Doa untuk Palestina: Khutbah Idul Adha di Masjid Ar Roudhoh
OpiniSaya sebenarnya sudah tidak akan khutbah untuk hari Raya Idul Adha, 1446 H atau 2025 M. Saya sudah putuskan untuk menjadi jamaah saja, sebagaimana pada saat shalat Idul Fithri kemarin. Tetapi Pak Sahid, tiba-tiba bertanya kepada saya: "Prof, khutbah di mana?" Dengan jujur saya jawab: “saya off hari raya ini. Saya ingin menikmati menjadi jamaah saja.” Lalu dinyatakan: “wah ketepatan Prof, panjenengan khutbah di Masjid Ar Roudhoh saja.” Saya tetap dengan jawaban: “nggak usahlah. Biarkan saya menikmati kehidupan.” Tetapi akhirnya Pak Sahid mendesak saya, jadilah saya khutbah Hari Raya Idul Adha di Masjid Ar Roudhoh.
Sebagaimana biasa, maka saya harus mempersiapkan diri untuk menjadi khatib. Saya tidak suka dengan ceramah langsung, sebab acara khutbah tentu sangat berbeda dengan ceramah agama pada umumnya. Saya persiapkan naskah khutbah yang berjudul “Menyontoh Nabi Ibrahim: Trust sebagai fondasi kehidupan.” Sebagaimana biasa, maka saya sampaikan tiga hal mendasar dalam kaitannya dengan khutbah saya. Pertama, terkait dengan ibadah hari raya sebagai peneladanan atas perilaku religious sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW yang berbasis pada ibadah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Pelaksanaan ibadah haji adalah napak tilas atas ibadah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Upacara thawaf, sa’i, melempar jumrah dan bermalam di Arafah, Mabit di Muzdalifah dan melempar jumrah di Mina adalah perilaku religious yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS.
Kedua, proses pengorbanan Ismail AS merupakan cara Allah untuk menguji atas hambanya. Dengan cara ini Allah sesungguhnya mengajarkan kepada manusia bahwa tidak ada manusia yang tidak sama sekali memperoleh ujian dari Allah. Nabi Ibrahim AS tentu saja sangat menyayangi putranya, Ismail AS. Di saat Ismail mencapai usia baligh, maka Allah memberikan kabar dengan mimpi kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih putranya. Tetapi hal yang luar biasa, bahwa Ismail yang masih sangat muda itu ternyata memahami atas perintah Allah tersebut. Di kala ditanya oleh Ibrahim AS: “bagaimana pendapatmu,” maka dijawabnya dengan tegas: “lakukanlah apa yang diperintahkan Allah, insyaallah kami termasuk orang-orang yang sabar.” Sebuah ungkapan yang luar biasa. Kepasrahan yang tiada tanding. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Ternyata jawabnya adalah adanya trust di dalam keluarga. Trust yang dirasakan oleh Hajar, dan trust yang dirasakan oleh Ibrahim, serta trust yang dirasakan oleh Ismail itulah yang menjadi dasar mengapa mereka mempercayai akan perintah Tuhan dimaksud. Hajar merupakan Perempuan yang luar biasa yang sedemikian tinggi imannya kepada Allah. Dengan anaknya yang masih bayi dan ditempatkan di padang tandus di dekat Ka’bah dengan tanpa perbekalan yang memadai, akan tetapi dengan keimanannya bahwa Allah akan menolongnya, maka tertolonglah Hajar dan Ismail. Maka di kala Allah memerintahkan Ismail untuk dikorbankan, maka Hajar juga yakin bahwa Allah akan menolongnya. Ternyata benar akhirnya Allah menggantinya dengan domba besar dari surga. Inilah trust akan kebenaran Allah, trust atas sesama anggota keluarga dan trust akan kebenaran ajaran Allah yang akhirnya menjadi dasar atas perilaku individual dan sosialnya.
Ketiga, ada pelajaran penting yang dapat diambil dan dijadikan contoh dari upacara kurban hari raya Idul Kurban. Di dalam upacara kurban, maka tiga kebutuhan yang dapat dipenuhi. Kebanyakan orang memahami bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan Rohani atau jasad dan roh atau jiwa dan raga. Padahal manusia memiliki tiga unsur yang saling terkait, yaitu jasad, jiwa dan roh. Jasad adalah tempat jiwa dan roh. Jasad merupakan wujud fisikal manusia yang terdiri dari susunan saraf, daging dan tulang. Jasad adalah fisikal, maka juga berlaku hukum fisikal yaitu memerlukan kebutuhan biologis. Tubuh memiliki hak untuk memperoleh asupan fisikal, seperti karbohidrat, protein dan kebutuhan fisik lainnya. Di dalam diri manusia terdapat unsur Roh, sebagaimana ditiupkan oleh Allah pada saat usia bayi masih di dalam kandungan. Di dalam bahasa Indonesia, roh itu diartikan spirit atau disebut sebagai jiwa. Di dalam Islam, ada roh dan ada nafsu. Roh merupakan unsur yang paling rahasia di dalam diri manusia, hanya Tuhan yang tahu, bahkan Nabi Muhammad SAW menyerahkan urusan Roh kepada Allah SWT.
Nafsu atau jiwa di dalam bahasa Indonesia, bisa dipahami akibatnya. Ada Nafsu amarah untuk menggambarkan nafsu seseorang yang menyerupai nafsu binatang. Ada nafsu lawwamah atau nafsu yang mengikuti nafsu-nafsu lainnya dan ada nafsu muthmainnah atau nafsu yang berkaitan dengan kebaikan.
Ada relasi dengan tiga matra: hablum minallah, hablum minan nas dan hablum alam, ada kecocokan dalam hal ini dengan tiga unsur di dalam diri manusia, yaitu: fisik, jiwa dan roh. Di dalam hablum minallah terdapat relasi dengan Tuhan Allah SWT, di dalam hablum minan nas terdapat relasi antar manusia berbasis kejiwaan dan di dalam hablum minal alam terdapat urusan kebutuhan fisik yang dipenuhi dari alam.
Perlu diketahi bahwa ada ibadah yang memiliki tiga cakupan sekaligus, yaitu ibadah kurban, zakat, infaq dan sedekah atau wakaf. Ibadah-ibadah ini memiliki tiga cakupan sekaligus, yaitu menjadi instrument untuk relasi vertical atau memenuhi kebutuhan roh, untuk relasi horizontal atau memenuhi kebutuhan jiwa dan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan fisik bagi yang memerlukan. Di dalam berdoa, secara khusus, saya mendoakan kepada para saudara kita umat Islam di Palestina. Di dalam bahasa Indonesia, saya sampaikan doa:
“Ya Allah Yang Maha Rahman dan Rahim, Engkau Yang Maha Kasih dan Sayang, berikan kasih sayangmu kepada bangsa Palestina. Ya Allah Yang Maha Pemberi Selamat, selamatkanlah mereka Ya Allah, selamatkanlah mereka dari kekejaman bangsa Israel.
Ya Allah yang Maha Kuasa, dengan kekuasaanmu hancurkan Bangsa Israel dari muka bumi, dengan kekuasaanmu, kami mengharapkan agar bangsa Israel engkau laknat sebagaimana umat di masa lalu yang menerima azabmu. Ya Allah yang Maha Perkasa, dengan keperkasaanmu Engkau luluh lantakkan bangsa Israel dari muka bumi. Mereka telah membuat penderitaan yang tiada tara atas bangsa Palestina. Mereka hancurkan anak-anak, kaum perempuan, orang tua dan orang-orang yang tak berdaya. Mereka hancurkan fasilitas umum, fasilitas air, makanan, rumah sakit, lembaga pendidikan dan bangunan-bangunan bersejarah. Ya Allah dengan kekuasaan dan keperkasaanmu Engka pasti dapat menghancurkan kedzaliman bangsa Israel.
Ya Allah yang Maha Penghancur, hancurkan bangsa Israel dan sekutunya di muka bumi. Mereka sudah keterlaluan merusak kemanusiaan. Mereka sudah melebihi batas, sudah saatnya mereka menerima adzabmu yang sangat pedih.
Ya Allah, kabulkan doa-doa kami. Rabbana taqabbal minna du’aana innaka antas sami’un ‘alim watub ‘alaina innaka antat tawwabur Rahim. Rabbana Atina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzaban nar”.
Walhamdu lillahi rabbil alamin.

