Generasi Muda, Sepak Bola dan Agama
OpiniBagi orang Eropa, sepak bola adalah agama. Bagi mereka sepak bola merupakan bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan. Sepak bola adalah keyakinan. Mereka beranggapan bahwa melalui sepak bola, maka kehidupan dapat dirajut untuk lebih indah. Makanya, mereka mestilah mengumpulkan uang dalam setahun untuk membeli tiket bagi klub kesayangannya. Dunia bola bukan hanya sebuah entertainment tetapi gaya hidup dan keyakinan yang bersatu secara sistemik.
Makanya di dalam sepak bola, akan terdapat fans club yang begitu heroik untuk mendukung tim kesayangannya. Kalah atau menang, fans club akan memberikan support yang luar biasa. Fans club bukan sekadar penonton tetapi ideolog di dalam sepak bola. Kehadirannya merupakan bagian dari perjalanan sebuah club sepak bola. Di Inggris dikenal ada yang disebut hooligans atau para pecinta sepak bola yang memiliki tingkat mencintai club di atas segalanya. Mencintai club sepak bola melebihi cinta atas keluarga, anak dan istri, bahkan melampuai kecintaannya terhadap Nabi dan Tuhannya.
Kaum hooligans ini sering membuat repot tim keamanan di dalam pertandingan sepak bola karena sering membuat kerusuhan. Mereka datang ke dalam stadion sepak bola dengan membawa minuman beralkohol atau sebelum datang ke stadion sepak bola mereka telah mabuk karena minuman beralkohol, sehingga kala di dalam stadion lalu membuat kerusuhan. Hanya Uni Emirat Arab (UEA) yang berhasil secara gemilang untuk memberantas hooliganisme dalam sepak bola ketika terjadi perhelatan Piala Dunia 2023 yang lalu. Negara lain sebagai host Piala Dunia banyak yang belum bisa melakukannya.
Baru-baru ini diselenggarakan Piala Eropa dan Juga Piala Amerika. Negara-negara di Benua Eropa dan negara-negara di Benua Amerika secara serentak menyelenggarakan pertandingan Piala Eropa dan Piala Amerika. Untuk Piala Amerika tidak ada kejutan yang luar biasa sebab yang memenangkan pertandingan adalah Argentina, sebuah negara dengan torehan prestasi Piala Amerika yang mengagumkan. Tetapi tidak ada kejutan apa pun. Hanya Raksasa Sepak bola Brazil yang keok dari Uruguay saja yang rasanya masih mengganjal. Orang mungkin banyak berpikir karena ketiadaan Neymar Jr, sehingga sepak bola Brazil terasa kurang greget. Kalah menyakitkan karena adu tendangan penalty. Sepertinya Brazil tidak siap untuk memenangkan pertandingan tersebut. Piala Amerika menahbiskan Messi sebagai pemain paling hebat sepanjang sejarah sepak bola, 46 kali memenang tropi kejuaraan sepak bola. Jika Messi menangis, tentu karena capaian yang hebat tersebut.
Rasanya berbeda dengan Piala Eropa. Memang juga ada kejutan, misalnya Tim Sepak Bola Jerman yang menjadi tuan rumah dan harus angkat koper di delapan besar. Belanda yang hanya bisa masuk dalam semi final. Belanda harus mengakui keunggulan Inggris, yang dalam dua kali Piala Eropa masuk final. Gagal dan gagal di final. Protugal yang didukung oleh Ronaldo, pemain paling hebat sejagat, yang gagal melawan tim muda usia Spanyol. Tentu Ronaldo berharap besar untuk mengakhiri karier internasionalnya di Portugal dengan juara, tetapi harus mengakui tim muda Spanyol. Sama halnya dengan Perancis, yang Griezman, berharap menjadi tim champion di Piala Eropa sama seperti kala mengalahkan Kroasia di final. Sayang Perancis tidak memainkan Karim Benzema, yang tidak sesuai dengan desain pelatih Perancis, Didier Deschamps.
Piala Eropa menghasilkan nuansa baru, yaitu keberhasilan pemain usia muda. Mereka menjadi mascot baru dalam dunia sepak bola. Pemain muda yang hebat tersebut adalah Lamine Yamal, pemuda usia 17 tahun, yang mencatatkan namany di papan score dalam pertandingan semi final melawan Portugal. Tendangan jarak jauhnya merobek gawang Portugal. Di Euro 2024 Yamal menjadi pemain termuda dengan prestasi gemilang, mencatak satu gol dan empat asis. Luar biasa. Yamal pertama kali menjadi pemain tim Spanyol dalam Euro 2024 pada penyisihan grup B, yang kala itu usianya masih 16 tahun. Pada laga pertamanya tersebut Yamal berumus 16 tahun 338 hari. Dia menjadi pemain termuda sepanjang sejarah piala Eropa dan bahkan piala dunia.
Yamal Bernama lengkap Lamine Yamal Nasroul Ebana, lahir di Barcelona pada 13 Juli 2007. Dia telah berhasil menorehkan berbagai prestai, di antaranya adalah sebagai pemain termuda Euro 2024, pemain termuda yang mencetak gol pada ajang Euro, pemain termuda yang main dalam babak gugur dan pemain muda yang tampil di babak final. Dia mengalahkan Pele sebagai pemain termuda dalam dunia sepak bola. Dia memecahkan rekor Pele yang terjadi pada tahun 1958, dengan usia 17 tahun 249 hari.
Yamal merupakan sosok pemuda yang lahir dari generasi perantau. Ayahnya Bernama Mounir Nasraoui dari Maroko, dan Ibunya dari Sheila Ebana dari Guinea Khatulistiwa. Orang tuanya bermigrasi ke Spanyol, tepatnya ke Barcelona, untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Tentu tidak mudah jalan menuju ke Spanyol, karena harus melewati gurun dan perjalanan yang melelahkan. Tetapi semuanya terbayar tunai kala Yamal bisa menjadi pemain muda dengan segepok gelar yang menakjubkan. Di usianya yang masih sangat mudah, Yamal telah menjadi ikon baru dalam sepak bola sebagai agama.
Yamal dibesarkan dalam tradisi multikultural. Ayahya dan ibunya berbeda kebudayaan, sehingga Yamal mengenal bagaimana kehidupan multikultural yang dialaminya. Pendidikan di dalam keluarganya yang seperti itu mengantarkan Yamal untuk menjadi sosok yang menghargai perbedaan.
Keberhasilan orang tuanya dalam mendidik Yamal telah menghasilkan sosok anak muda yang sedemikian toleran. Meski agamanya Islam, akan tetapi tidak menjadikan agama sebagai rintangan untuk membangun persahabatan. Dibuktikan bagaimana dia bisa menjadi bagian dari pemain Spanyol yang secara religious tentu berbeda dengannya.
Dunia sepak bola telah diisi dengan anak-anak muda dengan talenta besar dan kemampuan psikologis yang hebat dan pemahaman tentang agama yang moderat. Kita berharap bahwa Yamal akan terus menjadi idola generasi muda, sebagaimana Mohammad Salah yang juga menjadi idola di kalangan pecinta bola dengan tanpa memandang apa keyakinannya dalam beragama. Religiositas yang terbuka akhirnya menjadi basis bagi penciptaan kehidupan yang harmonis dalam relasi social.
Wallahu a’lam bi al shawab.

