Generasi Milenial di Tengah Perubahan Sosial Kompleks (1)
OpiniPerubahan sosial menuju ke dalam arah yang semakin kompleks. Tidak ada realitas sosial yang simpel. Semuanya menjadi kompleks. Pada era teknologi informasi yang semakin berpengaruh secara gigantic dan power full, maka suatu masalah sosial yang sederhana dapat menjadi kompleks karena masuk ke dalam realitas sosial yang rumit.
Suatu kenyataan bahwa perubahan sosial semakin tidak terkendali di tengah semakin menguatnya Artificial Intelligent (AI) yang bisa saja nantinya akan mendegradasi peran manusia sebagai makhluk sosial. Di dalam era yang disebut Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity, maka dunia memang berada di dalam ketidakmenentuan. Dunia di dalam ketidakpastian, kompleksitas dan ambiguitas. Melalui keberadaan teknologi informasi dengan media sosial sebagai pirantinya, artificial inteleligent dan big data, maka akan memudahkan untuk melakukan analisis atas suatu masalah, akan tetapi juga mengandung kerumitan karena masalah menjadi semakin kompleks karena keberadaan dan pengaruh media sosial.
Generasi milenial memang dikenal sebagai generasi yang memahami teknologi informasi jauh lebih baik dibanding dengan generasi sebelumnya. Ada yang melabel generasi milenial adalah generasi rebahan. Artinya generasi yang banyak bekerja dengan teknologi informasi. Banyak yang beraktivitas secara ekonomis dengan memanfaatkan kemampuannya dalam bidang teknologi informasi. Misalnya terlibat di dalam e-commerce.
Namun demikian, generasi milenial juga sedang menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Di antaranya adalah tantangan era Volatility, Uncertanty, Complexity and Ambiguity (VUCA), di mana zaman ini ditandai dengan ketiadaan pakem untuk bekerja, yang ditandai dengan keadaan yang tidak menentu, kompleksitas masalah yang dihadapi, ada masalah-masalah yang datang belakangan atau baru dan ada yang sudah kronik. Keduanya tentu harus memperoleh penanganan yang serius agar masalahnya tidak menjadi membesar dan rumit.
Ada beberapa tantangan generasi milenial yang dihadapinya dewasa ini yaitu: rendahnya peluang pekerjaan atau pengangguran, kecanduan teknologi informasi, diskriminasi, kecanduan zat, alkohol dan seks, kekerasan atau perundungan, interaksi manusia yang semakin rendah, dan rendahnya akses pendidikan tinggi yang cenderung kapitalistik. Tulisan ini akan membahas tentang tantangan dimaksud dalam dua edisi.
Pertama, tantangan lapangan pekerjaan. Di antara tantangan dunia kerja adalah semakin menguatnya Artificial Intelligent (AI). Semakin menguatnya AI, misalnya ditandai dengan kehadiran robot akan dapat menjadi tantangan bagi tenaga kerja. Sementara itu jumlah tenaga kerja yang tidak memiliki skill juga relative tinggi. Di Indonesia, jumlah tenaga kerja yang tidak atau belum terserap ke dunia pasar kerja sebesar 7,9 juta orang. Itu artinya, bahwa masih cukup banyak tenaga kerja kita yang tidak memiliki standart untuk masuk ke pasar kerja. Lulusan Sekolah Menengah Atas dan bahkan lulusan Perguruan Tinggi juga banyak yang tidak bisa mengisi formasi ketenagakerjaan, disebabkan rendahnya relevansi dengan pasar kerja.
Di Indonesia, PT termasuk yang memberikan sumbangan besar bagi pengangguran terdidik. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya lulusan atau sarjana ilmu social yang peluang kerjanya sangat terbatas. Sementara itu lulusan institusi pendidikan sains dan teknologi masih terbatas. Gap antara lulusan, kompetensi dan lapangan kerja itulah yang menjadi factor ketidakterserapan tenaga kerja terdidik dalam pasar kerja.
Kedua, tantangan penggunaan teknologi informasi yang semakin besar. Dengan semakin meluasnya penggunaan teknologi informasi, maka juga terdapat dua sisi yang saling berseberangan. Ada yang bisa memanfaatkan platform digital untuk berinovasi dalam dunia kerja dan ada yang justru IT dapat menjadi candu bagi kehidupan. Banyak di antara anggota masyarakat yang justru kecanduan gadget dan berakibat kurang baik bagi kehidupannya. Masyarakat yang sedang berada di era transisi berteknologi informasi ternyata rawan juga dalam menghadapi perubahan yang cepat terkait dengan media sosial. Alih-alih menjadikan media sosial sebagai sumber informasi dan media bisnis tetapi justru menjadi media untuk saling menggunjing dan membuat hoaks.
Media sosial sebagai anak cucu TI tentu juga memiliki manfaat misalnya bisa mendekatkan jarak antar wilayah. Pada masa Covid-19, maka yang bisa diandalkan sebagai sarana komunikasi antar manusia dalam wilayah yang berbeda adalah media social. WA bisa menjadi andalan bagi siapa saja yang pengetahuan atas teknologi informasi belum optimal.
Ketiga, dampak teknologi informasi. Era TI juga menjauhkan yang dekat berupa relasi social yang semakin renggang. Jika kita perhatikan maka ada banyak orang yang sesuangguhnya berdekatan tetapi masing-masing melakukan sesuatu yang berbeda. Bahkan suami istri atau anak dan orang tua yang berada di dalam suatu momen yang sama, tetapi masing-masing sibuk dengan gadgetnya. Ini bukan barang baru akan tetapi sudah menjadi kelaziman di tengah semakin menguatnya media sosial dewasa ini.
Dengan demikian, tantangan generasi milenial sungguh tidak mudah untuk diatasi sebab tantangan tersebut terkait dengan perubahan social yang semakin mengarah kepada kecenderungan untuk bersikap individual, semakin rendah sikap sosialnya dan juga tantangan artificial intelligent yang akan semakin menggerus peran manusia di dalam dunia kerja. Tetapi kita harus tetap optimis bahwa tidak ada suatu masalah yang tidak bisa diselesaikan. Every problem has a solution.
Wallahu a’lam bi al shawab.

