Jadilah Ilmuwan yang Berkesungguhan, Tawadlu dan Berjejaring: UIN STS Jambi
OpiniSalah satu kekhasan dari Program Doktor Universitas Islam Sultan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi adalah memberikan peluang para senior untuk memberikan ucapan selamat dan nasehat akademik dalam ujian disertasi yang diselenggarakannya. Di beberapa PTKIN dan PTKIS selalu yang memberikan nasehat akademis menyambut kesuksesan mahasiswanya untuk mencapai gelar doctor, gelar tertinggi di dalam dunia akademis adalah promotor atau copromotor.
Saya salah seorang yang diberikan kesempatan untuk memberikan nasehat akademis dalam acara-acara ujian doctor di perguruan tinggi ini. Kelihatannya peluang untuk memberi ucapan selamat dan nasehat akademis tersebut adalah professor yang senior. Misalnya Prof. Muchtar, Prof. Kasful Anwar, dan Prof. Muntalib. Di tempat lain selalu promotor yang diberikan kesempatan untuk menyampaikan ucapan selamat dan nasehat akademis kepada bimbingannya.
Pada ujian atas nama promovendus, Pebi Julianto, mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam, yang mengabdi pada IAIN Kerinci, saya diberi kesempatan untuk memberikan ucapan selamat dan nasehat akademik. Disertasi yang dipertahankannya berjudul: “Pengaruh Karakteristik Dosen, Sistem Penghargaan Dosen dan Komitmen Dosen terhadap Kesejahteraan Dosen Perguruan Tinggi Swasta di Provinsi Jambi”. Sebagai penguji adalah Prof. Dr. Hadri Hasan, Prof. Dr. Nur Syam, Dr. Pahmi, Prof. Dr. Samsu, Dr. Mahmud, Dr. Jaya, Prof. Dr. Risnita dan Dr. Abdul Halim. Ujian diselenggarakan pada 03/11/2025. Sebagai penelitian kuantitatif yang theory testing, maka teori yang diuji, yaitu Grand Theory Harvard Human Resources Management.
Sebagai penguji yang dipercaya untuk memberikan nasehat akademik dan ucapan selamat, maka saya sampaikan tiga hal mendasar, yaitu: Pertama, perlu kesungguhan. Untuk menjadi doctor, maka diperlukan keseriusan. Saya memberikan gambaran kesungguhan tersebut kepada salah satu wisudawan terbaik di Universitas Gajah Mada, seorang peserta program doctor dengan keistimewaan yang luar biasa, sesuatu yang rasanya tidak mungkin tetapi mungkian dilakukan, yaitu Dr. Dewi Agustiningsih. Dia adalah orang yang khusus, sebab dapat meraih doctor tanpa melalui terminal program strata dua. Lompat. Dari program strata satu langsung ke program doctor. Melalui skema khusus beasiswa dari Kementerian Pendidikan Tinggi, maka Dewi mendapat privelegde untuk melakukan lompatan dimaksud. Dan juga yang membanggakan adalah indeks nilai kumulatifnya yang bulat dengan angka 4. Angka keramat di dalam dunia pendidikan tinggi. Oleh karena itu, peringkat yudisiumnya adalah cumlaude atau dengan pujian atau disebut sebagai Mumtaz. Ada banyak orang yang berhasil mencapai derajat cumlaude tetapi tidak dengan angka kumulatif 4 tersebut.
Dewi adalah prototipe generasi muda Indonesia yang sangat luar biasa, kerja keras yang luar biasa dan hasil yang sangat luar biasa. Jika dibandingkan mereka yang mengambil program doctor yang sudah bertitle Magister dengan Dewi, maka tentu berbeda kerja kerasnya. Jika diangkakan, maka yang telah master cukup belajar empat jam sehari, maka Dewi tentu memerlukan waktu delapan jam. Dua kali lipat. Berkat kerja kerasnya itu, maka program doctor yang secara normal ditempuh dalam empat tahun atau delapan semester, maka Dewi hanya membutuhkan waktu selama dua tahun, enam bulan pada usia 26 tahun dalam program Studi Ilmu Kimia. Inilah makna kesungguhan. Man jadda wajadd. Siapa yang yang bersungguh-sungguh pasti dapat. Jika dikaitkan dengan konsep ijtihad atau ranah berpikir, maka akan didapatkan haqqa jihadihi. Dari ijtihad ke haqqa jihadih.
Kedua, mengedepankan rasa hormat atau tawadlu. Tidak ada orang yang sukses dengan sendirinya. Setiap kesuksesan pasti bersama orang lain. Di dalam belajar, maka yang mendasar adalah bagaimana peran guru atau dosen. Tidak ada seseorang yang sukses di dalam pembelajaran tanpa guru atau dosen. Suatu ilmu bisa didapatkan karena adanya guru atau dosen. Makanya, Sayyidina Ali Radhiyallahu Anhu pernah menyatakan bahwa: “dirinya akan mengabdi kepada orang yang mengajarinya walaupun mengajarkan ilmu dalam satu huruf.”
Status dan kedudukan guru atau dosen tentu sangat tinggi dalam dunia ilmu pengetahuan. Meskipun dunia pengetahuan sekarang sudah dikuasai oleh artificial intelligent (AI), tetapi AI tetaplah mesin yang tidak memiliki apapun kecuali pengetahuan tersebut. Berbeda dengan guru atau dosen yang memiliki kecerdasan lengkap mulai dari kesadaran rasional, emosional, social dan spiritual. Makanya, kehadiran guru atau dosen di dalam dinamika ilmu pengetahuan tidak akan tergantikan. Semua dosen di PPs UIN STS Jambi, dan siapapun yang terlibat di dalam proses pembelajaran adalah washilah dalam kepemilikan ilmu dimaksud.
Ketiga, jaringan yang kuat. Agar kita dapat mengembangkan ilmu baik secara teoretik maupun aplikatif, sesungguhnya kita memerlukan jejaring. Dunia itu dibangun di atas jejaring. Siapa yang memiliki jaringan yang luas, maka dialah yang bisa membangun dunia. Oleh karena itu, manfaatkan jejaring tersebut untuk kepentingan pengembangan kapasitas diri maupun kehidupan yang lebih luas.
Bagi doctor yang mengabdi di dalam dunia akademik, maka yang diperlukan adalah bagaimana mengajarkan teori dan praktik kajian atau penelitian yang dipentingkan, dan kemudian bagaimana hasil pendidikan dan pengajaran tersebut dapat diteliti dan kemudian bisa diabdikan untuk pengembangan masyarakat. Janganlah hasil penelitian, terutama ilmu yang aplikatif, lalu tidak dilanjutkan untuk menjadi modul atau bahan pendidikan dan pelatihan yang dipertuntukan bagi masyarakat.
Perguruan tinggi dapat menjadi institusi pendidikan berdampak, jika para civitas akademikanya terlibat serta menjadi agen-agen perubahan social yang berbasis pada nilai-nilai agama yang fungsional.
Wallahu a’lam bi al shawab.

