Gernerasi Milenial dan Fleksibilitas Kerja
OpiniGenerasi milenial merupakan generasi yang lahir pada tahun 2000-hingga sekarang. Jika merujuk pada kategorisasi yang diberikan oleh para ahli, maka pembagian generasi berdasarkan tahun dan labellingnya, maka diketahui bahwa yang lahir sebelum tahun 1960 disebut sebagai generasi baby boomers, yang lahir antara tahun 1960-1980 disebut sebagai generasi X, yang lahir antara tahun 1980-2000 disebut sebagai generasi Y, dan yang lahir tahun 2000-sekarang disebut sebagai generasi Z atau generasi milenial. Usianya kira-kira berada di bawah 37 tahun. Saya seringkali mempelesetkan yang lahir di bawah 1960 itu sebagai generasi kolonial.
Ada beberapa hal yang menarik dari generasi milenial bahwa mereka ini hidup di era teknologi informasi (TI) berbarengan dengan menyeruaknya Era Revolusi Industri 4.0, yang ditandai dengan penggunaan high information technology yang menjadi andalan di dalam semua aspek kehidupan. Tidak bisa dibayangkan 10-15 tahun yang lalu betapa dahsyatnya aplikasi untuk kepentingan kehidupan masyarakat. Penggunaan electronics system sebagai piranti kehidupan sungguh sangat luar biasa. Orang tidak perlu mengantongi uang sebab dengan e-money, e-wallet, dan e-payment semua bisa dibayarkan. Jika di masa lalu orang masih mengandalkan ATM untuk transaksi, maka sekarang uang kita ada di hand phone. Di masa lalu tidak dibayangkan program pembelajaran dengan aplikasi elektronik, tetapi sekarang betapa dahsyatnya e-learning, misalnya aplikasi Ruang Guru, yang bisa menggantikan peran lembaga-lembaga kursus yang menyajikan tambahan belajar di luar jam belajar di sekolah. Bahkan di dalam program pembelajaran di masa lalu hanya dikenal distance learning yang eksklusif, tetapi sekarang telah menjadi masif.
Saya tertarik dengan tulisan, Prof. Eko Prasojo, “Membangun Birokrasi yang Lincah”. Saya tidak akan mengomentari tentang ulasan mengenai birokrasinya, akan tetapi terdapat data yang menarik dari tulisan tersebut, yaitu: fleksibilitas global sebagaimana survey yang dilakukan oleh Robert Walter 2019, terkait dengan perubahan global dan fundamental tentang profil tenaga kerja. Dinyatakannya: “81 persen para professional menyukai untuk memulai dan mengakhiri pekerjaan secara fleksibel, 52 persen pekerja setuju bahwa fleksibilitas bekerja akan meningkatkan komitmen dalam pekerjaan, 40 persen pencari pekerjaan akan menolak jika pekerjaan tersebut tidak memenuhi kebutuhan mereka bekerja secara fleksibel. (Kompas, 19/01/2021).
Data ini tentu sangat menarik untuk dibahas terkait dengan generasi milenial yang memang memiliki kecenderungan untuk bekerja secara fleksibel. Para generasi milenial memiliki ciri: bekerja dalam waktu yang fleksibel, memiliki komitmen tinggi dalam bekerja selama diberi peluang untuk melakukan inovasi dan menyukai tantangan dan perubahan. (Nur Syam, Friendly Leadership, 2018). Generasi milenial sebagai generasi eksplorer, maka mereka berkecenderungan untuk terus melakukan eksplorasi yang berujung pada keinginan untuk melakukan inovasi. Sebagai akibat dari penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi yang cukup, maka generasi milenial berkecenderungan untuk melakukan eksplorasi dalam pekerjaan. Oleh karena itu mereka juga berkecenderungan untuk tidak tetap di dalam pekerjaannya. Mereka tidak menyukai pekerjaan yang stable dan tidak menantang. Maka pemberian waktu dan jenis pekerjaan yang fleksibel tentu menjadi tantangannya.
Data di atas memberikan gambaran bahwa para milenial akan bekerja dengan fleksibilitas yang merupakan imajinasinya di dalam bekerja. Misalnya, mereka tidak suka untuk diatur dengan waktu yang ketat. Bekerja sebagai PNS atau ASN dengan waktu yang ketat dianggapnya hanya akan mengekang kreativitasnya. Ketentuan waktu yang mengikat hanya akan memberikan kejenuhan dan kebosanan. Selain itu juga mereka akan berusaha untuk menciptakan tugas pokok dan fungsinya sebagaimana visi dan misi organisasi yang mempekerjakannya. Ketaatan mereka lebih kepada upaya untuk mencapai visi dan misi institusinya lebih dibandingkan dengan kepada pimpinannya. Makanya, mereka akan memberikan apresiasi terhadap pemimpin yang memiliki talenta yang memberikan fleksibilitas dalam bekerja dan bukan yang membatasi dunia pekerjaannya.
Komitmen pada pekerjaan ditandai dengan ketercukupan waktu dalam bekerja sehari dan bukan pada waktu yang tetap dan terstruktur. Fleksibilitas waktu dalam bekerja ditandai dengan produk dan bukan semata prosesnya. Komitmen bekerja lebih ditandai pada apa yang dihasilkannya dan bukan waktu setiap hari yang dihabiskannya. Ketercapaian target itulah yang menjadi ukurannya dan bukan pada lamanya bekerja dalam sehari. Mereka akan meninggalkan pekerjaan jika aspek fleksibilitas tersebut tidak sesuai dengan harapannya.
Ciri lain yang mengedepan adalah kerja kolaboratif. Meskipun generasi milenial itu memiliki banyak talenta, akan tetapi mereka sangat menghargai kerja bareng yang memiliki peluang akan menghasilkan produk yang lebih optimal. Meraka merupakan TEAM (together everyone achieve more). Kerja tim tentu membutuhkan “kebersamaan”. Makanya, mereka akan menghargai atas kerja tim berbasis pada 4’Cs, yaitu: capabilities and problem solving, critical thinking and innovations, communications and collaborations. Untuk bisa bekerja sama, maka persyaratan kemampuan komunikasi berbasis human relations dan kolaborasi berbasis kesetaraan dan kesamaan penghargaan menjadi sangat penting.
Di dalam konteks perubahan zaman dan kecenderungan kaum milenial seperti ini, maka dipastikan akan menarik gerbong lainnya, terutama dunia kepemimpinan dan manajemen. Bagi seorang pemimpin yang masih menerapkan gaya kepemimpinan masa lalu, maka pasti akan ditinggalkan. Demikian pula managerial yang berbasis manajemen lama juga pasti akan ditinggalkan. Dan diperlukan adalah manajemen kinerja plus, yaitu manajemen yang flexible and friendship. Jadi dibutuhkan friendly leadership.
Wallahu a’lam bi al shawab.

