(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Human Capital dan Indonesia Masa Depan: IAIN Palangkaraya di Era Perubahan

Opini

Sebagai negara berkembang, maka tantangan kita sangat banyak. Di antaranya adalah SDM berkualitas, Pendidikan berkualitas, IPTEK berkualitas, Tata kelola yang baik, Pengelolaan SDA berkelanjutan, Kesiapan infrastruktur, Efisiensi Kementerian, Tata ruang wilayah, dan Konektivitas daerah. Adapun yang menjadi tugas, pokok dan fungsi Kemenag, yaitu: SDM berkualitas, Pendidikan berkualitas, IPTEK berkualitas, Tata kelola yang baik.

  

Pernyataan di atas menjadi kata kunci di dalam ceramah saya di depan Rektor, pejabat, dosen dan mahasiswa IAIN Palangkaraya dalam acara Stadium General di Auditorium IAIN Palangkaraya yang sedang berupaya menjadi UIN Palangkaraya. Acara ini diselenggarakan pada Hari Jum’at,  05/09/2023. Saya hadir di kota ini saat empat hari berkabut. Tetapi berkat rahmat Allah, pesawat Lions dari Surabaya mendarat dengan aman di Palangkaraya. Kata Pak Rektor, Prof. Dr. Ahmad Dakhoir, bahwa sempat dua kali pesawat Lions mengitari wilayah kota Palangkaraya. 

  

Tentang kualitas pendidikan Indonesia memang masih rendah. Menurut World Population Review, tahun 2021, Indonesia berada pada peringkat 54 dari 78 negara yang disurvey. Bandingkan Singapura di posisi 21. Malaysia peringkat 38. Thailand peringkat 46. Ada gap antara wilayah atau antar provinsi dan kabupaten tentang kualitas pendidikan. Di Indonesia bagian barat diindikasikan sudah maju sementara di Indonesia Timur masih rendah. Mengelola pendidikan di Indonesia memerlukan kebijakan ekstra terkait dengan keberpihakanpada anggaran, SDM dan infrstruktur terkait.

  

Untuk mengukur  IPM, di bidang kesehatan melalui  lama harapan hidup (logetivity), bidang pendidikan meliputi pengetahuan (knowledge), dan bidang ekonomi meliputi  standart hidup layak (decent living). Peringkat SDM Indonesia berada pada peringkat 53. Msih rendah dibandingkan dengan Singapura peringkat 3, Malaysia peringkat 22, Korea Selatan 23, China 43 dan Thailand peringkat 44. Pilipina peringkat 66. Peringkat ini memberikan gambaran bahwa ada korelasi antara kualitas SDM dengan kualitas pendidikan. Proposisinya  “semakin baik kualitas pendidikan, yang ditopang dengan kesejahteraan ekonomi dan kesehatan, maka akan mendorong semakin tingginya kualitas SDM.”

  

Pendidikan harus selaras dengan Human capital yang merupakan  kemampuan menghadapi berbagai tantangan di dalam kehidupan, baik ekonomi, sosial, politik, budaya dan agama. Diperlukan bekal untuk menghadapi tantangan yang kompleks dimaksud. Pada era yang akan datang, maka tuntutannya adalah  untuk menguasai teknologi informasi. Keberhasilan mempersiapkan generasi sekarang melalui pendidikan yang tepat akan sangat membantu untuk menghadapi   Satu Abad Indonesia, 2045. Kita memiliki bonus demografi. Semakin besar jumlah populasi Indonesia yang berusia produktif, dan sedikit yang usia tua dan kanak-kanak. Beban secara ekonomi negara menjadi ringan. Negara tidak perlu memberikan santunan dan jaminan hari tua justru pada saat terjadi bonus demografi.

  

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2045 diperkirakan sebesar 324 Jiwa. Jumlah penduduk Indonesia usia produktif sebesar 70% (usia 15-64 tahun). Usia non produktif sebesar 30% (di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun). Dengan jumlah penduduk produktif mencapai angka 70%, maka ketergantungan warga negara terhadap skema-skema bantuan dan insentif dari pemerintah menjadi sangat minim. Jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia sebesar 82%. Artinya bahwa penduduk Indonesia sudah memasuki tingkat kesejahteraan yang lebih baik. 

  

Masyarakat Kalimantan Tengah tentu beruntung. IPM Kalteng   pada tahun 2022 sebesar 77,44. Harapan hidup 71,85 tahun. Pendidikan (lama sekolah) 13,84 tahun untuk usia 7 tahun. Pendidikan (lama sekolah) 25 tahun ke atas 9,92 tahun. Pengeluaran perkapita sebesar 12,64 juta.  IPM Kalteng yang tertinggi di Kalimantan. IPM-nya menduduki peringkat 3 setelah Jakarta dan Yogyakarta. 

  

Untuk menyongsong era yang akan datang, PTKIN harus menyiapkan generasi muda dengan kapasitas yang memadai, yaitu kemampuan spiritual, kemampuan berkompetensi, kemampuan berpikir kritis dan solutif, kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Melalui lima kapasitas ini, maka ke depan akan bisa didapatkan generasi muda yang andal dan kompetitif.  Core bisnis PTKIN adalah ilmu keislaman, namun bisa memperoleh mandat untuk mengembangkan ilmu-ilmu yang mendukung terhadap pengembangan ilmu keislaman. STAIN mengembangkan ilmu keislaman: pure and applied sciences. IAIN mengembangkan ilmu keislaman integratif melalui pendekatan ilmu sosial dan humaniora. UIN mengembangkan ilmu keislaman integrarif secara utuh melalui  ilmu sosial, humaniora serta sains dan teknologi dan ilmu terapan.

  

Sasaran kajian UIN akan menjadi lebih luas, misalnya  misalnya masalah keagamaan, masalah sosial dan humaniora, masalah sains dan teknolgi dan juga keahlian vokasional. UIN dapat terlibat di dalam 17 sasaran pembangunan berkelanjutan, meskipun dalam lingkup yang masih terbatas. Untuk itu, maka harus diperkuat dengan kemampuan digital agar bisa bersaing di era yang akan datang.

  

Yang belajar di UIN adalah para santri, kaum kelas menengah ke bawah dan kelompok kelas menengah baru yang menggilai ilmu keislaman. Peluang semakin menguatnya kelas menengah baru, sesuai dengan perkiraan Mc Kinsey sebesar 102 juta tahun 2035 harus ditangkap oleh UIN. IAIN Palangkaraya harus segera bertransformasi menjadi UIN untuk persiapan menjemput tahun Indonesia Emas, 2045. 

  

Suatu pernyataan Mohammad Iqbal: “kita tidak boleh berhenti di jalan ini, siapa yang berhenti pasti akan tergilas.” Jika IAIN Palangkaraya ingin meraih prestasi di masa depan terkait dengan Kalimantan Tengah dan Timur menjadi pemerintahan di masa depan, maka momentum menjadi UIN tidak boleh dianggap sebelah mata. Sekali lagi pilihannya hanyalah jadilah UIN.

  

Wallahu a’lam bi al shawab