebih jauh kebanyakan dari mereka adalah anak yang kurang perhatian dari orang tua dan putus sekolah, kemudian mencari kesenangan di dunia luar. Jika ini terus di biarkan dan tidak ada kesadaran dari personal sebagai orang tua maka fenomena kenakalan remaja akan semakin marak terjadi dan sulit di hentikan. 

  

Dampak dari aksi brutal komplotan gangster ini bukan hanya merugikan masyarakat umum, namun yang paling dirugikan adalah diri mereka sendiri. Karena sudah mendapatkan label negatif dari masyarakat juga  mendapat catatan tidak baik dari kepolisian. Akhirnya stigma negatif akan terus melekat dalam diri mereka.