(Sumber : Dokumentasi Peneliti)

Pesan Damai dalam Khutbah Pedesaan

Opini

Saya tentu berkali-kali mendengarkan khutbah di wilayah pedesaan, dan ada satu hal yang saya kira mendasar bahwa pesan khutbah tersebut tidak terpengaruh oleh hingar bingar politik, sosial, ekonomi dan budaya. Khutbah merupakan panggilan keagamaan yang tentu juga sarat dengan pesan-pesan keagamaan. Bisa saja pesan tentang ketauhidan, ritual, hubungan antar sesama manusia dan bahkan juga pesan-pesan tentang ajaran sufistik. 

  

Pada saat saya akan melakukan ta’ziyah ke Almarhum guru saya, Drs. Imam Sayuti Farid, SH, MSi, saya melakukan shalat Jum’at di sebuah masjid di pinggiran kota  Tulungagung. Saya ada acara di Kediri, rapat Senat UINSA di Hotel Surya, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Ponorogo. Saya salah menafsirkan perjalanan dimaksud. Di dalam pikiran saya jarak antara Tulungagung dengan Ponorogo itu dekat saja. Ternyata selama ini jika saya ke Ponorogo itu melewati Madiun, sehingga memang jaraknya cukup dekat. Ternyata perjalanan ke Ponorogo via Tulungagung tersebut jauh dan melewati gunung-gunung di wilayah Trenggalek. Asyik juga melihat perbukitan atau pegunungan yang berlapis-lapis.

  

Saya berhenti untuk menunuaikan Shalat Jum’at di Masjid Sunan Ampel di Dusun Tiudan, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung. Ketepatan juga nama masjid itu sama dengan almamater saya dan tempat saya mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik dan juga nama waliyullah Kanjeng Eyang Sunan Ampel yang makamnya tidak pernah sepi dari kunjungan wisata ziarah ke makamnya. Masjid yang konstruksinya sederhana, eksterior dan interiornya juga sederhana, sebagai ciri khas masjid pedesaan. Ada juga masjid pedesaan, terutama di Madura dan sepanjang jalan Surabaya Banyuwangi yang masjidnya sudah sangat modern. Masjid di sini sungguh berbeda. 

  

Khotibnya juga kiai khas pedesaan atau kyai kampung. Di dalam berkhutbah menggunakan Bahasa Jawa halus, seperti mendengarkan cerita pewayangan. Tentu saja dimaklumi, sebagai wilayah Mataraman tentu bahasanya masih dekat dengan bahasa dan budaya negarigung, Kartosuro atau Ngayogyakarto. Sebagai orang Jawa, meskipun dari wilayah pesisiran, namun saya memahami dengan jelas tentang diksi-diksi di dalam khutbah dimaksud. saya Bersama Prof. Abdul Halim, dan Razikin mengikuti shalat Jum’at di masjid ini.

  

Saya ingin menceritakan tentang khutbah yang disampaikan oleh kyai kampung ini. Khutbah yang murni membicarakan tentang ibadah dan tidak dibumbui dengan hal-hal yang kompleks, seperti urusan politik dan sosial. Semata-mata menyampaikan pesan taqwa kepada Allah SWT. Tidak ada keinginan untuk menyatakan tentang kerumitan di dalam beragama. Tidak terdapat pesan keagamaan yang menyudutkan orang lain, apalagi menyakiti orang lain. Murni pesan keagamaan.

  

Di antara yang ingin saya ulas adalah mengenai pesan agar umat Islam istiqamah di dalam menjalankan ajaran agama. Agar umat Islam berusaha sekuat tenaga untuk melakukan ibadah. Shalatnya harus istiqamah. Puasa juga harus istiqamah. Dan bagi yang berzakat juga agar istiqamah. Di dalam kehidupan ini harus ada yang diistiqamahi atau dilestarikan atau dilakukan secara terus menerus. Tidak perlu banyak, sedikit juga boleh tetapi istiqamah. Allah dan Rasulnya menyukai atas amalan yang istiqamah meskipun itu amalan yang sedikit.

  

Di antara yang dibaca adalah shalawat. Agar umat Islam beristiqamah di dalam membaca shalawat, karena dengan shalawat tersebut akan dapat menjadi syafaat nanti di hari kiamat. Siapa yang membaca shalawat secara rutin maka akan mendapatkan pertolongan dari Rasulullah. Tidak harus membaca banyak tetapi tidak rutin. Sedikit tetapi rutin itu jauh lebih baik dibanding dengan banyak tetapi jarang-jarang dilakukan. Bisa juga membaca istighfar, astaghfirullahal adzim. Ini adalah ucapan untuk memohon ampunan kepada Allah. Jadikan istighfar sebagai kebiasaan kita semua. Rutinkan membaca istighfar kepada Allah, karena dengan membaca istighfar secara rutin insyaallah kita akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.

  

Banyak wirid yang bisa dibaca, misalnya Allahu Akbar, Subhanallahal adzim, alhamdulillah dan banyak lagi lainnya. Tetapi yang paling penting bahwa wirid-wirid tersebut agar dibaca secara rutin atau istiqamah. Jika kita diajari guru atau kyai untuk membaca wirid tertentu agar dibaca secara rutin. Jika tidak bisa pagi, siang, jika tidak bisa siang sore, jika tidak bisa sore bisa dibaca malam hari. Yang penting dibaca secara rutin. Jika tidak bisa membaca pada waktunya agar diqadla atau dibayar di lain waktu. 

  

Allah akan membalas orang yang istiqamah di dalam membaca wirid kepada Allah SWT, sebagaimana yang digambarkan di dalam Surat Yasin, ayat 25-27 yang menggambarkan kita adalah orang yang mendapat petunjuknya dan akan diganjar dengan surganya. Di dalam ayat 25 dinyatakan yang artinya: “sesungghnya kami telah beriman kepadamu, maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku”, lalu pada ayat 26 dinyataakan: “dikatakan (kepadanya) masuklah ke Surga. Dia (laki-laki) itu berkata alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui.” Dan pada ayat 27 dijelaskan: “apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakannya.” 

  

Ayat ini mengajarkan agar umat Islam mempercayai Allah dan Rasulnya dan juga mengamalkan ajaran-ajarannya sehingga umat Islam akan dimasukkan di dalam surga dan juga dimuliakan oleh Allah SWT. Marilah kita jaga amal ibadah kita secara konsisten atau istiqamah, semoga kita mendapatkan kemuliaan kelak di hari akhir.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.