Hari Santri Nasional, Jadi Santri Jadi Warga Negara yang Bijak
OpiniHari Santri Nasional itu identik dengan hari sarungan nasional. Hal ini diindikatori dengan penggunaan pakaian sarung untuk berbagai aktivitas, misalnya upacara hari santri yang menggunakan sarung sebagai out word appearance-nya. Maka bersarung itu identik dengan bersantri.
Pakaian sarung merupakan tradisi di dalam budaya Melayu, baik di Malaysia maupun di Indonesia. Rumpun bangsa Melayu ditandai dengan penggunaan sarung dalam berpakaian meskipun terdapat variasi di dalamnya. Tidak hanya untuk ritual keagamaan, tetapi juga untuk upacara liminal kebangsaan.
Santri merupakan satu konsep yang sudah menjadi bagian dari penggolongan sosial keagamaan di Indonesia. Kaum santri meminjam konsepsi Clifford Geertz adalah sekelompok orang yang taat beragama dengan tradisi yang berbeda dengan para priyayi dan kaum abangan.
Meskipun di Indonesia sudah nyaris tidak didapati perbedaan sosio-kultural seperti ini, sebab abangan sudah menjadi istilah yang nyaris tidak digunakan lagi, sementara priyayi sudah juga berubah performance-nya, namun dapat dilihat bahwa istilah santri tetap lestari. Hal ini tentu sebagai akibat semakin banyaknya kaum Abangan yang kemudian berkonversi menjadi santri, dan para priyayi yang juga menjadi santri. Sebagai akibat selanjutnya adalah semakin kokohnya konsepsi santri, baik sebagai kategori sosial keagamaan maupun kategori sosial budaya.
Santri merupakan kategori di dalam masyarakat Indonesia yang secara khas memiliki substansi yang lebih luas, sebab santri bukan hanya konsepsi santri secara khusus yang memiliki dan pernah belajar di pesantren, tetapi juga priyayi santri atau kaum professional santri dan pengusaha santri yang mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh.
Kaum santri memang sudah mengalami derivasi makna. Artinya, bahwa konsep santri telah mengalami perluasan seirama dengan kenyataan sosial semakin banyaknya cakupan istilah santri untuk mewadahi berbagai segmen masyarakat yang berada di dalamnya. Kata santri menjadi konsep generic yang mewadahi dan dipadukan dengan konsep-konsep yang dapat menampungnya. Banyaknya santri yang bergerak di sector usaha, kaum professional dan birokrat maka kemudian kata santri menjadi idiom yang sungguh luas. Jadi santri bukan hanya yang belajar di pesantren, akan tetapi untuk menjelaskan satu sistem sosial budaya religius yang terdapat di dalam masyarakat Indonesia.
Posisi santri sebagai satu segmen sosial budaya menjadi semakin kuat dengan kehadiran hari santri yang diperingati pada tanggal 22 oktober, yang dikaitkan dengan peristiwa Resolusi Jihad yang dilakukan oleh para kyai di dalam perjuangan memperebutkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Resolusi jihad yang didesain oleh Hadratusy Syekh KH. Hasyim Asy’ari ini menginspirasi tindakan untuk membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dari serangan para penjajah, Belanda dan sekutunya. Keinginan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia setelah Jepang menyerah tersebut kemudian memicu masyarakat Indonesia khususnya para santri untuk angkat senjata melawan para penjajah. Dengan demikian, momentum Resolusi Jihad bukan hanya fenomena keagamaan tetapi juga politik, yaitu politik kebangsaan untuk memerdekakan bangsa Indonesia.
Resolusi Jihad merupakan momentum bangkitnya nasionalisme keindonesiaan. Yaitu dengan melakukan perlawanan terhadap penjajah atau dukungan masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang sudah diraih dengan susah payah tanggal 17 Agustus 1945.
Di dalam konteks ini, maka memperingati Hari Santri Nasional yang secara momentum terkait dengan Resolusi Jihad berarti bermakna bahwa para santri haruslah menempatkan politik kebangsaan sebagai bagian tidak terpisahkan dari tindakan para santri di dalam mengarungi kehidupan. Bukan politik praktis, akan tetapi politik kebangsaan. Yang bermakna bagaimana para santri memiliki pemahaman dan perilaku yang relevan dengan tujuan mendirikan bangsa dan arah perjuangan bangsa, yaitu mencapai kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut serta membangun perdamaian dunia. Untuk mencapai visi dan misi ini, maka para santri harus terlibat di dalam berbagai upaya untuk program pencapaian kesejahtaraan bangsa, berusaha untuk mendidik bangsa ini agar menjadi cerdas, dan terlibat di dalam proyek perdamaian dunia.
Untuk dapat melakukan hal di atas, maka prasyarat yang penting adalah bahwa negara ini harus jelas berdasarkan prinsip dasar berbangsa dan bernegara, yaitu memperjuangkan empat consensus kebangsaan, yaitu memertahankan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan kebinekaan. Jadi bukan ingin mengganti empat consensus kebangsaan tersebut dengan yang lain, apalagi belum teruji kekuatannya untuk menyangga kehidupan yang multikutural. Ideologi itu tentu bermuatan keyakinan tentang visi kebaikan, akan tetapi hal itu saja tidak cukup sebab harus relevan dengan keadaan sosial, budaya, keagamaan, keamanan dan politik.
Jadi, ideologi tersebut haruslah sudah teruji bisa menjadi common platform yang bisa menjadi payung kehidupan bagi semua dan bukan untuk segolongan orang tertentu.
Para santri telah menjadikan resolusi jihad sebagai fundamen dasar di dalam merajut kehidupannya, artinya bahwa yang dikedepankan adalah politik kebangsaan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, menjadi santri artinya menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang terikat secara fisik dan batinnya untuk Indonesia yang penuh dengan keberadaban, kesejahteraan dan kemartabatan. Selamat memperingati Hari Santri Nasional.
Wallahu a’lam bi al shawab.
*Penulis Merupakan Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya

