(Sumber : Islampos )

Hanan Attaqi dalam Konteks Islam Moderat

Opini

Ada tiga tulisan saya terkait dengan Hanan Attaqi, seorang da’i gaul yang pernah menghebohkan jagad perdakwahan di Indonesia. Dua tulisan  terkait dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya di Madura, karena dakwahnya dicekal oleh Banser, yang secara sengaja memang berkeinginan untuk membubarkan pengajiannya. Dan tidak hanya di Madura, di Masjid Al Muttaqin, Desa Laden,  Pamekasan,  akan tetapi juga di Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo yang juga gagal. Tulisan saya tentu terkait dengan ide yang pernah diangkat di Youtube oleh Hanan Attaqi tentang khilafah yang   pernah viral. 

  

Tulisan lainnya terkait dengan kegiatan Hanan Attaqi dalam  melakukan dakwah pada Geng Motor dengan judul  “Dramaturgi Dakwah Hanan Attaqi pada Komunitas Geng Motor di Bandung”,  yang dimuat pada Jurnal  Komunikasi Islam 11 (2), 2022,  yang ditulis bersama Dr. Kholil Umam dan Aghfa Nizar, mahasiswa Program PPs UIN Sunan Ampel Surabaya. Tulisan ini menyoroti tentang dakwah Ustadz Hanan Attaqi yang secara khusus melakukan dakwah pada Komunitas Geng Motor di Bandung. Dakwah tersebut  dilakukan dengan cara-cara yang spesifik dan hanya dapat dilakukan oleh ustadz yang secara khusus memahami tentang bagaimana dakwah untuk Komunitas khusus tersebut.

  

Kali ini saya menulis tentang Hanan Attaqi dalam konteks perubahan pemikiran, dan perilaku keberagamannya, yaitu dengan memasuki suatu organisasi yang selama ini paling banyak menentangnya, yaitu NU. Sebagaimana yang dapat dibaca di media sosial, akhirnya Hanan Attaqi berbaiat menjadi warga besar NU. Kesadaran ini muncul pada waktu Hanan Attaqi dan istrinya melakukan umrah. Hanan Attaqi menyatakan kepada istrinya bahwa dia ingin memiliki guru khusus di dalam beragama. Oleh istrinya, disarankan agar berguru kepada KH. Marzuki Mustamar dari Malang. Ternyata  KH. Marzuki Mustamar adalah guru istrinya. Yang menarik Hanan Attaqi mengikuti saran istrinya. Dia pergi ke Malang dan menemui KH. Marzuki Mustamar.  Hanan Attaqi lalu menjadi keluarga besar NU melalui proses baiat (11/05/23). Dengan demikian, Hanan Attaqi sudah menjadi warga NU yang absah.

  

Tentu ada yang menarik dari perubahan paham, sikap dan tindakan Hanan Attaqi dalam kehidupan beragama terutama dalam kegiatan dakwahnya. Saya ingin memberikan pemahaman berbasis pada konsep fenomenologi sebagaimana diancangkan oleh Alfred Schultz, tentang because motives atau motif penyebab. Proposisi di dalam konsep ini adalah tindakan manusia ditentukan oleh factor luar. Artinya bahwa ada factor-faktor yang menyebabkan perubahan pemahaman, sikap dan tindakan orang di dalam kehidupannya. 

  

Jika saya lacak secara sederhana, maka ada beberapa factor yang menyebabkan terjadinya perubahan pemahaman, sikap dan tindakan Hanan Attaqi. Pertama, realitas tantangan dakwah yang dihadapinya. Sebagai seorang da’i,  maka halangan melakukan dakwah adalah tantangan yang sangat luar biasa. Sementara itu, niat untuk melakukan dakwah sudah merupakan panggilan jiwanya. Kala menjadi da’i adalah panggilan jiwa, sementara itu halangan dakwah begitu berat dan massive, maka tidak ada lain kecuali melakukan perubahan pemikiran, sikap dan tindakan untuk menyelamatkan dakwahnya. Maka pilihan itu adalah dengan mengubah diri untuk menjadi bagian dari para penentangnya. Di situlah Hanan Attaqi akhirnya memilih NU. 

  

Kedua,  peran istrinya tentu sangat dominan. Istrinya, Haneen Akira, adalah seorang Ustadzah, cucu putri KH. Chusen, seorang ulama NU di Tuban. Lulusan Al Azhar Mesir. Haneen Akira  besar di Malang.  Hanan Attaqi dan Haneen Akira menikah di Mesir waktu belajar di Al Azhar. Melalui pandangan istrinya yang pernah menjadi santrinya KH. Marzuki Mustamar, maka saran istrinya itu menjadi penting. Tentu ada dialog yang sangat mendalam untuk memilih NU sebagai pelabuhan akhir dalam tindakan keberagamaannya. Pemilihan NU sebagai tempat untuk pengabdian tentu didasari oleh pertimbangan yang mendalam dan sekurang-kurangnya terdapat kesamaan paham keagamaan. Paham  keagamaan istrinya yang bercorak NU ternyata menjadi basis bagi perubahan suaminya, Hanan Attaqi.

  

Ketiga, perubahan paham keagamaan tentu bukan hal yang mudah. Agama merupakan dunia keyakinan, sehingga tentu akan mengalami kesulitan untuk berubah dengan cepat. Di dalam konteks ini perubahan paham keagamaan tentu memerlukan waktu terutama dalam kaitannya dengan faham teologis, ritual dan bahkan ekspresi keagamaannya. Perubahan ekspresi keagamaan tentu tidak terlalu sulit, sebab sebatas sebagai chasing. Orang bisa saja berubah gaya pakaiannya atau tampilan fisiknya. Jenggot bisa dicukur, atau pakaian bisa diubah dengan gaya yang baru. Akan tetapi untuk paham keagamaan dan ritual keagamaan tentu bisa mengalami kesulitan. Itulah sebabnya pengaruh paham keagamaan istrinya menjadi salah satu pintu masuk ke dalam NU.

  

Berdasarkan analisis factor eksternal sebagaimana saya ungkapkan, maka bisa dipahami mengapa Hanan Attaqi menjatuhkan pilihannya pada paham keagamaan NU dan bertindak sebagaimana keluarga besar NU. Manusia memang bisa berubah. Oleh karena itu jika ada orang yang masih berpandangan bahwa seseorang adalah anak ideologis masa lalunya, maka masuknya Hanan Attaqi memberikan bukti bahwa seseorang bisa berubah dan perubahan tersebut bisa difasilitasi oleh factor eksternal.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.