Islam, Perempuan dan Feminisme: Hari Ibu 2023
OpiniKita baru saja memperingati hari Ibu, 22/12/2023. Hari ibu diperingati oleh masyarakat sebagai bukti atas betapa mulianya kedudukan ibu di dalam struktur sosial masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Peringatan hari ibu ditandai dengan berbagai kegiatan yang menggambarkan peran ibu di dalam rumah tangga, misalnya acara lomba tumpeng, lomba rias, lomba pakaian adat dan sebagainya. Semuanya menggambarkan tentang peran ibu dalam ruang domestik.
Di masa lalu, perempuan memang berada di ruang domestik, artinya area peran tersebut berada di dalam rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga merupakan kewajiban seorang perempuan. Pada Bahasa Jawa dikenal istilah tugas perempuan adalah masak, macak lan manak atau memasak, bersolek dan melahirkan. Tidak lebih. Perempuan juga disebut sebagai konco wingking atau teman di belakang (baca rumah). Perempuan di dalam banyak hal tugasnya adalah untuk berada di dalam rumah. Berbeda dengan kaum lelaki yang tugasnya memang berada di luar rumah atau ruang public\\k. Jadi sahlah sebagai perempuan jika sudah melaksanakan tugas-tugas keperempuanan, yaitu mengurus urusan rumah tangga di ruang domestik.
Islam memang sangat memuliakan perempuan. Islam begitu mengagungkan perempuan. Lewat perempuanlah generasi berikut akan hadir ke dunia dan menyambung sejarah kehidupan manusia.Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW dinyatakan bahwa yang dimuliakan di dalam kehidupan itu adalah perempuan, bahkan disebutnya sebanyak tiga kali dan barulah bapak sebanyak satu kali. Artinya bahwa perempuan haruslah dihormati dengan sungguh-sungguh tetapi tidak harus dibandingkan dengan penghormatan terhadap bapak. Keduanya berhak untuk dihormati sebagaimana ungkapan Nabi Muhammad SAW bahwa manusia harus birrul walidain atau menghormati kedua orang tuanya. Makna tiga kali dalam ungkapan Nabi itu sebagai penanda betapa pentingnya perempuan dalam struktur keluarga dan masyarakat.
Islam memang menata urutan nasab atau keturunan itu berdasarkan atas lelaki. Maka sambungan nasab itu diatasnamakan bapak bukan ibu. Konsep ini disebut sebagai patriarkalisme. Suatu pandangan bahwa urutan nasab dikaitkan dengan lelaki dan memiliki implikasi yang sangat luas, misalnya lelaki mendapatkan warisan lebih banyak dibanding perempuan, lelaki bisa menjadi imam salat atau imam dalam rumah tangga dan yang penting juga lelakilah yang dapat menikahkan putrinya. Pada konteks ini tampak dominan tradisi Arab yang patriarkal. Serba lelaki.
Tetapi sesungguhnya Islam memberi peluang bagi perempuan untuk berkarya lebih luas, misalnya Khadijah binti Khuwailid yang kemudian menjadi istri Rasulullah adalah seorang pedagang kaya dan memiliki kekayaan tanah dua pertiga di Mekah dan seorang perempuan yang memiliki talenta di dalam berusaha. Selain itu juga ada nama Ummu Syuraik, Fathimah binti Abdurahman, Fathimah binti Muhammad, Fathimah binti Al Hasan. Mereka adalah perempuan tokoh di zaman tersebut.
Bahkan ada perempuan yang diperkenankan untuk berperang dan menjadi wanita yang berperang di medan laga, yaitu Arwa binti Abdul Mutholib, Gazalah al Haruriyah, Hindun Binti Utbah bin Rabiah, Juwariyah binti Abu Sofyan, Khaulah binti Azwar Al Asadi, Laila al Gifariah, dan lain-lain. Memahami hal ini, maka betapa pada zaman Nabi sudah terdapat perempuan yang berada di ruang publik, bahkan dalam nuansa peperangan. Jadi, merupakan sebuah kesalahan jika ada orang yang menyatakan bahwa Islam tidak memberikan peluang perempuan untuk berada di ruang publik.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada masyarakat dan negara yang belum memberikan posisi perempuan untuk eksis di dunia public. Ada yang di dalam konsepsi kaum feminis menyatakan masih terjadi gender inequality, gender oppression and gender differentiation. Pada era modern pun masih didapati berlangsungnya ketiga konsep ini, misalnya di Afghanistan. Bahkan perempuan untuk sekolah saja masih dilarang. Kaum Taliban sungguh masih sangat keras terhadap kaum perempuan.
Stereotipe perempuan sebagai pekerja rumahan pun masih terdapat di sekeliling kita. Perempuan itu tugasnya adalah mengasuh anak dan itu artinya harus berada di rumah. Berbasis atas realitas tersebut, maka perempuan lalu menggerakkan feminisme, artinya bahwa lelaki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama, memiliki peluang dan tantangan yang sama dan juga memiliki potensi dan aktualisasi potensi yang sama dengan lelaki. Gerakan feminisme pertama kali berkembang di Inggris pada pertengahan abad ke 16. Gerakan feminism kemudian juga berkembang di Nusantara dengan munculnya tokoh R.A. Kartini pada akhir abad ke 18, lalu Dewi Sartika (pendiri sekolah perempuan), Raden Siti Jenab (pendiri Lembaga pendidikan), Nyi Raden Rachmatulhadiah (perempuan anggota kongres Pemuda Indonesia) dan lain-lain.
Perempuan sekarang sudah dapat bekerja di ruang publik. Di Indonesia perempuan sudah dapat menjadi apa saja yang dikehendakinya. Nyaris tidak ada larangan perempuan untuk bekerja di ruang public yang memiliki status dan fungsi yang sama dengan lelaki. Perempuan di Indonesia cukuplah berbangga sebab sudah tidak ada halangan berkarir di mana saja. Di parlemen, di eksekutif, di partai politik, di bidang ekonomi dan pertahanan dan lembaga pendidikan perempuan sudah memiliki peluang yang sama. Ada yang menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati, anggota DPR, DPRD, pimpinan perusahaan, pimpinan ASN dan sebagainya. Memang secara proporsisional belum “setara” dalam jumlah dengan lelaki namun peluang untuk maju dan berprestasi sudah terdapat peluang di dalamnya.
Di tengah peringatan Hari Ibu, 22/12/2023, yang terpenting adalah melakukan renungan secara mendalam tentang peran dan fungsi Ibu, yang meskipun sudah menjadi pekerja di ruang publik tetapi pekerjaan domestik ternyata tetap menjadi fungsi utamanya. Jadi memang terdapat perbedaan antara lelaki dan perempuan secara natural, akan tetapi secara nurtural tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. Masyarakat sudah sangat sadar bahwa lelaki dan perempuan bukan untuk dibedakan akan tetapi untuk saling bekerja sama.
Selamat Hari Ibu. Jasamu bagi anak bangsa tidak akan terlupakan sepanjang pengalaman sejarah kemanusiaan. Benar pernyataan Nabi Muhammad SAW, bahwa surga berada di telapak kaki Ibu. Betapa mulianya perempuan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

