(Sumber : Tribun Travel )

Eropa Semakin Tak Bertuhan

Opini

Banyak survey yang dilakukan dengan menempatkan masyarakat di beberapa negara Eropa yang semakin tidak percaya kepada Tuhan. Beberapa negara yang disurvey ternyata menggambarkan bahwa mereka tidak lagi percaya Tuhan. Saya nyatakan tidak lagi percaya kepada Tuhan, sebab secara historis, bahwa masyarakat Eropa adalah masyarakat yang sangat mempercayai terhadap Tuhan di masa lalu. Mereka adalah penganut agama Kristen dan Katolik yang taat, dan memiliki keyakinan tentang Tuhan yang sangat besar. 

  

Namun survey terakhir yang dilakukan World Statistic  menyatakan bahwa Dari 23 negara tersebut dijerlaskan bahwa peringkatnya adalah:  Indonesia 93%, Turkey 91%, Brazil 84%, Afrika Selatan 83%, Mexico 75%, Amerika Serikat 70%, Agentina 62%, Rusia 56%, India 56%, Polandia 51%, Italia 50%, Canada 46%, Australia  29%, Spanyol 28%, Jerman 27%, Inggris 25%, Belgia 20%, Perancis 19%, Swedia 18%, Korea Selatan 18%, China 9%, Jepang 4%. (detikedu, 26 Juli 2023). 

  

Survey lain, WIN Gallup, ternyata dari 57 negara rata-rata percaya Tuhan sebesar 58%. Kaum atheis di seluruh dunia memang tambah 7%. Negara dengan kepercayaan tertinggi pada Tuhan dipegang oleh negara-negara di Afrika, yaitu Ghana 96%, Nigeria 93%, Macedonia 90%.  Afrika rata-rata  bertuhan sebesar 89%. Negara yang tingkat kepercayaan Tuhannya di Asia rendah adalah Jepang hanya 31%, Sementara di Eropa adalah Ceko 30%, Perancis 29%.

   

Marilah kita pahami tentang negara Eropa yang semakin tidak percaya Tuhan. Di Eropa negara dengan tingkat persentase percaya kepada Tuhan di bawah 30% adalah Spanyol, Jerman, Inggris, Belgia, Perancis dan Swedia. Semantara Italia sebagai pusat Katolik masih berada pada 50% kepercayaan pada Tuhan. Italia dengan sentralnya Vatikan merupakan pusat agama Katolik di dunia. Itupun sudah tinggal 50% masyarakat yang potensial percaya tentang adanya Tuhan. Selain itu, Inggris yang merupakan pusat Kristen Anglikan juga mengalami proses pemudaran kepercayaan kepada Tuhan yang sangat luar biasa. 

   

Masyarakat Eropa dikenal sebagai masyarakat yang tercerahkan karena mengalami proses sekularisasi semenjak abad pertengahan. Sekularisasi adalah proses pemisahan gereja dengan negara. Di dalam konsep secular, maka agama hanya mengurusi urusan agama sementara itu negara mengurusi urusan masyarakat. Agama tidak boleh mencampuri urusan negara atau masyarakat. Zaman ini disebut sebagai aufklarung atau zaman pencerahan. Di dalam konteks lain sekularisasi semakna dengan rasionalisasi. Artinya bahwa masyarakat harus semakin rasional dengan menempatkan fungsi masing-masing yang bebeda antara agama di satu sisi dengan negara di sisi lainnya. Meskipun tidak sama secara istilah, tetapi sekularisasi sebenarnya merupakan anak cucu rasionalisasi. Semakin rasional masyarakat maka semakin bisa memisahkan antara agama dan negara.

  

Munculnya sekularisme sesungguhnya sebagai akibat dari pengekangan atas pengembangan ilmu pengetahuan, misalnya dengan dihukumnya Copernicus, Gradano, Galileo Galilei dan lain-lain. Hukuman atas ahli sains ini menimbulkan dukungan yang sangat kuat agar agama dipisahkan dari negara. Gereja tidak bleh lagi menghukum para ahli ilmu yang meyakini kebenaran ilmu pengetahuan. Pada tahun 1846 M, maka muncullah kata sekularisme yang merupakan pandangan bahwa ada prinsip moralitas alamiah yang harus dipisahkan dari agama. Konsep ini pertama dikembangkan oleh George Jacub Halyoke. Di dalam pikirannya bahwa moralitas alamiah harus dipisahkan dari hal-hal yang bercorak ketuhanan atau yang supranatural. (jurnalposmedia.com, diunduh 05/08/2023). 

  

Para ahli ilmu social, misalnya August Comte membagi kehidupan masyarakat dengan tiga tahapan, yaitu teologia atau serba Tuhan, metafisika atau selalu berpikir tentang dibalik yang alam  dan positive atau serba rasional. Era positif ditandai dengan masyarakat yang semakin rasional, dan memisahkan agama dengan negara. Max Weber juga menyatakan bahwa semakin rasional suatu masyarakat akan semakin menjauhkannya dari hal-hal yang bersifat sacral. Lalu juga Karl Marx yang menjauhkan ide yang abstrak ke dunia materi yang kongkrit. Pada tahun 1846, Marx mendeklarasikan gagasannya tentang filsafat materialism yang secara langsung menantang terhadap pandangan kaum Hegelian, bahwa dunia dipengaruhi oleh materi dan bukan ide. Secara sadar dinyatakan bahwa yang mempengaruhi prilaku manusia itu bukan ide atau gagasan akan tetapi materi dan secara lebih khusus, ekonomi. 

  

Berbasis pada konsep dan realitas empiris dimaksud, maka gerakan sekularisasi atau lebih umum rasionalisasi terus berjalan, sehingga kegaiban, seperti Tuhan dan segala atribusinya serta hal-hal yang suprarasional sudah dinyatakan tidak ada. Jika kemudian sekarang banyak orang Eropa yang tidak lagi percaya Tuhan, maka hal tersebut merupakan keberlangsungan sejarah sekularisasi yang terus terjadi. 

  

Masyarakat Eropa memang telah lama bergelut dengan paham materialisme, dan salah satu efeknya adalah ketidakpercayaan kepada eksistensi Tuhan. Tuhan itu sudah lama mati. Demikianlah pemikiran  Nietzsche (1882) yang banyak pengikutnya di Eropa. Oleh karena itu jika di Swedia dan beberapa negara lain melakukan pembakaran terhadap Kitab Suci Alqur’an, maka hal itu adalah konsekuensi atas ketidakyakinannya bahwa Tuhan tidak ada, sehingga kitab yang dikaitkan dengan Tuhan juga tidak ada. 

  

Hanya sayangnya, bahwa mereka berlaku berlebihan. Tindakan membakar Al-Qur’an adalah pencederaan atas keyakinan suatu umat beragama. Masyarakat Islam yang selama ini meyakini atas kebenaran wahyu Tuhan tentu terluka, dan jika kemudian melakukan pembelaan atas keyakinannya tentu bukan suatu kesalahan. 

  

Sebaiknya masyarakat apapun agamanya dan apapun keyakinannya harus saling menghormati. Dunia akan damai jika di antara warga masyarakat dunia itu saling menghargai dan menghormati.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.