Pesan Untuk Maba UINSA
KhazanahOleh: Eva Putriya Hasanah
Saya akui, saat kuliah dulu selain aktivitas akademik, saya tidak aktif di dalam kampus. Saya lebih memilih untuk aktif di luar kampus dan mengembangkan diri saya disana. Itu sudah menjadi pilihan saya sejak menjadi mahasiswa baru. Sehingga saya terus mengumpulkan informasi terkait kegiatan-kegiatan di luar kampus. Mulai dari camp lintas agama, volunteer, lomba menulis, konferensi nasional maupun internasional, fullyfunded, partially funded, maupun yang berbayar mandiri, semua saya kumpulkan dan saya catat di buku.
Satu demi satu saya coba ikuti, sebagian ada yang berhasil lolos dan sebagian tidak. Itu wajar dan saya tidak pernah berhenti. Justru saya senang berhasil melaluinya. Motivasi saya saat itu adalah orang tua saya. Mereka berdua adalah penyumbang semangat terbesar diri saya untuk selalu berkembang.
Hanya saja saya belum berhasil mengikuti program internasional fullyfunded di luar negeri. Selalu saja berbayar! Sebagai mahasiswa yang saat itu mengandalkan uang dari beasiswa, pemberian orang tua dan kadang jualan online, rasanya tidak mungkin. Meski juga sempat saya coba ajukan proposal ke kampus dan berbicara dengan beberapa orang agar bisa di bantu tapi belum juga tembus. Ya mungkin belum rejeki.
Tapi saya bersyukur, paling tidak sudah pernah ada artikel saya yang dimuat dalam compendium konferensi di Singapura bersama dengan beberapa artikel terpilih dari negara lain. Meski hanya tulisan saya yang sampai disana, bukan tubuh saya. Tak mengapa.
Sedangkan organisasi, saya memilih menjadi bagian dari Global Peace Youth Surabaya dan UINSA Student Forum. Dua organisasi yang saya anggap sangat cocok dengan nilai-nilai yang selama ini ada dalam diri saya. Ternyata benar! Memori-memori saat saya tergabung didalamnya masih teringat jelas dan menginspirasi saya untuk melakukan banyak hal hari ini.
Mengapa saya bergabung dengan forum di luar kampus?
Ada alasan mengapa saya sangat ingin bergabung dengan forum di luar kampus. Saya ingin bertemu dengan orang lain. Saya ingin bertukar pikiran dan pengalaman dengan mereka. Di dalam kampus, cukup bagi saya untuk berdiskusi dengan dosen, teman sekelas, kakak tingkat, atau teman lintas jurusan.
Baca Juga : Jangan Kehilangan Tongkat Dua Kali Dengan RUU HIP
Tapi penting juga bagi saya untuk bertemu orang yang bertumbuh di tempat lain. Saya yakin bahwa lingkungan yang berbeda membentuk cara berpikir seseorang yang berbeda pula. Maka saya perlu untuk bertemu dengan mahasiswa dari kampus UNAIR, UPN, UNTAG, UNESA, ITS, dan kampus-kampus lain untuk memperluas wawasan dan menjadikan saya tidak menjadi tertutup dengan perbedaan. Itu saya lakukan dengan cara berpartisipasi dalam kegiatan dan organisasi di luar kampus.
Saya kira hingga sekarang, hal ini perlu dilakukan oleh semua mahasiswa teruntuk para Maba saat ini. Ketika kita merasa bahwa kita unggul dan menjadikan kita sombong, dengan bertemu orang lain dari lingkungan yang berbeda kita jadi sadar bahwa masih banyak hal yang harus kita perbaiki.
Namun bukan berarti saya mengatakan tidak boleh untuk mengikuti organisasi atau UKM di dalam kampus. Tentu saja UINSA memiliki begitu banyak pilihan organisasi dan UKM yang bisa di pilih sebagai tempat mengembangkan diri. Tapi pesan saya adalah sesekali bergabunglah dengan forum-forum di luar kampus agar kita tidak menjadi orang yang tertutup.
Ingatlah! Kuliah Adalah Bentuk Tanggung Jawab
Rasa-rasanya tidak masuk akal jika menganggap kuliah tidak penting setelah kita memutuskan untuk masuk diperguruan tinggi. Saat asik ikut organisasi atau kegiatan di luar, terkadang beberapa orang menjadi lupa melakukan tanggungjawab nya. Iya, bagi saya mengikuti proses akademik dalam perkuliahan adalah penting karena merupakan bentuk tanggungjawab bagi kita yang telah sadar dalam memilih. Terlepas dari biaya sendiri, orang tua maupun beasiswa. Memilih masuk diperkuliahan artinya kita juga dipilih. Tidak semua orang di anugerahi kesempatan yang sama seperti kita.
Meski saya aktif mengikuti kegiatan di luar kampus. Saya berusaha untuk bertanggungjawab atas keputusan yang saya pilih. Saya masuk kelas, berpartisipasi dalam kelompok, dan mengerjakan tugas tepat waktu.
Sesekali saya izin dalam beberapa mata kuliah untuk mengikuti kegiatan di luar kampus. Itu tidak masalah asalkan kita memiliki iktikad yang baik untuk tetap mengikuti proses akademik.
Mungkin dalam proses pencarian jati diri, kita akan merasa bahwa akademik tidaklah penting, tidak sesuai dengan kemauan kita, bahkan ekstrimnya ada yang menganggap tidak berguna bagi diri sendiri maupun untuk masyarakat di masa depan. Mungkin iya dan mungkin tidak. Tapi jika kita telah memilih dan tidak punya alternatif lain, jadikanlah proses kuliah ini sebagai instrumen untuk kita belajar mengakumulasi nilai-nilai kehidupan seperti bertanggung jawab, disiplin, saling menghargai, teliti, sopan santun, bijaksana, dan lainnya yang bisa kita gunakan di hari-hari berikutnya.
Kamu Bisa, Kita Semua Bisa!

