Masjid Jadi Alat Diplomasi Publik Cina ke Indonesia, Kok Bisa?
HorizonOleh : Eva Putriya Hasanah
Kepikiran skripsi yang dulu pernah saya tulis zaman kuliah. Kira-kira satu tahun saya mengerjakannya. Lumayan lama karena dulu rasanya ingin sekali lima tahun kemudian, saya tidak malu saat membaca tulisan sendiri.
Dengan waktu yang cukup panjang, saya mencoba memperpadukan data-data yang saya peroleh dari tiga cara sekaligus. Dokumentasi, wawancara dan observasi. Ada sekitar enam orang yang menjadi tujuan saya wawancara saat itu. Ah, rasanya sayang jika saya tidak membagi hasilnya dengan banyak orang. Jadi saya putuskan untuk menuliskannya di artikel ini.
Skripsi saya membahas soal hubungan Indonesia-Cina. Tapi saya fokus pada peran aktor non-pemerintah nya (non-state actor).
Salah satu temuan dalam skripsi saya adalah bahwa masjid Cheng Ho punya kontribusi dalam diplomasi publik Cina di Indonesia. Masjid ini merupakan masjid dengan nuansa arsitektur Cina. Pertama kali masjid ini berdiri di Surabaya pada tahun 2013 hingga akhirnya menginspirasi berdirinya masjid Cheng Ho lain di beberapa wilayah Indonesia.
Dampak Adanya Masjid Cheng Ho
\"Kok Cina ke masjid?\" dengan tatapan heran dan tidak biasa. Begitulah kira-kira respon yang dulu didapatkan oleh Tionghoa muslim saat datang ke masjid kata Ustadz Hariyono Ong, seorang takmir di Masjid Cheng Ho Surabaya. Dalam artikel milik (Irma, 2017) juga menceritakan bagaimana keberadaan Tionghoa muslim tidak pernah dianggap. Mereka sulit untuk mendapatkan akses baik ke warga Tionghoa sendiri maupun organisasi Islam di Indonesia. Ya bisa dikatakan Tionghoa muslim ini adalah minoritas di dalam minoritas.
Ini tak mengherankan sih. Sejak dulu kita selalu memandang orang Cina adalah non-muslim, Komunis, Budha, Khonghucu, Kristen dan seterusnya. Jadi ketika melihat orang Cina ke masjid kita jadi heran.
Baca Juga : ESENSI IDUL FITRI; Antara Bertahan Dan Berkembang
Hebatnya, kata pak Bambang Sujanto, pendiri dari masjid Cheng Ho Surabaya, pasca berdirinya masjid ini, Tionghoa muslim mulai di akui keberadaannya. Terbukti dengan keberadaan masjid Cheng Ho yang semakin dikenal bahkan menjadi ikon wisata di kota Pahlawan. Pengunjung yang datang pun dari berbagai latar belakang baik lokal maupun manca negara.
Kalau mau bukti lain, ada kok. Misalnya tahun 2018, waktu lagi panas-panasnya isu muslim Uighur di Indonesia. Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sempat menjadi mediator antara konjen Cina di Surabaya dan PCNU Jawa Timur untuk membahas tentang apa yang sebenarnya terjadi pada muslim Uighur di Cina.
Lalu bagaimana sih masjid ini bisa punya peran bagi diplomasi publik Cina di Indonesia? Diplomasi publik sendiri adalah upaya sebuah negara untuk membentuk citra positif di masyarakat negara lain demi mencapai kepentingan mereka. Nah, masjid Cheng Ho ini memiliki pengaruh terhadap citra mereka. Kok bisa?
1. Memperkenalkan Muslim Cina
Pada tahu nggak kalau nama Cheng Ho diambilnya dari nama Zheng He? seorang laksamana asal Cina yang di percaya memiliki peran dalam penyebaran Islam di Indonesia. Pada relief di sisi kanan masjid, Laksamana Cheng Ho digambarkan sebagai orang yang sedang berlayar di atas kapal dengan armadanya di Samudera Hindia. Selain itu, dari segi arsitektur, masjid ini bernuansa perpaduan Islam dan Cina. Dominasi warna kuning, hijau, dan merah serta gaya bangunan dengan model pagoda sebagai simbol untuk menunjukkan identitas nenek moyang bangsa Tionghoa. Pada bagian atas bangunan utama yang memiliki bentuk angka 8 (Pat Kwa) yang berarti kemenangan dan keberuntungan dalam bahasa Tionghoa. Bangunan utama masjid ini berukuran 11x9 meter. Angka 11meter melambangkan ukuran Ka\'bah yang pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan sedangkan ukuran 9 meter merupakan simbol keberadaan Wali Songo yang telah berdakwah menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
Ada juga program pertukaran ulama yang bekerja sama dengan berbagai lembaga dan organisasi masa di Indonesia, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), NU, dan Muhammadiyah untuk bersama-sama berkunjung ke Tiongkok guna mempelajari tentang budaya Muslim disana.
Gaya arsitektur dan pertukaran ulama ini menunjukkan kepada khalayak masyarakat tentang adanya Tionghoa Muslim di Indonesia. Dengan kata lain, Masjid Cheng Ho merupakan simbol eksistensi dari umat Islam Tionghoa.
Baca Juga : Pentingnya Respons Aktif Audiens Bagi Pendakwah
2. Memperkenalkan Budaya Cina
Budaya Tionghoa tidak hanya tercermin dari sisi arsitekturnya saja. Di masjid ini selain untuk kegiatan ibadah, ada pula kegiatan-kegiatan yang mengandung unsur memperkenalkan budaya Cina. Ada kursus bahasa mandirin, fasilitas pengobatan akupuntur khas Cina dan sebagianya.
Ada juga loh kegiatan yang bersifat akulturasi. Perpaduan ini dilakukan salah satunya ketika menyampaikan dakwah agama dalam beberapa kesempatan. Misal dalam salam mereka menggunakan salam dalam 3 bahasa : Arab, Indonesia dan Cina. Bahkan masjid ini juga memiliki Al-Qur\'an dengan terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin.
Pada perayaan Imlek, muslim Cina di Masjid ini mengganti ampau dengan santunan anak yatim. Sebuah perpaduan yang pas bukan untuk bisa di terima oleh kalangan luas?
3. Menjalin Hubungan Masyarakat dengan Kegiatan Sosial
Ada kegiatan sosial yang juga diadakan di masjid Cheng Ho. Mulai dari santunan anak yatim, pelatihan untuk disabilitas, pengobatan gratis, donor darah dan lain sebagainya yang di buka secara umum. Pun dalam pelaksanaannya, masjid ini melibatkan banyak pihak baik muslim maupun non-muslim.
Dengan 3 poin diatas, masjid Cheng Ho memiliki posisi strategis untuk membangun citra Cina di tengah masyarakat Indonesia. Yang awalnya cuma ngerti Cina komunis, sekarang jadi tahu bahwa Cina ada yang Islam. Yang awalnya tahunya Cina pelit, jadi tahu kalau Cina juga suka kegiatan sosial.
Inilah yang kemudian dinamakan dengan peran masjid Cheng Ho dalam diplomasi Cina di Indonesia. Meskipun secara politik tidak ada keterkaitan antara masjid Cheng Ho dan pemerintah Cina. Namun masjid ini secara tidak langsung telah memberikan dampak positif bagi diplomasi publik ini.
Terlepas dari itu, keberadaan masjid Cheng Ho telah berdampak baik bagi kesatuan, kerukunan dan kedamaian. Masjid ini adalah lambang atas keragaman, kebebasan beragama, toleransi yang ada di Indonesia. Sekaligus memberikan banyak manfaat sosial dan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat yang ada di sekitarnya.

