Merantau Bagi Orang Madura
HorizonOleh: Alvin Khoiron
(Mahasiswa Magister KPI UIN Sunan Ampel Surabaya)
Suku Madura merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia. Mereka memiliki banyak seni dan budaya dengan sejarah yang panjang. Orang Madura telah menyebar hidup diberbagai daerah di Indonesia. Bahkan di luar negeri, seperti halnya: Malaysia, Arab Saudi, Korea dan lain sebagainya. Sebagian besar orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timur. Jumlah terbesar adalah Situbondo, Bondowoso, sebelah timur Probolinggo, utara Lumajang dan utara Jember. Sebagian masyarakat tinggal di kawasan Tapal Kuda dari Pasuruan hingga Banyuwangi bagian utara.
Masyarakat madura yang tinggal di madura rata-rata bekerja sebagai petani baik yang hidup didataran rendah maupun didataran tinggi dan bekerja sebagai nelayan bagi yang tinggal di pesisir. Namun selain bekerja sebagai petani atau pun nelayan, orang madura juga sangat banyak yang merantau keluar pulau hingga merantau ke luar negeri. Tujuan pokok dalam hal ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga dan bisa dikatakan untuk mengadu nasib di tempat perantauan.
Banyak masyarakat yang tidak puas dengan hasil atau pekerjaan yang mereka lakukan saat bekerja di daerah madura. Hal ini disebabkan karena penghasilan yang sangat jauh dari kata cukup, sehingga mereka memaksa sebagian besar orang madura untuk lebih berani merantau dan bekerja di luar pulau madura. Semisal ia memilih merantau ke daerah Jakarta yang notabenenya adalah daerah atau kota yang metropolitan. Secara keuangan lebih menjamin untuk bisa mempunyai banyak penghasilan. Entah menjadi seorang pedagang kaki lima, karyawan perusahaan, pabrik atau bahkan membuka usaha sendiri.
Merantaunya orang madura hampir ada di setiap desa atau kampung. Biasanya anak yang sudah lulus Sekolah Dasar (SD), mereka lebih banyak yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP)/ sederajat apalagi hingga Sekolah Menengah Atas (SMA)/ sederajat. Semuanya bisa saja terjadi semisal pemuda pemudi madura banyak yang tidak melajutkan terhadap pendidikan yang lebih tinggi, karena faktor ekonomi atau bisa juga karena budaya dari tempat itu sendiri.
Menjadi seorang yang merantau sudah pasi bakal jauh dari kerabat, keluarga, atau pun tetangga. Dimana para perantau hanya bisa menikmati harta atau kekayaannya saat dia berada di tempat perantauannya. Kalau pun ia bisa pulang atau kembali ke kampung halamannya, ia biasanya sudah balik modal dan bisa juga pada saatnya menjelang Idul Adha saja. Masalahnya saat mereka ada dana, mereka bisa pulang, namun hanya beberapa hari saja.
Rumah atau ekonomi dari seorang perantuan memanglah lebih dominan lebih kaya daripada orang madura yang hanya hidup dan bekerja di kawasan madura itu sendiri. Namun secara kebahagiaan antar bertetangga orang yang merantau belum tentu lebih bahagia dibandingkan orang yang menetap di Madura. Semuanya pasti akan ada positif dan negatifnya. Namanya juga hidup, semua orang berhak memilih dan setiap pilihan akan ada konsekuensinya.
Baca Juga : Kontroversi Musik, Budaya dan Agama
Orang yang merantau biasanya mereka pulang dengan tujuan untuk merenovasi rumahnya masing-masing. Rumahnya dibiayai dan dibuat lebih bagus, namun saat rumahnya sudah lebih baik dan lebih bagus, selesai atau pun tidak, ia harus segera balik ke tempat perantauannya untuk mempertahankan dan meningkatkan ekonominya lagi, agar bisa menjadi lebih baik.
Disetiap daerah yang pernah saya ketahui, pasti akan bertemu dengan orang Madura yang sudah sekian tahun menetap di tempat tersebut. Selain menjadi orang yang merantau dari Pulau Madura ada juga yang sudah menetap menjadi penduduk asli karena sudah menikah dengan orang yang asli dimpat tersebut. Maka dari itu tidak heran jika orang Madura sangat banyak hidup di tempat diberbagai tempat.
Diakui atau tidak, orang madura sangat banyak yang menjadi seorang perantuan, sehingga sebagian besar orang madura beranggapan, seolah-olah kalau tidak merantau sulit untuk sukses. Hal itu tidak meluluh menjadi sesuatu yang benar. Karena menetap dan bekerja di Madura pun juga bisa sukses dan sejahtera, tergantung dari bagaimana seseorang itu bisa merencanakan dan berusaha untuk semua itu.
Selain hal tersebut, masyarakat atau pemuda madura juga banyak yang berprofesi sebagai pelayaran. Mereka lebih memilih untuk bekerja yang jauh dari orang tua dan juga keluarga hanya untuk mengadu nasib agar menjadi lebih baik lagi. Sebelum berangkat untuk berlayar pastinya mereka harus kursus Bahasa Inggris terlebih dahulu dan itu tidak sebentar, memerlukan dua hingga tiga tahun bahkan bisa lebih.
Dalam proses pembelajaran tersebut, pastinya juga memerlukan biaya yang tidak murah. Orang yang sudah menyiapkan diri untuk bekerja sebagai pelayaran ada kemungkin orang tua atau keluarga akan menjual harta bendanya, untuk membiayai anaknya agar bisa memenuhi persyaratan untuk bisa berangkat berlayar ke negara yang sudah ditentukan. Sedangkan biaya dalam pemberangkat tersebut bermacam-macam. Ada yang 45 juta, 50 Juta atau bahkan ada juga yang 60 juta lebih.
Makanya tidak heran, saat orang madura menjual sawah atau kebunnya untuk mengumpulkan modal pendidikan anaknya agar bisa menjadi seorang pelayaran. Walaupun banyak biaya yang sudah dikeluarkan, akan tetapi modal yang dikeluarkan tersebut kemungkinan bisa segera balik modal dan bisa mengubah nasib orang tua dan juga keluarganya.
Saat Idul Fitri orang madura yang merantau tidaklah pulang, karena kebanyakan dari mereka pulang atau kembali ke kampung halaman pada saat Hari Raya Qurban (Idul Adha). Suasana pulau madura akan terasa lebih ramai pada saat hari menjelang Idul Adha, karena orang-orang madura yang menjadi perantau mayoritas pulas ke kampung halamannya masing-masing untuk berjumpa dan bercengkerama dengan keluarganya.
Apa ia semua orang madura yang sukses harus melewati fase-fase merantau terlebih dahulu? Apa mungkin saat ia menjadi orang madura yang tinggal dan bekerja di Madura ia bakal sulit untuk meningkatkan perekonomiannya. Tentu saja hal ini menjadi renungan bagi masyarakat Madura untuk sama-sama berfikir, sampai kapan masyarakat Madura harus merantau ke luar pulau atau bahkan ke luar negeri hanya untuk memperbaiki nasib atau perekonomian keluarganya.
Baca Juga : Perang Online Nitizen Indonesia Lawan Zionisme
Jika semua orang beranggapan bahwa, orang madura harus merantau semua, harus bekerja di tempat perantauan agar bisa menjadi masyarakat yang sejahtera dan perekonomiannya bisa menjadi lebih baik. Maka secara tidak langsung ia akan meninggalkan tanah kelahirannya dan menjadi penduduk atau masyarakat di daerah orang lain. Mari kita berfikir dan juga lebih mempertimbangkan kembali hal ini, agar pulau madura bisa mempunyai masyarakat yang kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam yang ada.
Saya yakin, kalau semisal pemuda pemudi mileneal saat ini terkhusus orang yang benar-benar asli orang madura, mereka bakal menjadi ujung tombak perubahan dan pelopor perkembangan suatu daerah tanpa harus bekerja sebagai perantauan tetap, asalkan mereka bisa menyiapkan dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dan menempati apa yang seharusnya mereka tempatkan.
Wallahu A’lam Bishshowab

