(Sumber : Voa Indonesia)

Kebangkitan Narasi Lama Melawan Terorisme di Dunia Islam

Riset Agama

Artikel berjudul “The Revival of an Old Narrative to Counter Terrorism: The ‘Balkh School Approach’ to Neutralizing the Neo-Kharijite Narrative in the Islamic World” merupakan karya Mirwais Balkhi dari Universitas Georgetown, Qatar. Tulisan ini terbit di Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam: Teosofi tahun 2022. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan mengapa meskipun telah banyak upaya baik kolektif maupun individu, negata tetap gagal memberantas terorisme. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, narasi muslim Neo-Kharijite. Ketiga, penekanan narasi Neo-Kharijite. Keempat, kebangkitan narasi lama. 

  

Pendahuluan

  

Ekstremisme agama dan terorisme adalah fenomena yang dianggap paling menakutkan di abad ini. Mereka mencoba mempengaruhi dunia melalui kekerasan, kebencian, pembunuhan dan penghancuran adalah manifestasi dari peradaban mereka. Korban fenomena ekstremisme agama bukan hanya manusia, maupun bangunan, melainkan peradaban. Afghanistan, Irak, Suriah, Libya menjadi beberapa negara yang paling rentan dengan fenomena ekstremisme. Selain itu, banyak anak muda di dunia Arab, Asia Tengah, Asia Selatan, Afrika dan Asia Timur yang berpotensi menjadi korban ekstremisme agama. Hal ini disebabkan karena frustrasi akan faktor ekonomi dan sosial yang mereka alami. 

  

Narasi Islam yang berlaku dan propagandanya telah mendorong kelompok ekstremis guna melanjutkan aksinya. Liputan media mengenai pengaruh jaringan teroris membuat mereka menyimpulkan bahwa aksinya berhasil. Alhasil, mereka berkesimpulan untuk merekrut lebih banyak anak muda, mendirikan kam pelatihan semakin banyak, dan semakin militan dalam menjalankan misi. 

  

Upaya memberantas ekstremisme dan terorisme telah dilakukan selama bertahun-tahun. Setiap negara telah berusaha melakukannya dengan berbagai cara, baik dengan cara melakukannya sendiri, maupun bekerja sama dengan negara lain. Sayangnya, sejauh ini upaya tersebut justru menjadi bumerang. 

  

Narasi Muslim Neo-Kharijite

  

Saat ini, kelompok Islamis memiliki sifat Neo-Kharijite. Istilah Neo-Kharijite adalah konsepsi Neo-Khawarih yang secara harfiah berasal dari Bahasa Persia “Naw Khawarij” yang artinya Neo-Seceders. Lebih jelasnya adalah mereka yang percaya pada kelompok mereka dan menentang pemerintah muslim karena gagal menerapkan aturan syariah. Artinya, mereka menentang sekularisme dan demokrasi di dunia Islam karena produk dunia Barat atau non muslim. terlepas dari mazhab fikih, organisasi politik maupun lokasi geografis, semua kelompok Islamis memiliki sifat Neo-Kharijite dengan ideologi Tafkhiri. 

  

Berdasarkan sejarah, selama zaman penjajahan terjadi, umat Islam aktif dengan menjadi bagian dari gerakan pembebasan dan kemerdekaan. Para pemimpin besar muslim seperti Jamaluddin Afghani, Seyyed Ahmad Khan, Mohammad Abdu, Rashid Reza dan Medhat Pasha berjuang menjadikan negara-negara Timur sebebas Barat. Tepatnya mencontoh dalam hal keamanan, kemajuan, perkembangan, budaya, pendudukan, terutama hak asasi manusia. Kemudian, Perang Dingin mulai merusak tradisi orientalisme Islam yang dominan. Istilahnya, ada dua narasi yang dibentuk dalam Islam, salah satunya adalah narasi Islam sufi dan mistis yang tidak bercampur dengan kekuatan politik. Mereka menganggap urusan agama sebagai sesuatu yang internal dan berusaha mengamalkan sekaligus menyebarkannya. Narasi lainnya adalah pembebasan tanah Islam dan kekalahan ideologi non-Islam. Umat muslim di Amerika mendukung narasi Islam sufi dan Mistik di Asia Tengah, Eropa Timur dan negara-negara Islam lain karena mereka setuju dengan ideologi sosialis. 


Baca Juga : Meneliti Komunitas Yuk Ngaji, Angga Meraih Gelar Master

  

Ketika Perang Dingin berakhir, Komunisme jatuh dan Islam yang dipolitisasi menang. Negara-negara Islam menggunakan Islam yang dipolitisasi dengan militer membentuk unit-unit paramiliter dan berperang satu sama lain dengan perebutan dominasi, perang Sunni-Syiah dan perjuangan melawan Israel. Sementara itu, sejumlah negara keluar dari Blok Timur dan terus berusaha menunjukkan citra nasionalis dan liberalnya, sekaligus memperkuat narasi memolitisasi Islam. Saddam Husein dan Muammar Gaddafi adalah contoh paling menonjol. Akibatnya, organisasi muslim yang terpolitisasi dikategorikan menjadi tiga kategori yakni 1) Islamis politik, 2) aset Islamis yang didukung oleh kekuatan regional, 3) Islamis militan. Setiap kelompok aktif di bidang yang berbeda mewakili narasi ekstremis Islam. 

  

Penekanan Narasi Neo-Kharijite

  

Terlepas dari keragaman dalam tujuan dan asal-usulnya, narasi Neo-Kharijite atau Kelompok Takfiri memiliki empat karakteristik yang sama. Pertama, terlalu menekankan takfir atau ekskomunikasi. Mereka memiliki mentalitas kemurnian diri dan mendefinisikan orang lain jahat, atau lebih tepatnya seakan memahami hitam dan putih orang lain. Melalui dasar ideologis ini, mereka akan mengucilkan lawannya baik muslim maupun non-muslim sebagai dalih mencapai tujuan dan sasaran politik. Sejatinya, poros “takfir” itu tidak berpijak pada konsep maupun logika apa pun. Alhasil, teks agama menjadi ‘kering’, tidak memiliki perspektif dan tujuan keagamaan. 

  

Kedua, tidak memberikan kesempatan kepada orang lain. Penyangkalan terhadap cara berpikir lain merupakan ciri kedua Kelompok Takfiri. Bagi kelompok ini, seseorang tidak boleh hanya diam saja di hadapan pandangan orang lain, sebab hal ini menyebabkan keraguan pada keyakinannya terhadap diri sendiri. Hal ini berakibat pada kegagalan dialog dan interaksi ketika bertemu dengan orang lain. Cara tersebut dianggap efektif untuk menutup akses mempengaruhi Kelompok Takfiri, sehingga mereka akan tetap berpegang teguh pada keyakinannya. 

  

Ketiga, pembunuhan atau pembantaian non-konvensional. Pembunuhan masal semakin meningkat dan banyak dilakukan oleh Kelompok Takfiri. Mereka beranggapan ketika Islam berada di bawah ancaman dan diserang oleh kekuatan non-muslim, maka diperbolehkan untuk membunuh baik muslim maupun non-muslim yang hidup dalam bayang-bayang pemerintahan non-muslim, atau pemerintah sekutu non-muslim. Atas dasar ini, mereka melakukan serangan bunuh diri di masjid, pasar, rumah sakit maupun suatu pertemuan yang dianggap mengancam agama Islam. 

  

Keempat, menodai Islam. Hal ini disebabkan Kelompok Takfiri dianggap mencemarkan citra Islam. Faktanya, aktivitas kekerasan ini menodai wajah keimanan. Kelompok Takfiri telah menawarkan umpan propaganda terbesar pada media global ketika para musuh Islam juga berusaha memperluas cakupan perang propaganda melawan Islam. Banyak muslim sekular dan non-muslim meyakini bahwa Islam jauh dari kedamaian dan menjadi ancaman bagi umat manusia. 

  

Kebangkitan Narasi Lama

  

Cara paling efektif untuk melawan terorisme adalah mengadopsi pendekatan ‘introvert’ yang berakar pada teks Islam dan memiliki legitimasi. Pendekatan ini terdiri dari dua jenis, pertama adalah menciptakan narasi baru yang tetap memperhatikan kebutuhan zaman, kedua adalah menghidupkan kembali narasi masa lalu dengan teknologi. Metode pertama telah digunakan dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi dan sosial. Penciptaan kontra-narasi telah menjadi literatur dunia. Melalui penciptaan narasi baru, pemerintah serta organisasi nasional aupun internasional telah mencari rencana baru dan mengubah tujuan yang mereka inginkan. 

  

Memang, butuh waktu dan fasilitas untuk membuat narasi baru ekstremisme, namun akhirnya tidak ada jaminan akan berhasil. Maka, cara terbaik adalah menghidupkan kembali narasi Islam moderat yang ada dan terpinggirkan akibat benturan narasi. Istilah “kebangkitan” berkonotasi pembangkangan terhadap dominasi sesuatu yang ‘mapan.’ Kebangkitan kembali narasi melampaui gagasan bahwa individu dalam posisi kekuasaan relatif dapat dengan mudah menceritakan kembali pengalaman mereka. Definisi kebangkitan narasi yang efektif adalah narasi Islam yang mendominasi pada abad 8 dan 9 Masehi di poros Balkh, namun terpinggirkan dair waktu ke waktu. 

  

Penting untuk menghidupkan kembali narasi sedemikian rupa, sehingga periode gemilang dalam sejarah umat Islam terulang. Saat ini, dunia Islam terlepas dari desentralisasi Ilmiah dan intelektual. Para cendekiawan dan muslim di dunia Islam dan Barat mendapatkan sumber utama keilmuan mereka berasal dari karya dan buku yang sebagian besar diterbitkan oleh pusat-pusat sejarah Islam. Di antaranya adalah Sekolah Mekkah/Madinah, Sekolah Bagdad/Suriah, Sekolah Mesir, dan Sekolah Balkh adalah pusat pembelajaran yang penting. 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar penelitian tersebut berupaya menunjukkan pada negara, alih-alih memerangi ekstremisme Islam dalam bentuk Gerakan Takfiri yang muncul setiap hari di antara ratusan ribu remaja pengangguran dan miskin maupun pedesaan. Hal ini akan menjadi strategi jangka panjang dan menyebabkan perubahan narasi dalam konteks masyarakat Islam. Memerangi terorisme saat ini menjadi bahaya paling mendesak bagi perdamaian global. Kontraterorisme harus mengikuti urutan logis yang ditentukan oleh nilai alam, ketuhanan, dan kemanusiaan untuk bekerja melawan semua anti-perdamaian. Pada titik ini, kelemahan sistem internasional menjadi jelas. Sistem internasional tidak memiliki strategi yang jelas dan komprehensif untuk melawan ancaman dan ekstremisme. Akibatnya, mekanisme dan tindakan kontraterorisme internasional dianggap tidak sesuai. Mengubah ekstremisme menjadi toleransi dan moderasi dengan berinvestasi dalam menghidupkan kembali narasi timbal balik Islam adalah cara yang baik dan benar. Tidak ada keraguan bahwa pembuatan narasi baru akan dianggap sebagai bid\'ah agama oleh para ekstremis dan ditolak oleh mereka, namun, kebangkitan narasi masa lalu memiliki legitimasi sejarah yang mendalam di kalangan umat Islam.