(Sumber : Kempalan.com)

Dahlan Iskan, Tradisi China dan Agama Tanpa Tempat Ibadah

Opini

Kehidupan keberagamaan di Indonesia dewasa ini semakin sensitive. Di antara factor pemicunya adalah media social. Orang Indonesia mudah menjudgement tentang apa yang didengar dan dibacanya melalui media social dengan pemahaman yang belum tentu sesuai dengan realitas sosialnya. Masyarakat Indonesia cepat sekali merespon konten media social dengan berbagai ragamnya secara instant. Makanya, media social banyak yang dijadikan sebagai sumber informasi yang terkadang justru mengarahkannya pada pemahaman yang keliru.

  

Sebagai masyarakat baru yang berhubungan dengan media social, maka media social banyak menjadi teman di dalam kehidupan. Lelaki dan perempuan, tua dan muda semua menggunakan media social sebagai medium menemukan informasi, menjadikannya sebagai hiburan dan juga menjadikannya sebagai tempat belajar. Semua bisa didapatkan di dalam media social yang “permissiveness”. Media social tidak mampu menjaring, mana konten yang positif dan mana yang negative. Semuanya diserahkan kepada yang mengunggahnya. Di dalam konteks seperti ini, seharusnya para netizen yang dapat memilah dan memilih atas mana unggahan yang positif dan mana yang negative. 

  

Hal yang sungguh disesalkan jika terjadi konsep “double permissiveness” atau di antara pengunggah konten atau komunikator dan penerima unggahan atau komunikan memiliki pemahaman dan sikap serta perilaku yang sama sebagai orang yang permissive. Jika seperti ini, maka dunia media social sungguh akan berisi dengan pemahaman, sikap dan perilaku yang tidak etis. Jadilah media social sebagai institusi social yang tidak beretika. 

  

Beberapa hari terakhir, masyarakat disuguhi dengan konten terkait dengan Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, pengusaha media dan tokoh masyarakat. Di dalam tayangan itu digambarkan tentang Pak Dahlan yang melakukan upacara ritual dengan memegang patung kecil dan menempatkannya pada tempat khusus, dan yang sangat penting Pak Dahlan menghormatinya, dengan mengangkat tangan sambil menunduk. Tindakannya persis sama dengan menghormat benda-benda suci di dalam ritual agama. 

  

Bisa dibayangkan, bersamaan dengan tayangan ini, juga diunggah sebuah ceramah Pak Dahlan  di Pondok Azzaytun, yang dipimpin oleh Panji Gumilang. Sebuah ceramah yang mengungkapkan tentang kecenderungan akhir-akhir ini mengenai  agama tanpa tempat ibadah, tanpa ritual dan tanpa keyakinan yang rumit-rumit. Tidak ada ajaran agamanya. Hal yang penting adalah berbuat baik. Humanis. Ceramah ini menjadi viral yang mendapatkan respon sangat variative. Menjadi kasak-kusuk dengan pertanyaan dasar apakah Dahlan Iskan sudah pindah agama atau sudah melakukan kemusyrikan. Macam-macam komennya.

  

Saya mencoba memahami sahabat saya, Pak Dahlan Iskan. Saya mengenalnya lama sekali. Semenjak tahun 2005 kala saya menjadi Pembantu Rektor Bidang Administrasi IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel).  Saya  mengantarkan Prof. Dr. A. Qadri Azizi, MA, yang waktu itu menjadi Direktur Jenderal Kelembagaan Islam (Dirjen Bagais) untuk berceramah di rumah Pak Dahlan. Tentu ceramah agama Islam. Persahabatan tersebut terus berlangsung sampai saat ini. Pak Dahlan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa (DR.HC) di UIN Walisongo Semarang, di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Muhibbin.  Sayalah  yang diminta oleh Pak Dahlan untuk menjadi promotornya. Pak Dahlan memperoleh gelar DR.HC dalam cabang ilmu Komunikasi Dakwah. (nursyam.uinsa.ac.id diunggah 10/10/2017). Ada banyak gelar DR.HC dan bahkan professor yang didapatkannya dari universitas di dalam maupun  luar negeri. Tentu sangat pantas Pak Dahlan mendapatkannya. Ada banyak inovasi yang dilakukannya sewaktu menjadi CEO Jawa Pos Group, dunia bisnis dan sewaktu menjadi Menteri BUMN. Termasuk juga buku-buku yang ditulisnya. Maklum. Pak Dahlan adalah wartawan yang malang melintang dalam dunia informasi pada zamannya. Tulisannya di berbagai media juga sangat banyak dan bernas. Pidatonya juga sangat menarik karena up to date dan menggunakan diksi-diksi yang dapat menggambarkan kemampuan retorikanya. Bahkan di saat dunia surat kabar pada kolaps, Pak Dahlan justru mendirikan Koran Dahlan Iskan Way atau DISway. Sebuah terobosan yang menarik untuk dicermati.

  

Saya mencoba memahami pidato Pak Dahlan di Pesantren Az Zaytun dalam kacamata subyektif. Pak Dahlan bukan sedang mendakwahkan agama tanpa tempat ibadah, atau agama tanpa ritual dan sebagainya, akan tetapi Pak Dahlan bercerita tentang komunitas agama yang dibangun oleh Pak Aguan. Agama yang humanis. Anggotanya dari berbagai macam pemeluk agama.  Komunitas ini  tidak mengedepankan teologi yang rumit dan ritual yang kompleks. Tetapi komunitas ini membangun kesepahaman tentang beragama yang lebih mengedepankan humanitas. Bagaimana komunitas agama itu memberikan makan  kepada orang kelaparan, memberikan pertolongan kepada yang tidak memiliki rumah. Menolong mereka yang selama ini dikenal sebagai orang yang tidak mendapatkan akses ekonomi. Memberikan beasiswa kepada anak-anak miskin, memberikan bantuan kesehatan kepada kelompok marginal dan sebagainya.

  

Mereka juga memberikan bantuan untuk pendidikan, termasuk pesantren. Di Pesantren Nurul Iman Parung, Pak Aguan lewat bendera Buddha Tsu Chi memberikan bantuan sebanyak 17 lokal. Dan yang menarik di atas bangunan ditulis Buddha Tzu Chi. Ini pesantren. Jadi yang dibicarakan bukan membenarkan atas keyakinan agama tanpa ritual atau bahkan menganjurkannya untuk seperti itu. Jauh dari interpretasi seperti itu. Media social memang “kejam”. Pengunggah bisa membangun framing semaunya. Memotong-motong pembicaraan orang secara selintas tetapi mengambil bagian yang sensitive dan berakibat atas penafsiran sepihak.


Baca Juga : Jamaah Haji, Problem Sosial dan Solusi Kompetensi

  

Hal yang tidak kalah menarik juga unggahan tentang Pak Dahlan  membawa patung dan menempatkannya pada tempat yang sudah disediakan. Cara jalan dan cara menghormat yang dilakukan  Pak Dahlan akan memberikan kesan sebagai keterlibatan dalam upacara ritual. Sebuah penyembahan. Bagi orang yang memahami agama secara hitam putih, maka melihat gaya Pak Dahlan itu maka langsung menyatakan “musyrik” atau bahkan “konversi agama”. Benarkah? Nanti dulu. Di Taiwan atau China pada umumnya, banyak yang kelihatannya sebuah upacara ritual beragama tetapi sesungguhnya adalah tradisi. Sebuah kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Di dalam konteks Pak Dahlan, maka hal itu merupakan penghormatan orang Taiwan atas tamu yang datang kepadanya. 

  

Di Jawa, orang juga sering menempatkan keris sebagai benda magis. Jika orang Jawa akan melepas  atau memasukkan keris di dalam kerangkanya (warangka), maka orang Jawa juga seakan-akan menyembahnya dengan menempatkan keris tersebut di atas kepala atau ubun-ubun sebagai bentuk penghormatan atas pusaka keris. Apakah hal ini ritual? Ternyata bukan sebab hal ini hanya merupakan penghormatan atas benda sacral. Keris bagi orang Jawa dianggap sebagai pusaka. Raja-raja Jawa selalu menjadikan keris sebagai benda pusaka yang sacral. Tetapi yang berlaku begini bukanlah melakukan ritual berbasis keyakinan ketuhanan. Keris bukanlah Tuhan.  

  

Saya pernah mengikuti upacara “Meruwat Rupang Buddha” yang dilakukan di Vihara Pak Aguan di Pantai Indah Kapuk (PIK), saya hadir sebagai Pelaksana Tugas (PLT) Dirjen Bimas Buddha. Saya dipercaya Pak Lukman Hakim Saifuddin, Menag kala itu. Saya ikuti semua prosesinya, dan yang saya lakukan adalah berdoa di dalam keyakinan Islam yang saya yakini kebenarannya. Setiap prosesi yang saya lakukan, maka isinya adalah doa berbahasa Arab yang saya kuasai dan saya yakini keabsahannya. Adakah hal itu merusak keimanan saya,  saya meyakini tidak sama sekali. 

  

Di dalam relasi antar umat beragama, maka ada dua konsepsi toleransi, yaitu toleransi teologis dan toleransi sosiologis. Toleransi teologis tentu tidak boleh sebab itu bertentangan dengan keyakinan agama yang sangat sacral. Sebagai umat Islam, saya harus meyakini “la ilaha illallah”. Pasti. Tetapi dalam relasi antar umat beragama, maka kita boleh untuk bertoleransi secara sosiologis. Kita menghormati atas keyakinan mereka, kita boleh untuk membantu mereka, dan sebagainya. Semua agama benar bagi pemeluknya, dan biarkan mereka meyakini agamanya. Dan saya meyakini agama saya. 

  

Pak Dahlan adalah penganut tarekat Syatariyah yang telah lama diikutinya. Tarekat yang dinisbahkan kepada Kyai Ageng Muhammad  Besari dari Pesantren Tegalsari Ponorogo. Pesantren ini menjadi tempat belajar Islam para putra dan putri raja-raja di Surakarta dan Yogyakarta. Salah satu di antaranya adalah Raden Ngabehi Ronggowarsito. Pujangga Jawa. Penulis buku terkenal “Serat Wirid Hidayat Jati”. 

  

Pak Dahlan juga sering menyelenggarakan  acara tawasulan di rumahnya. Bahkan di kala saya bertamu di rumahnya  bersama seorang ahli spiritual, maka lalu ditanyakan bahwa:  “rumah Pak Dahlan ada  aura positifnya atau ada energi positif, dan kala ditanyakan ke Pak Dahlan,  maka jawabannya adalah: “di rumah ini sering dijadikan tempat untuk acara tarekatan”.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.