(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Islamophobia di Masa Depan

Riset Sosial

Tulisan berjudul “The Project of Islamophobia” merupakan karya Mualimul Huda. Karya ini terbit di “QIJIS”: Qudus International Journal of Islamic Studies tahun 2015. Artikel ini menunjukkan bahwa perang global semacam teror dan kebijakan dalam pencegahan justru mengarah pada perlembagaan Islamophobia. Hal ini bisa dianggap sebagai proyek teror dan kontra teror sebagai wacana Islamophobia. Islamophobia sengaja diciptakan guna menggambarkan rasisme muslim dan intoleransi keyakinan agama dan budaya. Di dalam review ini akan dijelaskan empat bab. Pertama, 9/11 dan terorisme. Kedua, melawan teror dan pemberontakan. Ketiga, konsep terorisme. Keempat, Islamophobia di masa depan. 

  

9/11 dan Terorisme

  

Sejak awalnya, Huda menggiring pembaca untuk memahami permasalahan yang ia angkat melalui penjelasan akibat dari peristiwa 9/11. Ia menjelaskan bahwa momentum bahwa Islam dipandang sebagai penyebab adanya radikalisme, ekstremisme dan terorisme. Pasca peristiwa ini, banyak sekali lembaga survei yang melakukan penelitian mengenai bagaimana perubahan pandangan mereka terhadap umat Islam. Huda menunjukkan salah satu laporan dari USA Today Gallup pada tahun 2006 yang menyatakan bahwa, 22% responden menyatakan tidak ingin memiliki tetangga orang Islam. Artinya, empat dari sepuluh orang Amerika menganggap muslim sebagai ancaman, sehingga membutuhkan keamanan yang lebih dibandingkan yang lain. 

  

Huda juga memaparkan fakta bahwa tahun 2014 hingga 2015 adalah puncak bahwa terorisme menjadi fokus utama pemerintahan dunia. Ia mengambil contoh bagaimana pada tahun 2014, Inggris pemerintahan Inggris melarang penayangan isu radikalisasi dan ekstremisme media. Pada tahun 2015, Pemerintah Inggris melakukan revisi kebijakan pencegahan kekerasan dan ekstremisme melalui Undang-Undang Keamanan 2015. 

  

Lebih lanjut Huda mengutip asumsi dari James Der Derian dalam tulisannya berjudul “Virtuous War: Mapping the Military-Industrial-Media-Entertainment” bahwa, sebenarnya peristiwa 9/11 bukan hal yang baru. Peristiwa 9/11 adalah kombinasi bentuk konflik lama dan baru yang sering kali disebut dengan “Retorika Perang Suci”. Artinya, perang jaringan virtual di media sekaligus pengawasan teknologi dunia. Bahkan, peristiwa 9/11 telah membentuk jaringan baru antara militer, industri dan media. 

  

Melawan Teror dan Pemberontakan

  

Di dalam tulisannya, Huda menjelaskan bahwa ketakutan, kebencian, dan permusuhan biasanya diungkapkan kepada para muslim melalui beberapa cara. Pertama, gambar dan referensi negatif atau merendahkan di media. Kedua, serangan, pelecehan dan kekerasan di jalanan. Ketiga, penyerangan di tempat umum, misalnya masjid dan pemakaman. Keempat, diskriminasi dalam pekerjaan. Kelima, kurangnya pengakuan dan penghormatan terhadap umat Islam.

  

Pasca 9/11, hal yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk membedakan antara Islam dan ekstremisme. Huda meminjam asumsi dari Runnymede Trust Commission on British Muslims and Islamophobia bahwa ada delapan perbedaan pandangan mengenai Islam. Pertama, apakah Islam dipandang sebagai monolitik dan statis atau beragam dan dinamis. Kedua, apakah Islam dipandang sebagai yang lain dan terpisah atau serupa dan saling bergantung. Ketiga, apakah Islam dipandang lebih rendah atau berbeda tapi setara. Keempat, apakah Islam dipandang sebagai musuh yang agresif atau mitra kerjasama. Kelima, apakah muslim dipandang manipulatif atau tulus. Keenam, apakah kritik muslim terhadap barat ditolak atau diperbedatkan. Ketujuh, apakah perilaku diskriminatif terhadap umat Islam itu membela lawan. Kedelapan, apakah wacana anti-muslim dipandang wajar atau sebagai masalah. 


Baca Juga : NU, Forum R20 dan Dialog Isu Global

  

Konsep Terorisme

  

Setelah menuliskan berbagai penjelasan mengenai alur bagaimana islamophobia yang terkait dengan terorisme dan ekstremisme terjadi. Pada sub bab akhir, Huda baru menjelaskan mengenai konsep terorisme dari beberapa tokoh. Pertama, Arun Kundnani dalam bukunya yang berjudul “A Decade Lost: Rethinking Radicalization and Extremism” menjelaskan bahwa, terorisme merupakan kekerasan terhadap warga sipil untuk tujuan mempublikasikan tujuan politik. Hal yang perlu dicatat adalah istilah terorisme cenderung digunakan tidak konsisten dan selektif. Kedua, Chomsky dalam tulisannya berjudul “Who are the Global Terrorists?” menyatakan bahwa terorisme merupakan penggunaan kekerasan yang diperhitungkan. Ancaman kekerasan dilakukan guna mencapai tujuan yang bersifat agama, politik, bahkan ideologis.   

  

Huda secara gamblang juga menegaskan bahwa 9/11 telah menjadi “simbol” bagi sejarah Amerika. Artinya peristiwa tersebut telah melampaui lokalitas maupun global. Peristiwa tersebut sama halnya dengan peristiwa Perang Dingin. Saat itu dunia harus “dipaksa” untuk memilih dua kekuatan. “Anda bersama kami, atau melawan kami”. Dunia harus memilih blok Barat atau Timur. Bagi Huda, peristiwa 9/11 akan menjadikan tatanan arus dunia semakin kompleks. Sistem internasional dan global politik akan “dipermainkan” guna meningkatkan legitimasi kekuatan Amerika Serikat. Huda mengafirmasi pendapat dari Hutington bahwa, telah muncul pemberontakan antara barat dan peradaban Islam. Meskipun, Huda beranggapan bahwa Huntington terlihat lebih mengarah pada faktor budaya dalam memahami tatanan global baru dan pandangan Islam yang dianggap monolitik.

  

Islamophobia di Masa Depan

  

Jika ditelisik dari Sejarah dan bukti yang di dapatkan oleh Huda, pada pembahasan ini ia jelas menyatakan bahwa Amerika Serikat akan tetap menjadi negara super power yang akan memerintah dunia dengan kekerasan. Propaganda adalah salah satu strategi yang dilakukan guna mendapatkan goals atau tujuan negaranya. Islamophobia merupakan salah satu propaganda yang diciptakan. Propaganda yang sangat spektakuler pernah dilakukan oleh Amerika adalah tuduhan bahwa Saddam Hussein terlibat dalam peristiwa 9/11. Amerika berhasil membentuk stereotip masyarakat bahwa Saddam Hussein adalah ancaman bagi dunia, terutama orang Amerika Serikat. 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar tulisan Huda menjelaskan bagaimana Islamophobia yang direpresentasikan melalui terorisme dan ekstremisme. Ia sudah menggiring pikiran pembaca dengan kronologi kejadian 9/11 yang dianggap sebagai titik balik terorisme di dunia. Lebih lanjut ia mengumpulkan data dari sejarah dan berbagai referensi yang selanjutnya ia analisa dengan beberapa konsep yang ia gunakan. Ia juga berhasil mendialogkan antara realitas dengan konsep. Namun, judul yang ia angkat mengenai proyek Islamophobia, tidak \"clear\" hasilnya. Ia tidak menjelaskan proyek Islamophobia seperti apa di masa yang akan datang, atau perubahan apa yang terjadi dengan isu tersebut. Ia justru menjelaskan bagaimana Islamophobia dijadikan sebagai propaganda, namun dengan studi kasus yang telah lampau.