(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Densus 88 Anti Teror: Guru dan Siswa Anti Radikalisme

Opini

Para guru Madrasah perlu dibentengi dari gerakan radikalisme yang akhir-akhir ini terus menanjak peningkatannya. Di dalam kaitan ini, maka Detasemen Khusus  (Densus) 88 Anti Teror melakukan kegiatan pembinaan terhadap para guru madrasah se Kabupaten Bangkalan, 24/05/2023, di Aula MAN Bangkalan. Acara ini dihadiri oleh AKBP Dofir, Kanit Pencegahan Terorisme, Ahmad Sururi (Kakankemenag Kabupaten Bangkalan), Kepala MAN Bangkalan (Ali Wafa) dan kepala Madrasah dan guru se Kabupaten Bangkalan. Hadir sebagai narasumber: saya, Abu Fida  dan AKBP Dhofir. Acara diselenggarakan mulai jam 12.30-17.00 WIB. Di dalam forum ini saya membicarakan tentang tantangan teknologi informasi dan radikalisme yang terus mengepakkan sayapnya di Indonesia. 

  

Kita telah berada di era teknologi informasi. Era dengan sumber  belajar melimpah. Ada internet dengan berbagai aplikasi sumber belajar. Namun demikian, guru  tetap menempati posisi penting di dalam pendidikan. Guru masih menjadi agen penting di dalam program pembelajaran. Guru merupakan agen, sebab guru memiliki design untuk mentransfer pengetahuan dan perilaku yang relevan dengan kebaikan. Guru dapat menjadi role models bagi siswa dalam kehidupan. Guru itu digugu lan ditiru. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

  

Ki Hajar Dewantara,  seorang pendiri Institusi Pendidikan Taman Siswa menyatakan: Ing ngarso sung tulodho. Ing madyo mangun karso. Tut wuri andayani. Di depan siswa seorang guru harus menjadi teladan dalam paham, sikap dan perilaku. Harus memiliki integritas atau kesamaan antara ide, gagasan, pikiran, ucapan dan perilakunya. Di dalam Islam dikenal konsep shiddiq atau jujur dan amanah atau dapat dipercaya. 

  

Ing madyo mangun karso: seorang guru harus bisa memberikan semangat dan motivasi untuk peserta didiknya. Jika ada siswanya yang lamban maka didorong untuk mencapai kemajuan. Di dalam cerita Islam dinyatakan, ada seorang murid yang lamban dalam belajar, namanya Ibnu Hajar. Jika yang lain dapat paham hanya dengan sekali atau dua kali penjelasan, maka dia membutuhkan lebih dari itu.  Gurunya sabar dalam memotivasi dan mengarahkannya, dan akhirnya dia menjadi ulama besar di dalam sejarah pengembangan ilmu keislaman. Di dalam dunia pendidikan tidak ada anak bodoh, tetapi dia memiliki keahlian yang berbeda atau difabel atau different ability dan bukan disable atau disability atau tidak berkemampuan.

  

Tut Wuri Andayani: seorang guru harus menjadi dinamisator dalam pendidikan. Jika berada di belakang, maka guru harus menggerakkan siswanya agar bisa melakukan yang terbaik. Guru yang baik, jika semakin banyak siswa yang berhasil dalam program pendidikannya. Guru yang baik, jika memahami siswanya tentang apa yang bisa dilakukannya. Guru yang baik jika guru itu memahami talenta siswanya dan tidak memaksakan apa yang dianggapnya sesuai. Harus benar-benar dilihat talentanya. Ajari siswa dengan kemampuannya. Setiap orang punya potensi dan tak bisa disamakan di dalam transformasi pengetahuan dan perilaku.

  

Tut Wuri Handayani: seorang guru harus menjadi dinamisator dalam pendidikan. Jika berada di belakang, maka guru harus menggerakkan siswanya agar bisa melakukan yang terbaik. Guru yang baik, jika semakin banyak siswa yang berhasil dalam program pendidikannya. Guru yang baik, jika memahami siswanya tentang apa yang bisa dilakukannya. Guru yang baik jika guru itu memahami talenta siswanya dan tidak memaksakan apa yang dianggapnya sesuai. Harus benar-benar dilihat talentanya. Ajari siswa dengan kemampuannya. Setiap orang punya potensi dan tidak bisa disamakan di dalam transformasi pengetahuan dan perilaku. Menurut Jack Ma; Ajarkan value, Ajarkan believing, Ajarkan critical thinking.  Ajarkan team work. Ajarkan caring the others.

  

Indonesia memiliki kekhasan. Kita tidak menggunakan teks “Deradikalisasi” tetapi Teks “Moderasi Beragama”. Tantangan keberagamaan yang semakin kompleks. Pemahaman beragama yang semakin mengarah kepada kekerasan simbolik dan kekerasan aktual. Kekerasan simbolik dilakukan melalui media sosial, misalnya pernyataan bidh’ah, kafir, dhollah dan sebagainya. Wayang itu haram, membaca wirid bersama setelah shalat itu haram, mengikuti tahlilan itu kesesatan, melakukan yasinan itu bidh’ah. Konsekuensi dari perilaku bidh’ah adalah dholalah dan yang dholalah itu masuk neraka. Yang benar hanya tafsir pemuka agamanya. 

  

Orang bisa menjadi radikal hanya dalam beberapa pertemuan. Mereka dicuci otaknya misalnya, ikut pemerintah yang dholim atau ikut Allah yang adil, ikut pemerintah yang thaghut atau ikut khilafah yang ajaran Islam, ikut Nabi Muhammad atau ikut Umar. Ikut negara kesatuan atau ikut negara Islam, ikut UU buatan manusia atau ikut al-Qur’an. Lalu diungkapkan kelemahan segala hal yang dikaitkan dengan manusia, negara dan pemerintah. Diungkapkan tentang korupsi, kolusi dan nepotisme. Jika sudah yakin siapa yang menjadi sasarannya, maka lalu dibaiat untuk melakukan apa saja yang menjadi perintah pimpinannya. Bahkan jika harus melakukan pengeboman bunuh diri. Moderasi beragama adalah satu cara yang dapat digunakan untuk mengerem dan membersihkan paham keagamaan Salafi Wahabi, Salafi Takfiri dan Salafi Jihadi.

  

Pemerintah melalui Kemenag telah berupaya secara optimal agar moderasi beragama menjadi program nasional. Tahun 2020-2024 telah ditetapkan menjadi RPJMN. Moderasi beragama menjadi program seluruh Kementerian/Lembaga. Telah dilakukan diseminasi pada pejabat, guru, dan penyuluh agama. Telah dilakukan pelatihan moderasi beragama untuk tokoh agama, tokoh organisasi dan tokoh pemuda.

  

Indonesia akan memasuki tahun Emas 2045 dengan Bonus Demografi. Semakin banyak kawula muda yang produktif, semakin sedikit yang tua dan anak-anak. Persiapkan generasi yang akan datang dengan Islam wasathiyah. Jangan serahkan mereka ke tangan-tangan “jail” yang akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Para guru yang bertanggungjawab atas mereka di masa depan. Jika para guru berhasil mendidik mereka untuk menjadi generasi Islam wasathiyah, selamatlah bangsa ini. Jika para guru gagal mendidik mereka untuk menjadi generasi Islam wasathiyah, runtuhlah Indonesia.

  

Sekali  kita berpikir mengganti Pancasila dengan ideologi lain, maka masa depan indonesia dipertaruhkan. Negara  yang besar ini jangan dieksperimenkan. Sekarang pancasila besuk yang lain. Resikonya  terlalu besar bagi NKRI  jika negeri ini berada di dalam konflik horizontal. Mari  kita bersyukur atas karunia Allah yang sangat luar biasa ini. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.