Diperlukan Sistem Pengaderan Baru Aktivis Organisasi Ekstra Kampus
OpiniSebagai organisasi ekstra kampus, PMII tentu memiliki sejumlah tantangan yang tidak sedikit. Jika di masa lalu organisasi ini dengan cara mudah bisa memperoleh anggota, sesuai dengan basis pemahaman keagamaannya, maka sekarang tentu tidak mudah. Hal ini tentu disebabkan perubahan dalam menghadapi era baru penggunaan teknologi informasi untuk banyak aspek di bidang pendidikan dan pelatihan. Perubahan ini seharusnya juga direspon oleh PMII di dalam program pengaderan calon aktivis mahasiswa sekarang dan masa depan.
Pada tanggal 16 Oktober 2021 yang lalu saya diundang untuk memberikan pembekalan kepada para alumni PMII dalam acara pelantikan Pengurus Cabang Ikatan Alumni (PC IKA) PMII Tuban. Acara ini dihadiri oleh Ketua Pengurus Besar IKA PMII, Drs. Ahmad Muqawam, Ketua PCNU Tuban, KH. Kasduri, Ketua DPRD Tuban, Miyadi, dan juga pengurus IKA PMII Wilayah Jawa Timur, Cak Muhid dan Cak Firman. Terpilih sebagai Ketua dan Sekretaris PC IKA PMII Tuban adalah Khoirul Huda dan Moh. Irhamsyah. Acara ini diselenggarakan di Aula PC. NU Tuban.
Di dalam acara ini, saya sampaikan tiga hal, yaitu: pertama, ucapan selamat atas pelantikan PC IKA PMII Tuban. Melalui pelantikan yang dihadiri langsung oleh Ketua Umum PB IKA PMII menandakan bahwa IKA PMII telah menjadi modal sosial yang yang sangat baik di masa depan. Kita semua berharap bahwa IKA PMII dapat menjadi wadah bagi bertemunya berbagai kepentingan warga besar PMII yang dapat menjadi tempat yang menyejukkan dalam kehidupan bermasyarakat. PMII merupakan organisasi ekstra kampus yang hingga hari ini masih memiliki pengaruh besar bagi pendewasaan kapasitas berorganisasi dan dapat menjadi wadah bagi penguatan kapasitas diri dalam kehidupan sosial, politik dan juga keagamaan.
Kedua, PMII merupakan organisasi kader. Artinya yang menjadi visi di dalam organisasi adalah mencetak calon pemimpin bangsa dalam berbagai levelnya. Sebagaimana diketahui bahwa aktivis organisasi ini telah malang melintang dalam blantika politik, sosial kebangsaan dan agama. Ada banyak alumni PMII yang duduk dalam jabatan strategis di legislatif, jabatan pimpinan daerah, bahkan juga para pengusaha dalam level yang didapatkannya. Oleh sebab itu, PMII harus menjadi rumah besar bagi mahasiswa dan alumninya untuk mengekspresikan kehidupannya di dalam tatanan sosial yang terus berubah. Kader PMII banyak yang duduk di dalam lintas partai politik, banyak yang duduk di karir yang bervariasi, baik dari dunia birokrasi maupun militer dan kepolisian. Ada yang menjadi wirausahawan dan berkarir di dunia akademik, baik sebagai dosen atau guru. Semuanya menggambarkan bahwa PMII telah memberikan sumbangan signifikan bagi pengembangan SDM di Indonesia.
Semenjak semula PMII memang menjadi bagian tidak terpisahkan dari NU. Di masa lalu menjadi organisasi yang memiliki ikatan kuat secara kultural dan sekarang telah menjadi Badan Otonom NU. Artinya secara struktural PMII telah menjadi bagian di dalam proses untuk menjadi NU. Bukan berarti bahwa di masa lalu menjadi PMII tidak menjadi NU, melainkan dengan penguatan struktural ini, maka PMII jelas menjadi organisasi yang tidak terpisahkan baik secara structural maupun kultural. Dengan demikian, PMII menjadi semakin kuat posisinya di dalam suatu system pengaderan untuk tujuan pengembangan SDM bervisi Ke-NU-an.
Ketiga, sebagai organisasi para pemuda, maka PMII juga memiliki tantangan yang tidak sedikit. Beberapa di antaranya adalah tantangan semakin mencengkeramnya teknologi informasi dewasa ini. Tantangan media social yang sangat meraksasa. Pertarungan otoritas keagamaan yang semakin menguat melalui media sosial tentu memerlukan keterlibatan para pemuda Nahdhiyin untuk terlibat di dalamnya. PMII sebagai organisasi mahasiswa sudah seharusnya terlibat secara aktif dengan perkembangan terakhir dari digunakannya media sosial oleh pihak lain untuk tujuan kebencian, hoaks dan disinformasi sosial. Jika diamati di dalam Youtube, sebenarnya terdapat pertarungan yang luar biasa, antara Islam Salafi dengan Islam Moderat atau Islam Wasathiyah. Pertarungan ini bisa dikuasai oleh kelompok Salafi jika kaum muda NU tidak melakukan gerakan speak up secara sistematis dan massive. Sahabat PMII jangan hanya menjadi konsumen media social tetapi harus menjadi produsen media social. Harus dikuasai berbagai media social seperti Instagram, Twitter, meme, kanal Youtube dan sebagainya dengan konten Islam Wasathiyah.
Tantangan lain adalah menghadapi generasi “rebahan”. Generasi yang melakukan sebagian aktivitas sosialnya melalui teknologi informasi. Generasi sosial anak cucu revolusi industry 4.0 ini memiliki life style yang sungguh berbeda dengan generasi seniornya. Mereka bekerja sekaligus melakukan aktivitas sosialnya melalui ponsel dan hal ini sangat dinikmatinya. Tantangan ini juga berimbas pada sistem pengaderan di dalam organisasi PMII.
Jika selama ini pengaderan dilakukan dengan sistem luring, karena kebutuhan bersosialisasi bisa dipenuhi dengan luring, maka melalui perkembangan revolusi industry 4.0, pemenuhan kebutuhan dilakukan dengan cara daring. Belajar dan meeting dengan sistem daring, bahkan bersahabat juga dengan sistem ini. Sungguh di dalam pemenuhan kebutuhan yang primer, mereka juga menggunakan teknologi informasi untuk memenuhinya. Jika tuntutan generasi muda seperti ini, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, maka PMII juga harus berubah.
Di antara perubahan yang mendesak adalah sistem pengaderan. Sistem baru dalam pengaderan harus ada untuk aktivis mahasiswa PMII. Jadi diperlukan suatu sistem yang dapat menjamin bahwa tetap terjadi pengaderan secara terstruktur, sistematis dan masif. Jika hal ini tidak dilakukan maka akan terjadi lack generation di masa yang akan datang. Saya bukan ahli sistem, bukan ahli teknologi informasi, namun saya memiliki satu asumsi bahwa jika tidak dilakukan perubahan dalam sistem pengaderan di era revolusi industri 4.0, ke depan akan terjadi kesenjangan generasi di dalam tubuh PMII.
Oleh karena itu, para senior PMII harus berkolaborasi dengan ahli di bidang teknologi informasi untuk merumuskan sistem pengaderan baru pada level apapun. Bisa di level kader dasar, menengah dan lanjut. Saya sungguh berharap bahwa PMII tidak lagi berorientasi pada kumpulan masa, melainkan kumpulan kader yang secara individual maupun sosial terikat dengan visi PMII. Cara ini dapat membantu PMII untuk bisa memerankan diri sebagai organisasi kader bagi Indonesia yang hebat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

