(Sumber : zonaintelektual.com)

Paradox Kalimat “Perempuan Selalu Benar”: Fenomena Yang Perlu Dikaji Lebih Dalam

Horizon

Oleh Eva Putriya Hasanah

  

\"Iya deh, ngalah aja. Perempuan kan memang selalu benar\"

  

Kalian pasti pernah atau bahkan sering mendengar kalimat itu. Entah di dunia maya ataupun di dunia nyata. Kalimat ini sering diucapkan sebagai guyonan maupun sindiran pada kaum perempuan yang di anggap selalu ingin menang sendiri.

  

Sehingga pertanyaannya adalah “Apakah betul perempuan selalu benar?” “Apakah perempuan selalu ingin menang sendiri?” maka, realitas yang banyak menimpah kaum perempuan justru lebih banyak menunjukkan hal yang berbeda. 

  

Dalam sejarah perempuan selama ribuan tahun terjebak dalam sebuah masyarakat yang patriarki. Meskipun perempuan memiliki hak sama dengan laki-laki, namun mereka masih sering mengalami diskriminasi dari masyarakat. Akibatnya, banyak perempuan terpaksa menjalani hidup dalam ketakutan, berdiam diri dan mengambil tindakan dalam diam.

  

Di masa kini kehidupan perempuan di pandang lebih baik daripada masa lalu. Namun bukan berarti persoalan perempuan telah usai. Kasus kekerasan masih banyak mengancam perempuan. Di tahun 2022, Komnas Perempuan mencatat 457.895 kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan. Menurut Gusti Ayu Bintang Darmawati, segala kekerasan yang menimpah perempuan berakar pada adanya ketimpangan gender akibat pemikiran bahwa perempuan lebih rendah daripada laki-laki yang terjadi tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain. Perempuan seringkali dilekatkan dengan pandangan masyarakat yang seksis, misiogini, penuh dengan stigma, stereotip dan kontruksi sosial yang menempatkan posisinya lebih rendah dari kaum laki-laki.

  

Laporan surve yang dilakukan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di tahun 2013 dengan judul \"Why Do Some Men Use Violence Against Women and How Can We Prevent it?\" menunjukkan setidaknya terdapat 40 persen responden menganggap perempuan harus rela mengalami kekerasan agar keluarga tetap bisa bertahan. Rata-rata 97 persen responden meyakini perempuan harus tunduk pada suami dalam keluarga. 

  

Tidak hanya itu, perempuan juga masih kerap mendapatkan ketidakadilan dalam segala aspek yang membuat mereka lebih sulit dalam mendapatkan akses kehidupan yang lebih baik. Misalnya pada ranah pendidikan dan pekerjaan. Perempuan seringkali dianggap tidak bisa berpikir logis dan emosional yang menjadikannya selalu terhambat untuk memperoleh akses publik. Padahal sebuah penelitian di Universitas Wisconsin Amerika Serikat memberikan kesimpulan yang berbeda bahwa laki-laki lebih unggul dari perempuan dalam bidang matematika dan logika justru bukan karena faktor biologis, akan tetapi kultur dan sosial masyarakat yang membentuknya. Penyebabnya antara lain : pertama, label yang dilekatkan pada perempuan yang menjauhkan mereka dari dunia matematika dan logika yang dianggap sebagai ilmu yang bersifat maskulin. Sehingga meski saat berkuliah minat terhadap bidang tersebut cukup banyak, namun saat terjun di ranah profesional jumlahnya mengalami penurunan. Sehingga dengan kata lain akses pendidikan sangat penting bagi perempuan. Kedua, sangat minimnya role model yang dapat dijadikan panutan bagi anak-anak perempuan dalam bidang pekerjaan matematika dan logika. Hal ini sebagaimana laporan yang dikeluarkan oleh UNESCO dan Korean Women\'s Development Institute. Ketiga, meski mampu bersaing dengan laki-laki di dunia kerja, upah yang diterima oleh perempuan kerap kali tidak setara dengan laki-laki. Di Indonesia meski jumlah perempuan bekerja di ranah publik mengalami peningkatan namun perempuan masih sulit menempati posisi kepemimpinan yakni dengan presentase sangat kecil hanya mencapai 0,7 persen.

  

Bahkan ketika perempuan memutuskan untuk bekerja di wilayah domestik, seringkali tidak dilihat dan tidak di anggap keberadaannya. Sherry B. Ortner dalam \"Is Female to Male as Nature is to Culture?\" menjelaskan posisi perempuan dalam wilayah domestik dianggap lebih rendah dari laki-laki yang bekerja diluar rumah untuk mencari nafkah disebabkan masyarakat lebih sering menilai hal-hal yang tampak di depan mata. Maksudnya, laki-laki dianggap memiliki interaksi yang lebih besar dibanding dengan perempuan yang bekerja di dalam rumah.

  

Bagaimana ini bisa terjadi?

  

Dalam jurnal “Analisis Gender dan Transformasi Sosial” milik Mansour Fikih, budaya di masyarakat ini telah melalui proses yang panjang dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat bahkan dikonstruksi secara sosial dan kultural melalui ajaran keagamaan maupun negara. Hal ini terkadang menjadikan perempuan dianggap sebagai seseorang yang lemah dibanding dengan laki-laki yang berujung pada ketidak adilan gender dalam berbagai bentuk yakni marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi, subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik, pembentukan stereotype atau melalui pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja yang lebih panjang dan lebih banyak, serta sosialisasi serta ideologi peran gender. 

  

Perempuan adalah Manusia Bisa Benar dan Salah

  

Hakikatnya, perempuan merupakan manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Perempuan bisa berbuat salah dan benar sepertinya halnya dengan laki-laki. Sehingga tidak perlu lagi memahami bahwa perempuan selalu benar atau selalu salah, namun kita harus memperjuangkan kesetaraan dalam segala hal. Kita harus memperlakukan setiap orang secara adil dan menolak stereotip yang sudah terlalu lama mengakar dalam pikiran kita.